Saya mendapatkan cerita ini dari internet. Katanya kisah ini dari sebuah Universitas di Jakarta tentang seorang gadis yang baru meninggal bulan lalu. Namanya Samara. Dia meninggal karena tertabrak truk. Samara punya seorang pacar namanya Ari. Keduanya saling menyayangi. Mereka selalu berteleponan. Kamu tidak akan pernah melihat Samara tanpa handphone nya. Sampai-sampai dia mengganti kartu XL-nya ke Simpati, agar mereka berdua berada di network yang sama dan mengirit pulsa serta selalu dapat signal yang kuat. Sebelum dia meninggal dia pernah beberapa kali berkata pada teman-temannya, ”Kalo gua meninggal tolong kuburkan gua sama handphone gua ya!” Dia juga sering mengatakan hal yang sama kepada orangtuanya.
Pada saat Samara meninggal tidak ada yang dapat mengangkat peti matinya. Banyak orang yang mencoba tapi tetap tidak bisa. Akhirnya mereka memanggil 'orang pintar'. Setelah beberapa menit melakukan ritualnya, orang pintar itu berkata, “Gadis ini kehilangan sesuatu disini.” Lalu teman-teman Samara berkata kepada orang pintar itu tentang keinginannya untuk dikubur dengan hapenya. Kemudian mereka membuka kembali peti matinya dan menaruh handphone yang masih ada sim-cardnya disitu. Setelah itu peti mati dapat diangkat dan dipindahkan ke mobil jenazah dengan mudah.
Keluarga Samara belum memberitahukan tentang kematian Samara kepada Ari. Setelah dua hari kematian Samara, Ari menelepon mama Samara dan berkata “Tante, saya akan pulang hari ini, tolong buatkan masakan yang enak untukku ya. Dan jangan katakan pada Samara bahwa aku akan datang, aku ingin membuat kejutan untuknya.” Mama Samara menjawab, “Datanglah dahulu, tante ingin memberi tahu sesuatu.” Setelah Ari datang, mereka memberitahukan tentang kematian Samara. Ari mengira mereka sedang bercanda, dia hanya tertawa dan berkata, “Jangan bercanda, bilang pada Samara untuk keluar, aku membawa sesuatu untuknya.” Akhirnya mereka membawa Ari ke kuburan Samara. Lalu Ari berkata, “Ini tidak mungkin. Kami baru ngobrol-ngobrol kemarin. Dia masih tetap menelepon.” Ari sangat terkejut. Tiba-tiba handphonenya berbunyi, “Lihat ini dari Samara, lihat ini...” Ari memperlihatkan hapenya ke keluarga Samara, dan mereka menyuruh Ari untuk menjawab. Ari menjawab telepon itu dengan memakai loudspeaker. Mereka semua mendengar pembicaraan itu dengan sangat jelas dan jernih, tidak ada gangguan apapun. Dan itu benar-benar suara Samara dan sangat tidak mungkin ada orang lain yang memakainya sebab sim-cardnya sudah dikubur bersamanya!
Mereka semua sangat terkejut dan memanggil 'orang pintar' untuk membantu mereka lagi. 'Orang pintar' itu membawa temannya untuk mencari jawaban atas keanehan ini, dan setelah bekerja selama lima jam, mereka menemukan jawabannya...
Simpati... memang jangkauan terluas dan kualitas terbaik!
Jika kamu merasa tertipu dengan ceritera ini, tenang saja, saya juga pernah mengalaminya! Jadi kita di dalam perahu yang sama. Tapi tujuan saya menceritakan lagi kisah ini bukanlah untuk mencari teman-teman yang sama-sama “dikerjain.” Kita masih di dalam suasana memperingati dan mendoakan sanak-keluarga kita yang sudah meninggal dunia. Di dalam Injil Matius 22:23-33, Yesus mempunyai ajaran yang cukup menarik tentang hidup kita nanti di surga. Waktu Dia ditanya orang-orang Saduki tentang bagaimana kelanjutan hidup seorang wanita yang pernah dinikahi tujuh pria yang bersaudara karena satu demi satu meninggal tanpa memberi keturunan, dan itu pun sesuai dengan perintah Musa, Yesus menjawab bahwa pertanyaan mereka itu konyol dan sungguh keliru. Kenapa? Sebab hidup di surga itu tidak bisa disamakan dengan hidup kita di dunia ini! Jawab Yesus kepada mereka: Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga.
Sebenarnya Yesus tidak mengatakan bahwa di dalam Kerajaan Allah nanti, orang tidak akan lagi mengenal pasangannya! Maksud-Nya adalah surga itu bukan sekedar kelanjutan kehidupan kita di dunia. Sekarang hubungan kita dengan satu sama lain itu dibatasi oleh waktu, hukum dan peraturan-peraturan manusiawi dan akhirnya kematian. Namun di dalam Kerajaan-Nya, tak ada batas lagi, dan hanya satu hal yang menjadi paling utama... Cinta. “Cinta abadi tak akan pernah mati,” kata sebuah lagu. Cinta sejati itulah yang menyempurnakan segalanya, baik hubungan orang-orang yang sudah menikmati hidup yang kekal maupun kita yang masih berziarah di dunia ini. Sesungguhnya Cinta sejati itulah yang membuat kita tetap bisa berhubungan dengan mereka yang sudah pergi duluan... dengan “signal” yang lebih baik daripada XL dan “jaringan” yang lebih luas daripada Simpati!
Friday, November 18, 2011
Tuesday, October 25, 2011
AWAS, IRI-HATI
Bayangkan di suatu gang ada deretan empat rumah. Salah satu rumah adalah milik kamu. Rumah kamu tersebut berharga 500 juta; rumah-rumah yang lain, yang satu berharga 250 juta, yang satu lagi 400 juta dan yang satu lagi 300 juta. Pada suatu hari ada seorang yang menelpon kamu dengan tawaran yang luarbiasa: dia berniat untuk membeli rumah kamu dengan harga 1M! Kamu tidak butuh waktu panjang untuk mengambil keputusan. Pada saat itu juga, kalian membuat “deal” dan transaksi ditutup. Kamu senang luarbiasa! Namun pada hari kemudian kamu mendengar suatu berita yang mengejutkan. Orang yang sama itu telah membeli juga tiga rumah tetangga kamu. Dan inilah yang menjengkelkan... dia telah membeli tiga rumah tersebut dengan harga yang sama, masing-masing 1M! Bagaimana perasaan kamu? Barangkali sama dengan apa yang dirasakan pekerja-pekerja di dalam perumpamaan Yesus di dalam Injil kita pada hari Minggu ini... “Ini tidak adil. Curang!” Padahal jika seandainya kamu coba menghubungi orang itu yang membeli rumah-rumah dan memprotes kepadanya, paling dia akan berkata kepada kamu: “Emangnya apa urusanmu?! Aku orang yang murah-hati dan aku ingin membayar 1M untuk tiap rumah itu!”
Satu sikap yang kita harus selalu waspadai adalah sikap iri-hati. Apalagi kalau kita merasa dirugikan karena kecurangan! Mungkin menurut kita, tingkah orang yang membeli rumah-rumah itu atau si pemilik kebun anggur sama sekali tidak adil. Tapi itu menurut kita. Bukan menurut pikiran Tuhan! Seperti yang kita dengar di dalam Bacaan Pertama: Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu (Yes 55:8-9). Jadi daripada ngiri, yang Tuhan ingin dari kita adalah mensyukuri segala pemberian-Nya. Jangan pusing mikirin tetangga kamu yang lebih kaya, atau teman kelas kamu yang lebih pinter, atau sahabat kamu yang lebih cantik, atau adik kamu yang lebih berbakat.... Lihatlah dirimu sendiri dan sadarilah bahwa Tuhan telah mengaruniakan kepada kamu sesuatu yang orang lain tidak punya. Kamu tidak rugi. Kamu tidak dicurangi. Bersyukurlah. Peliharalah dan kembangkanlah talenta yang telah kamu terima. Dan yang paling penting, pakailah semua karuniamu itu untuk menolong sesama.
Satu sikap yang kita harus selalu waspadai adalah sikap iri-hati. Apalagi kalau kita merasa dirugikan karena kecurangan! Mungkin menurut kita, tingkah orang yang membeli rumah-rumah itu atau si pemilik kebun anggur sama sekali tidak adil. Tapi itu menurut kita. Bukan menurut pikiran Tuhan! Seperti yang kita dengar di dalam Bacaan Pertama: Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu (Yes 55:8-9). Jadi daripada ngiri, yang Tuhan ingin dari kita adalah mensyukuri segala pemberian-Nya. Jangan pusing mikirin tetangga kamu yang lebih kaya, atau teman kelas kamu yang lebih pinter, atau sahabat kamu yang lebih cantik, atau adik kamu yang lebih berbakat.... Lihatlah dirimu sendiri dan sadarilah bahwa Tuhan telah mengaruniakan kepada kamu sesuatu yang orang lain tidak punya. Kamu tidak rugi. Kamu tidak dicurangi. Bersyukurlah. Peliharalah dan kembangkanlah talenta yang telah kamu terima. Dan yang paling penting, pakailah semua karuniamu itu untuk menolong sesama.
Sunday, October 23, 2011
KASIH YANG SATU DAN SAMA
Pemuda yang datang ke kantorku sopan dan berpakaian rapi. Aku pun menyambutnya dengan ramah dan setelah menyalaminya seperti halnya dengan tamu-tamu lain, kami mulai ngobrol-ngobrol. Dan pada saat itulah dia mengatakan sesuatu yang membuat aku seolah-olah kesetrum. “Pastur,” katanya, “aku baru saja dapat hasil tes darah dan saya ini terinfeksi virus HIV. Saya tidak sanggup berobat di Jakarta. Saya ingin pulang kembali saja ke kampung halaman saya. Paling tidak disana masih ada keluarga yang bisa memperhatikan saya apapun yang terjadi nanti. Hanya aku mau minta bantuan pastur untuk ongkos transportasi….” Aku tidak tunggu lagi untuk akhir pembicaraannya. Aku begitu ingin keluar pada saat itu juga untuk segera membasuh tanganku dengan sabun dan antiseptik! Sikapku yang ramah tadi sekejap berubah menjadi dingin… bahkan tidak sabar lagi melihat dia keluar… mengapa dia masih disini berdiri di depanku! Aku mengambil uang yang aku kira cukup untuk pulangnya dan aku memberikan kepadanya dengan sangat hati-hati… jangan sampai tanganku kesentuh tangannya! Beberapa saat setelah dia pergi, betapa aku sangat menyesal atas sikapku yang angkuh dan sombong. Aku pergi ke kapel dan meminta maaf dari Tuhan….
Pengalamanku itu adalah suatu contoh yang menggambarkan bagaimana begitu mudah bagi kita untuk mengimani kehadiran Kristus di dalam Ekaristi, tetapi sekaligus mengabaikan kehadiran-Nya di dalam sesama yang paling hina dan menderita. Mengapa demikian? Sebab Roti yang telah menjadi Tubuh Kristus itu sama sekali bukan ancaman bagi kita, dan Diapun tidak mengganggu atau menyakiti kita. Ekaristi itu tidak mempunyai bau yang ngga enak. Roti yang Suci itu tak pernah menghina kita, melawan kita ataupun menyusahi kita. Namun sesama kita itu bukanlah orang-orang yang sempurna, apalagi santo-santa! Sesama kita yang mengemis di lampu-merah itu kotor dan berbau ngga enak; jika kita melihat mereka mendekat, kita langsung mengunci kendaraan karena kita menganggap mereka “ancaman!” Kadang-kadang sesama kita mengatakan hal-hal yang menyinggung perasaan kita; mereka melawan perintah kita; mereka cuek dan tidak tahu berterima kasih; mereka memanfaatkan dan memperalatkan kita!
Ternyata kekeliruan kaum Farisi masih ada di antara kita sampai sekarang. Kita masih suka memisahkan cinta kasih kepada Allah dan cinta kasih kepada sesama. Kita mengaku bahwa kita mengasihi Tuhan, tetapi kita begitu mudah menindas dan menekan sesama ato gagal memperhatikan sesama yang dalam kesulitan! Padahal ajaran Yesus itu sangat jelas dan sederhana: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat 22:37-40). Cinta kasih kepada Allah dan cinta kasih kepada sesama adalah satu dan sama.
Pengalamanku itu adalah suatu contoh yang menggambarkan bagaimana begitu mudah bagi kita untuk mengimani kehadiran Kristus di dalam Ekaristi, tetapi sekaligus mengabaikan kehadiran-Nya di dalam sesama yang paling hina dan menderita. Mengapa demikian? Sebab Roti yang telah menjadi Tubuh Kristus itu sama sekali bukan ancaman bagi kita, dan Diapun tidak mengganggu atau menyakiti kita. Ekaristi itu tidak mempunyai bau yang ngga enak. Roti yang Suci itu tak pernah menghina kita, melawan kita ataupun menyusahi kita. Namun sesama kita itu bukanlah orang-orang yang sempurna, apalagi santo-santa! Sesama kita yang mengemis di lampu-merah itu kotor dan berbau ngga enak; jika kita melihat mereka mendekat, kita langsung mengunci kendaraan karena kita menganggap mereka “ancaman!” Kadang-kadang sesama kita mengatakan hal-hal yang menyinggung perasaan kita; mereka melawan perintah kita; mereka cuek dan tidak tahu berterima kasih; mereka memanfaatkan dan memperalatkan kita!
Ternyata kekeliruan kaum Farisi masih ada di antara kita sampai sekarang. Kita masih suka memisahkan cinta kasih kepada Allah dan cinta kasih kepada sesama. Kita mengaku bahwa kita mengasihi Tuhan, tetapi kita begitu mudah menindas dan menekan sesama ato gagal memperhatikan sesama yang dalam kesulitan! Padahal ajaran Yesus itu sangat jelas dan sederhana: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat 22:37-40). Cinta kasih kepada Allah dan cinta kasih kepada sesama adalah satu dan sama.
Label:
allah,
cinta sejati,
ekaristi,
kasih,
sesama
Wednesday, October 5, 2011
Matius 20:1-16
Bayangkan bahwa kita meninggal dunia dan kita masuk surga – disitu kita sedang mengurus taman bunga di depan rumah kita di Jalan Raya Hidup Kekal dan tiba-tiba kita melihat di seberang jalan Pak Batibot, yang terkenal tak pernah ke gereja, punya beberapa isteri muda dan wanita simpanan, tukang korupsi dan kolusi dan tak pernah membayar pajak sampai dia mengalami serangan jantung untuk kedua kalinya dan dia bertobat dan kembali ke jalan yang benar namun hanya untuk sekitar setahun saja, dia meninggal setelah serangan jantung yang ketiga kalinya. Kemudian kita berpikir di dalam hati kita, “Astaga,” (kan di surga ngga boleh bicara tidak sopan) “bagaimana mungkin dia itu bisa dapat rumah disini persis di jalan yang sama dengan saya? Aku kan ke gereja tiap minggu bahkan pada hari biasa juga. Aku selalu taat kepada Sepuluh Perintah Allah yang aku hafal sejak Komuni Pertamaku. Aku tak pernah menipu isteri dan keluargaku seumur hidupku. Bagaimana mungkin dia ada disini bersama dengan aku? Apakah yang aku dapat dengan menjadi patuh dan setia terus?” Jawaban pada pertanyaan ini tercantum secara cerdik di dalam perumpamaan Yesus tadi. Yang kita dapat ialah sukacita dan kebanggaan bahwa KITA DAPAT PERGI DAN BEKERJA DI KEBUN ANGGUR PAGI-PAGI! Inilah anugerah yang mengagumkan – Bonus besar! Karena bisa datang ke Kebun Anggur pagi-pagi, maka kita dapat menikmati relasi dekat dengan Tuhan SEKARANG INI JUGA sebelum kita meninggal. Kita sudah dapat Surga di bumi!
Tapi apakah kita sungguh-sungguh melihat Hidup Kristiani dan Kekatolikan kita, seperti pergi ke gereja tiap minggu, menerima sakramen-sakramen, terlibat dalam pelayanan dan berbagai kegiatan di dalam gereja dan mentaati Perintah Allah itu sudah sebagai Hadiah sendiri – ataukah kita melihat Hidup kita itu, seperti para pekerja di kebun anggur yang datang pagi-pagi, sebagai pekerjaan berat sepanjang hari yang harus dibalas secara adil dengan upah yang sepadan? Jika kita menjadikan Hidup Kristiani dan Kekatolikan kita semata-mata kegiatan-kegiatan dan pekerjaan-pekerjaan yang harus diupah nanti, kita akan selalu tak bahagia, merasa dibebani dan selalu penuh rasa iri-hati seperti para pekerja yang datang ke kebun anggur duluan dan mengeluh tentang mereka yang datang belakangan.
Bekerja di Kebun Anggur itu adalah sekaligus Hadiah sendiri sebab jika kita ada di dalam Kebun, itu berarti Tuhan beserta kita. Sakramen-sakramen, pelayanan, Hidup Kristiani itu memang menuntut pengorbanan – tetapi seperti setiap pekerjaan yang luhur dan bermakna – ia juga mendatangkan kebahagiaan. Sesungguhnya itu menjadikan bumi ini seperti surga.
Tapi apakah kita sungguh-sungguh melihat Hidup Kristiani dan Kekatolikan kita, seperti pergi ke gereja tiap minggu, menerima sakramen-sakramen, terlibat dalam pelayanan dan berbagai kegiatan di dalam gereja dan mentaati Perintah Allah itu sudah sebagai Hadiah sendiri – ataukah kita melihat Hidup kita itu, seperti para pekerja di kebun anggur yang datang pagi-pagi, sebagai pekerjaan berat sepanjang hari yang harus dibalas secara adil dengan upah yang sepadan? Jika kita menjadikan Hidup Kristiani dan Kekatolikan kita semata-mata kegiatan-kegiatan dan pekerjaan-pekerjaan yang harus diupah nanti, kita akan selalu tak bahagia, merasa dibebani dan selalu penuh rasa iri-hati seperti para pekerja yang datang ke kebun anggur duluan dan mengeluh tentang mereka yang datang belakangan.
Bekerja di Kebun Anggur itu adalah sekaligus Hadiah sendiri sebab jika kita ada di dalam Kebun, itu berarti Tuhan beserta kita. Sakramen-sakramen, pelayanan, Hidup Kristiani itu memang menuntut pengorbanan – tetapi seperti setiap pekerjaan yang luhur dan bermakna – ia juga mendatangkan kebahagiaan. Sesungguhnya itu menjadikan bumi ini seperti surga.
Tuesday, October 4, 2011
KEYAKINAN TUHAN
Pada saat Perang Korea, ada seorang Kristen dari Korea Selatan yang ditangkap orang-orang Komunis dan dihukum mati dengan regu penembak. Tetapi komandan pasukan Komunis itu yang masih muda mendengar bahwa tentara itu adalah pimpinan sebuah panti asuhan yang memperhatikan anak-anak kecil, maka dia memerintahkan agar bukan tentara itu yang dibunuh, melainkan anaknya! Kemudian anak tentara Kristen itu yang baru berumur sembilan belas tahun dibawa kepadanya dan dibunuh di depan matanya sendiri! Setelah beberapa tahun, komandan Komunis itu ditangkap oleh pasukan keamanan PBB, dibawa ke pengadilan dan dihukum-mati. Namun tentara Kristen itu memohon demi orang Komunis itu agar jangan dibunuh. Dia mengatakan bahwa Komunis itu masih muda pada saat kejadian itu dan dia tidak tahu sebenarnya apa yang dia lakukan. ”Serahkanlah dia kepada saya dan saya akan melatih dia,” katanya kepada mereka. Perminataannya itu dikabulkan dan ayah ini menerima pembunuh anaknya sendiri dan menaruh perhatian kepadanya. Oleh karena pengampunan dan kasih yang dia telah terima dan alami, anak muda yang dulunya seorang Komunis itu, bertobat dan dibaptis, dan akhirnya menjadi seorang Pendeta di gerejanya, melayani Tuhan dan sesama! Itulah kekuasaan cinta kasih yang mau memaafkan dan melupakan serta rela memberi kesempatan baru!
Anak-Ku akan mereka segani (Mat 21:37). Bukan suatu kebetulan bahwa kata-kata yang memerdekakan itu sungguh untuk kita. Tuhan mengatakan hal yang sama juga tentang kita: Anak-Ku akan mereka segani. Itu berarti bahwa apapun ketidaksetiaan kita di masa lalu, dosa-dosa kita, penolakan kita yang berkali-kali terhadap suara ”para nabi,” entah melalui hati nurani atau peristiwa-peristiwa di dalam hidup kita – Tuhan tak pernah hilang harapan untuk kita! Anak-Ku akan mereka segani. Masa lalu kita yang sudah lewat itu sungguh menjadi ”masa lalu” dan hanya itu saja! Di bawah tatapan Allah Bapa yang Mahapengasih, kita mengalami suatu ”kemerdekaan” yang luar biasa... kita bisa bangkit dan mulai lagi. Apabila Tuhan campur tangan, tak ada apapun yang dapat dianggap mustahil, tak dapat diperbaiki atau tak dapat ditebus! Meskipun seandainya suatu saat kita merasa begitu hilang harapan untuk keselamatan, Tuhan tetap mempunyai keyakinan dan optimisme yang berdasarkan cinta abadi: Anak-Ku akan mereka segani.
Tuhan pernah kecewa dua ribu tahun yang lalu karena ditolak dan bahkan dibunuh! Kini Dia menaruh harapan-Nya kepada kita sebagai Umat Pilihan-Nya dan Israel Baru: Anak-Ku akan mereka segani. Jangan sampai Dia kecewa lagi....
Anak-Ku akan mereka segani (Mat 21:37). Bukan suatu kebetulan bahwa kata-kata yang memerdekakan itu sungguh untuk kita. Tuhan mengatakan hal yang sama juga tentang kita: Anak-Ku akan mereka segani. Itu berarti bahwa apapun ketidaksetiaan kita di masa lalu, dosa-dosa kita, penolakan kita yang berkali-kali terhadap suara ”para nabi,” entah melalui hati nurani atau peristiwa-peristiwa di dalam hidup kita – Tuhan tak pernah hilang harapan untuk kita! Anak-Ku akan mereka segani. Masa lalu kita yang sudah lewat itu sungguh menjadi ”masa lalu” dan hanya itu saja! Di bawah tatapan Allah Bapa yang Mahapengasih, kita mengalami suatu ”kemerdekaan” yang luar biasa... kita bisa bangkit dan mulai lagi. Apabila Tuhan campur tangan, tak ada apapun yang dapat dianggap mustahil, tak dapat diperbaiki atau tak dapat ditebus! Meskipun seandainya suatu saat kita merasa begitu hilang harapan untuk keselamatan, Tuhan tetap mempunyai keyakinan dan optimisme yang berdasarkan cinta abadi: Anak-Ku akan mereka segani.
Tuhan pernah kecewa dua ribu tahun yang lalu karena ditolak dan bahkan dibunuh! Kini Dia menaruh harapan-Nya kepada kita sebagai Umat Pilihan-Nya dan Israel Baru: Anak-Ku akan mereka segani. Jangan sampai Dia kecewa lagi....
Monday, September 12, 2011
SEJARAH PAROKI SANTO MIKAEL SURABAYA
Pada mulanya Gereja Santo Mikael hanya sebagai salah satu stasi dari Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen. Namun karena wilayahnya cukup luas dan jumlah umat pada masa itu sudah cukup banyak, maka pada tahun 1947 (dimasa penjajahan Belanda) telah diputuskan untuk mendirikan gereja baru di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak dan memilih Santo Mikael untuk menjadi Pelindungnya. Demikianlah gereja baru ini diberi nama Gereja Santo Mikael, Tanjung Perak, Surabaya.
Romo pertama yang bertugas di Stasi Santo Mikael adalah Romo J. Holtus, CM, dengan jumlah umat sekitar 50 orang, yang sebagian besar terdiri dari orang-orang Belanda. Untuk merayakan Ekaristi Suci pada hari Minggu dan hari-hari besar Gereja, umat sementara menggunakan asrama tentara yang terletak di sudut Jalan Jakarta dan Jalan Kebalen Timur, mengingat waktu itu Stasi belum mempunyai gedung gereja.
Pada tahun 1952, Romo J. Holtus, CM diganti oleh Romo H. Kock, CM dan tempat ibadah dipindahkan ke tempat baru, yaitu sebuah gedung semi-permanen bekas gudang mesiu tentara Jepang, berukuran 30m x 8m, yang terletak di Colombo Straad atau sekarang dikenal Jalan Tanjung Sadari 47. Bangunan tersebut mampu menampung sekitar 200 orang. Dalam waktu singkat perkembangan jumlah umat cukup pesat, terutama orang-orang yang datang dari pedalaman atau luar pulau Jawa. Walaupun berkurangnya orang-orang Belanda yang sudah kembali ke negerinya cukup signifikan, bangunan sementara itu sudah tidak dapat lagi menampung jumlah umat yang beribadat.
Belum sempat memikirkan untuk membangun gedung gereja baru, pada tanggal 19 Desember 1959, seminggu sebelum Perayaan Natal, tepat pada pkl. 18.30, angin taufan yang sangat kencang sekonyong-konyong datang merobohkan dan menghancurkan seluruh gedung ibadah. Bersyukur bencana tersebut tidak menelan korban jiwa, hanya sebatas luka-luka ringan yang dialami oleh beberapa anggota koor yang saat itu sedang berlatih menyiapkan lagu-lagu untuk Perayaan Natal.
Dalam peristiwa roboh dan hancurnya bangunan tersebut, ada sebuah patung Bunda Maria tetap tegak berdiri dalam keadaan utuh di tengah reruntuhan. Sebelumnya, hosti kudus yang berada di dalam tabernakel sempat diselamatkan oleh Romo H. Kock, CM ke gereja Kelahiran Santa Perawan Maria di Kepanjen. Patung Bunda Maria tersebut saat ini diberi tempat terhormat di Pastoran Paroki Santo Mikael.
Adanya peristiwa tersebut diatas mendorong umat agar segera merencanakan dan berupaya untuk membangun gedung gereja baru. Berkat partisipasi aktif dan kerja keras dari seluruh lapisan umat, dalam waktu relatif singkat, selama kurang-lebih satu tahun, tepatnya pada tahun 1960, gereja baru sudah berdiri diatas areal tanah seluas 100m x 100m, terletak di sebelah Barat gedung ibadah yang lama, yang saat ini dikenal dengan nama Jalan Tanjung Sadari 49. Dengan berdirinya gedung gereja yang baru, maka pada tanggal 1 Januari 1961, Stasi Santo Mikael ditingkatkan statusnya menjadi Paroki Santo Mikael, Tanjung Perak, dengan Romo H. Kock, CM sebagai Romo Paroki.
Karena usia Romo H. Kock, CM yang semakin tua dan kesehatannya yang sudah menurun, maka awal tahun 1966 beliau kembali ke negeri Belanda dan untuk sementara diganti oleh Romo A.V. Rijnsoever, CM yang bertugas di Paroki Santo Mikael sekitar setengah tahun. Pertengahan tahun 1966, Romo J. Holtus, CM kembali ke Paroki Santo Mikael. Beliau adalah Romo yang sampai saat ini tercatat paling lama bertugas di Paroki Santo Mikael, empatbelas tahun! Beliau baru diganti pada tahun 1980 oleh Romo L.V. Cahyo Kusuma, CM. Tahun 1985 Romo Cahyo Kusuma, CM diganti oleh Romo Philipo Catini, CM. Tahun 1990 Romo Philipo Catini, CM dipindahkan ke Ngawi.
Sejak ditinggalkan Romo Philipo Catini, CM, Paroki Santo Mikael sempat mengalami kekosongan Pastor, yaitu mulai bulan Januari 1991 s/d April 1991. Untuk mengisi kekosongan Pastor tersebut, telah ditugaskan Romo Haryo Subiyanto, CM sebagai Romo pengganti sementara di Paroki Santo Mikael. Mulai bulan Mei 1995, Romo B. Martokusuma, CM ditempatkan sebagai Romo Paroki Santo Mikael. Menjelang akhir tahun 1998, Romo B. Martokusuma, CM digantikan oleh Romo Stanislaus O. Beda, CM sampai dengan tahun 2001.
Pada waktu Romo Stanislaus itu, terjadi pembangunan pastoran baru dan renovasi SD dan SMP Katolik Santo Mikael. Selanjutnya Romo Stanislaus digantikan oleh Romo B. Bani Suatmadji, CM sampai akhir September 2008. Pada waktu Romo Bani, telah dilakukan renovasi total terhadap bangunan gereja yang sudah berdiri sejak tahun 1960 dan juga balai pertemuan atau joglo serta gua Maria. Romo Bani adalah Romo CM yang terakhir di Paroki ini sebelum digantikan oleh Romo Diosis Placidus Kusnugroho, yang menjabat sebagai Romo Paroki sampai tahun 2010. Pada tanggal 18 April 2010, Paroki Santo Mikael secara resmi mulai dikelola oleh Serikat Salesian Don Bosco dengan Romo Noel Villafuerte SDB, seorang imam misionaris dari Philippina, sebagai Romo Paroki sampai pada saat ini.
Romo pertama yang bertugas di Stasi Santo Mikael adalah Romo J. Holtus, CM, dengan jumlah umat sekitar 50 orang, yang sebagian besar terdiri dari orang-orang Belanda. Untuk merayakan Ekaristi Suci pada hari Minggu dan hari-hari besar Gereja, umat sementara menggunakan asrama tentara yang terletak di sudut Jalan Jakarta dan Jalan Kebalen Timur, mengingat waktu itu Stasi belum mempunyai gedung gereja.
Pada tahun 1952, Romo J. Holtus, CM diganti oleh Romo H. Kock, CM dan tempat ibadah dipindahkan ke tempat baru, yaitu sebuah gedung semi-permanen bekas gudang mesiu tentara Jepang, berukuran 30m x 8m, yang terletak di Colombo Straad atau sekarang dikenal Jalan Tanjung Sadari 47. Bangunan tersebut mampu menampung sekitar 200 orang. Dalam waktu singkat perkembangan jumlah umat cukup pesat, terutama orang-orang yang datang dari pedalaman atau luar pulau Jawa. Walaupun berkurangnya orang-orang Belanda yang sudah kembali ke negerinya cukup signifikan, bangunan sementara itu sudah tidak dapat lagi menampung jumlah umat yang beribadat.
Belum sempat memikirkan untuk membangun gedung gereja baru, pada tanggal 19 Desember 1959, seminggu sebelum Perayaan Natal, tepat pada pkl. 18.30, angin taufan yang sangat kencang sekonyong-konyong datang merobohkan dan menghancurkan seluruh gedung ibadah. Bersyukur bencana tersebut tidak menelan korban jiwa, hanya sebatas luka-luka ringan yang dialami oleh beberapa anggota koor yang saat itu sedang berlatih menyiapkan lagu-lagu untuk Perayaan Natal.
Dalam peristiwa roboh dan hancurnya bangunan tersebut, ada sebuah patung Bunda Maria tetap tegak berdiri dalam keadaan utuh di tengah reruntuhan. Sebelumnya, hosti kudus yang berada di dalam tabernakel sempat diselamatkan oleh Romo H. Kock, CM ke gereja Kelahiran Santa Perawan Maria di Kepanjen. Patung Bunda Maria tersebut saat ini diberi tempat terhormat di Pastoran Paroki Santo Mikael.
Adanya peristiwa tersebut diatas mendorong umat agar segera merencanakan dan berupaya untuk membangun gedung gereja baru. Berkat partisipasi aktif dan kerja keras dari seluruh lapisan umat, dalam waktu relatif singkat, selama kurang-lebih satu tahun, tepatnya pada tahun 1960, gereja baru sudah berdiri diatas areal tanah seluas 100m x 100m, terletak di sebelah Barat gedung ibadah yang lama, yang saat ini dikenal dengan nama Jalan Tanjung Sadari 49. Dengan berdirinya gedung gereja yang baru, maka pada tanggal 1 Januari 1961, Stasi Santo Mikael ditingkatkan statusnya menjadi Paroki Santo Mikael, Tanjung Perak, dengan Romo H. Kock, CM sebagai Romo Paroki.
Karena usia Romo H. Kock, CM yang semakin tua dan kesehatannya yang sudah menurun, maka awal tahun 1966 beliau kembali ke negeri Belanda dan untuk sementara diganti oleh Romo A.V. Rijnsoever, CM yang bertugas di Paroki Santo Mikael sekitar setengah tahun. Pertengahan tahun 1966, Romo J. Holtus, CM kembali ke Paroki Santo Mikael. Beliau adalah Romo yang sampai saat ini tercatat paling lama bertugas di Paroki Santo Mikael, empatbelas tahun! Beliau baru diganti pada tahun 1980 oleh Romo L.V. Cahyo Kusuma, CM. Tahun 1985 Romo Cahyo Kusuma, CM diganti oleh Romo Philipo Catini, CM. Tahun 1990 Romo Philipo Catini, CM dipindahkan ke Ngawi.
Sejak ditinggalkan Romo Philipo Catini, CM, Paroki Santo Mikael sempat mengalami kekosongan Pastor, yaitu mulai bulan Januari 1991 s/d April 1991. Untuk mengisi kekosongan Pastor tersebut, telah ditugaskan Romo Haryo Subiyanto, CM sebagai Romo pengganti sementara di Paroki Santo Mikael. Mulai bulan Mei 1995, Romo B. Martokusuma, CM ditempatkan sebagai Romo Paroki Santo Mikael. Menjelang akhir tahun 1998, Romo B. Martokusuma, CM digantikan oleh Romo Stanislaus O. Beda, CM sampai dengan tahun 2001.
Pada waktu Romo Stanislaus itu, terjadi pembangunan pastoran baru dan renovasi SD dan SMP Katolik Santo Mikael. Selanjutnya Romo Stanislaus digantikan oleh Romo B. Bani Suatmadji, CM sampai akhir September 2008. Pada waktu Romo Bani, telah dilakukan renovasi total terhadap bangunan gereja yang sudah berdiri sejak tahun 1960 dan juga balai pertemuan atau joglo serta gua Maria. Romo Bani adalah Romo CM yang terakhir di Paroki ini sebelum digantikan oleh Romo Diosis Placidus Kusnugroho, yang menjabat sebagai Romo Paroki sampai tahun 2010. Pada tanggal 18 April 2010, Paroki Santo Mikael secara resmi mulai dikelola oleh Serikat Salesian Don Bosco dengan Romo Noel Villafuerte SDB, seorang imam misionaris dari Philippina, sebagai Romo Paroki sampai pada saat ini.
Sunday, September 4, 2011
EMANGNYA GUE PIKIRIN
Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati seorang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Siapa tahu ada makanan? Tapi dia begitu terkejut, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Si tikus itu lari kembali ke rumah pertanian sambil menjerit memberi peringatan: "Awas, teman-teman... ada perangkap tikus di dalam rumah!”
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Wah... sori ya, Mas Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku sih ngga ada masalahnya! Jadi jangan buat aku pusing." Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap tikus di dalam rumah!” "Aduh, aku sungguh menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "tapi tak ada sesuatu pun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doaku, oke!" Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. "Oh... ada perangkap tikus... jadi aku dalam bahaya besar ya?!" kata lembu itu sambil ketawa. Jadi si tikus itu pergi merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.
Malam itu juga terdengarlah suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang telah menangkap mangsanya! Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu ternyata adalah seekor ular beracun. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Suaminya bergegas membawanya ke rumah sakit. Kemudian dia kembali ke rumah dengan demam. Dan karena memang biasanya minum sup ayam segar itu baik untuk orang yang sakit demam panas, maka petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari sang ayam untuk dipotong! Namun penyakit isterinya berkelanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dan dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itu pun menyembelih kambingnya untuk memberi makan kepada para tamu itu. Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Akhirnya ia meninggal, jadi makin banyak lagi orang-orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat memberi makan para pelayat itu! Ternyata jika masing-masing hanya memikirkan diri sendiri, sebuah perangkap tikus dapat menyebabkan seluruh rumah pertanian ikut menanggung risikonya.
Kita ini adalah bangsa yg tidak mau repot, seperti dikatakan mantan Presiden kita Almarhum Gus Dur “Abdul Rahman Wahid,” segitu aja kok repot, kayak anak TK aja, emangnya gue pikirin. Mentalitas Bukan Urusanku adalah mentalitas manusia moderen yang makin canggih tapi individualistis, Live and let live. Kita pikir bahwa “hidup baik dan suci” itu berarti “menghindari perbuatan jahat.” Benar juga, tapi bukan hanya itu saja. Sebab kita bisa berdosa bukan hanya dengan perbuatan melainkan juga dengan kelalaian. Ingat Doa Tobat kita di awal Misa, “Saya mengaku... bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan KELALAIAN....” Kita berdosa apabila kita melalaikan suatu perbuatan baik yang sebenarnya kita bisa dan sempat! Misalnya kamu menyaksikan teman-kerja kamu sedang melakukan kecurangan dan kamu diam saja... kamu ikut berdosa. Kamu melihat teman-kelas kamu sedang nyontek, dan kamu tidak berbuat apa-apa... kamu ikut berdosa. Yang jelas, menyelamatkan sesama kita itu adalah tanggung-jawab kita... kita harus repot... kita harus pikirin-nya... itu urusan kita!
Makanya Yesus punya ajaran khusus tentang cara menegor seorang yang berbuat kesalahan. Itulah yang kita baru dengar di dalam Injil (Mat 18:15-29) dan didukung pesan dari Bacaan Pertama melalui pengalaman Nabi Yehezkiel (Yeh 33:7-9). Kita mempunyai tanggung-jawab terhadap sesama kita. Itu termasuk disiplin (discipline) kita sebagai pengikut (disciple) Kristus yang sejati. Tidaklah mudah menjadi pengikut Kristus. Berhadapan dengan kesalahan dan kejahatan, kita diharapkan untuk berani dan siap dianggap “beda” dan “ngga kompak” dengan yang lain! Jika kita dengan sengaja melalaikan kesempatan untuk menyelamatkan sesama yang dalam bahaya, berarti kita diam saja. Jangan sampai orang jahat jadi makin banyak gara-gara orang baik diam saja!
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Wah... sori ya, Mas Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku sih ngga ada masalahnya! Jadi jangan buat aku pusing." Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap tikus di dalam rumah!” "Aduh, aku sungguh menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "tapi tak ada sesuatu pun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doaku, oke!" Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. "Oh... ada perangkap tikus... jadi aku dalam bahaya besar ya?!" kata lembu itu sambil ketawa. Jadi si tikus itu pergi merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.
Malam itu juga terdengarlah suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang telah menangkap mangsanya! Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu ternyata adalah seekor ular beracun. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Suaminya bergegas membawanya ke rumah sakit. Kemudian dia kembali ke rumah dengan demam. Dan karena memang biasanya minum sup ayam segar itu baik untuk orang yang sakit demam panas, maka petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari sang ayam untuk dipotong! Namun penyakit isterinya berkelanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dan dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itu pun menyembelih kambingnya untuk memberi makan kepada para tamu itu. Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Akhirnya ia meninggal, jadi makin banyak lagi orang-orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat memberi makan para pelayat itu! Ternyata jika masing-masing hanya memikirkan diri sendiri, sebuah perangkap tikus dapat menyebabkan seluruh rumah pertanian ikut menanggung risikonya.
Kita ini adalah bangsa yg tidak mau repot, seperti dikatakan mantan Presiden kita Almarhum Gus Dur “Abdul Rahman Wahid,” segitu aja kok repot, kayak anak TK aja, emangnya gue pikirin. Mentalitas Bukan Urusanku adalah mentalitas manusia moderen yang makin canggih tapi individualistis, Live and let live. Kita pikir bahwa “hidup baik dan suci” itu berarti “menghindari perbuatan jahat.” Benar juga, tapi bukan hanya itu saja. Sebab kita bisa berdosa bukan hanya dengan perbuatan melainkan juga dengan kelalaian. Ingat Doa Tobat kita di awal Misa, “Saya mengaku... bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan KELALAIAN....” Kita berdosa apabila kita melalaikan suatu perbuatan baik yang sebenarnya kita bisa dan sempat! Misalnya kamu menyaksikan teman-kerja kamu sedang melakukan kecurangan dan kamu diam saja... kamu ikut berdosa. Kamu melihat teman-kelas kamu sedang nyontek, dan kamu tidak berbuat apa-apa... kamu ikut berdosa. Yang jelas, menyelamatkan sesama kita itu adalah tanggung-jawab kita... kita harus repot... kita harus pikirin-nya... itu urusan kita!
Makanya Yesus punya ajaran khusus tentang cara menegor seorang yang berbuat kesalahan. Itulah yang kita baru dengar di dalam Injil (Mat 18:15-29) dan didukung pesan dari Bacaan Pertama melalui pengalaman Nabi Yehezkiel (Yeh 33:7-9). Kita mempunyai tanggung-jawab terhadap sesama kita. Itu termasuk disiplin (discipline) kita sebagai pengikut (disciple) Kristus yang sejati. Tidaklah mudah menjadi pengikut Kristus. Berhadapan dengan kesalahan dan kejahatan, kita diharapkan untuk berani dan siap dianggap “beda” dan “ngga kompak” dengan yang lain! Jika kita dengan sengaja melalaikan kesempatan untuk menyelamatkan sesama yang dalam bahaya, berarti kita diam saja. Jangan sampai orang jahat jadi makin banyak gara-gara orang baik diam saja!
Saturday, August 27, 2011
MAKNA SALIB
Dari dulu saya penasaran pada saat Musa dan Elia tampak dengan Yesus di gunung Tabor, mereka itu membicarakan apa. Yang jelas mereka pasti tidak omongin cuaca! Juga mereka tidak mengatakan, “Tenang aja, semuanya akan baik-baik saja.” Sebenarnya Injil Lukas memberi petunjuk bahwa mereka berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem (Luk 9:31), yakni penderitaan dan sengsara-Nya. Dia akan ditinggalkan oleh teman-teman-Nya, Dia akan dihina, Dia akan difitnah, Dia akan disiksa dan Dia akan dibunuh secara brutal dan memalukan! Tetapi Musa dan Elia tidak mengatakan, “Jangan pergi ke Yerusalem.” Tidak, mereka mendorong-Nya supaya memeluk salib.
Sebaliknya, Petrus sungguh gagal untuk mengerti, sehingga ia menjadi batu sandungan bagi Yesus Sendiri, Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau (Mat 16:22)! Petrus meminta Yesus supaya meninggalkan jalan yang susah dan sempit dan mengambil jalan yang mudah dan lurus. Oleh karena itu, walaupun Yesus menyebutnya “Batu karang” hanya beberapa saat sebelumnya, sekarang Yesus menatap Petrus dan mengatakan kepadanya, Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia (Mat 16:23).
Beata Mother Theresa pernah mengatakan, “Begitu banyak sengsara dan penderitaan di dunia yang terbuang-buang dan disia-siakan karena manusia tidak tahu menyatukannya dengan Salib Kristus!” Dari semua Agama di dunia, hanya kitalah yang menghormati dan menyembah Seorang yang ada di Salib karena kita percaya bahwa penderitaan-Nya itu memberi arti kepada tiap beban derita kita dan wafat-Nya adalah sumber Keselamatan bagi kita semua. Keyakinan seperti itu tak mungkin dapat dipahami, apalagi diterima oleh dunia; tapi bagi seorang pengikut Kristus yang sejati, tak ada yang lebih nyata daripada prinsip-prinsip ini: “Tak ada Kematian, tak ada Kebangkitan”; “Tak ada Penderitaan, tak ada Kemuliaan”; “Tak ada Salib, tak ada Mahkota.”
Duapuluh-dua tahun yang lalu, saya dan teman-teman menerima Salib Misionaris dari Pastor Pimpinan kami. Salib biasa yang terbuat dari kayu. Saya masih menyimpannya. Ia selalu menjadi sumber kekuatan bagi saya di saat-saat yang susah.
Salah satu “penitensi favorit” saya bagi orang yang datang untuk sakramen tobat ialah: cari beberapa waktu untuk memandang salib. Apabila kamu mempunyai Salib di dalam kamar kamu, peganglah dan renungkanlah Siapa yang ada di Salib itu dan mengapa Dia ada disitu. Dan bisa juga, setelah itu peluklah Salib itu dekat-dekat di hatimu.
Dalam Salib Yesus ada penyembuhan dan kekuatan. Ada kekuasaan yang luar biasa dalam memeluk Salib. Kalau saja pasangan-pasangan suami-istri yang bermasalah mau berlutut di depan Salib, maka pertengkaran dan kesalah-pahaman tak akan sering terjadi. Kalau saja keluarga-keluarga bisa meluangkan waktu untuk berdoa bersama di depan Salib, maka setiap masalah perkawinan dan problema keluarga selalu ada jalan keluar.
Sebaliknya, Petrus sungguh gagal untuk mengerti, sehingga ia menjadi batu sandungan bagi Yesus Sendiri, Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau (Mat 16:22)! Petrus meminta Yesus supaya meninggalkan jalan yang susah dan sempit dan mengambil jalan yang mudah dan lurus. Oleh karena itu, walaupun Yesus menyebutnya “Batu karang” hanya beberapa saat sebelumnya, sekarang Yesus menatap Petrus dan mengatakan kepadanya, Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia (Mat 16:23).
Beata Mother Theresa pernah mengatakan, “Begitu banyak sengsara dan penderitaan di dunia yang terbuang-buang dan disia-siakan karena manusia tidak tahu menyatukannya dengan Salib Kristus!” Dari semua Agama di dunia, hanya kitalah yang menghormati dan menyembah Seorang yang ada di Salib karena kita percaya bahwa penderitaan-Nya itu memberi arti kepada tiap beban derita kita dan wafat-Nya adalah sumber Keselamatan bagi kita semua. Keyakinan seperti itu tak mungkin dapat dipahami, apalagi diterima oleh dunia; tapi bagi seorang pengikut Kristus yang sejati, tak ada yang lebih nyata daripada prinsip-prinsip ini: “Tak ada Kematian, tak ada Kebangkitan”; “Tak ada Penderitaan, tak ada Kemuliaan”; “Tak ada Salib, tak ada Mahkota.”
Duapuluh-dua tahun yang lalu, saya dan teman-teman menerima Salib Misionaris dari Pastor Pimpinan kami. Salib biasa yang terbuat dari kayu. Saya masih menyimpannya. Ia selalu menjadi sumber kekuatan bagi saya di saat-saat yang susah.
Salah satu “penitensi favorit” saya bagi orang yang datang untuk sakramen tobat ialah: cari beberapa waktu untuk memandang salib. Apabila kamu mempunyai Salib di dalam kamar kamu, peganglah dan renungkanlah Siapa yang ada di Salib itu dan mengapa Dia ada disitu. Dan bisa juga, setelah itu peluklah Salib itu dekat-dekat di hatimu.
Dalam Salib Yesus ada penyembuhan dan kekuatan. Ada kekuasaan yang luar biasa dalam memeluk Salib. Kalau saja pasangan-pasangan suami-istri yang bermasalah mau berlutut di depan Salib, maka pertengkaran dan kesalah-pahaman tak akan sering terjadi. Kalau saja keluarga-keluarga bisa meluangkan waktu untuk berdoa bersama di depan Salib, maka setiap masalah perkawinan dan problema keluarga selalu ada jalan keluar.
Monday, August 22, 2011
IMAMAT ADALAH MISTERI
“Cinta bagai teka-teki,
Muncul dalam banyak sandi,
Cobalah artikan dengan sepenuh hati.
Bisa saja sampai mati
Kita masih terus mencari,
Menemukan arti
Cinta adalah Misteri.”
Refren dari lagu Project Pop itu merupakan salah satu sumber renungan pribadi saya saat memantau dari jauh Tahbisan Imamat rekan kami, Frater Diakon Hendrikus, di Jakarta pada hari ini 22 Agustus, Pesta Santa Perawan Maria, Ratu Semesta Alam. Cinta adalah Misteri... sama seperti Imamat... Imamat adalah Misteri.... Sebab Imamat itu berdasarkan Cinta... Cinta Tuhan kepada seorang yang Dia pilih dan urapi sebagai Imam-Nya dan Cinta orang itu yang menanggapi panggilan Tuhan dengan menyerahkan diri seutuhnya!
Peristiwa yang sangat istimewa itu mengingatkan saya akan pengalaman pribadi pada saat ditahbiskan duapuluh-dua tahun yang lalu. Jika ditanya “bagaimana rasanya” sudah menjadi imam, saya suka menjawab, “Senang sekali, seperti orang yang begitu beruntung karena mendapatkan hadiah utama di lotere!” Padahal sama sekali tak ada bandingannya antara menang lotere dan menerima Sakramen Imamat. Menang lotere itu selalu ada unsur hoki atau keberuntungan alias tak sengaja; sedangkan untuk seorang menjadi imam itu adalah seratus persen pekerjaan Tuhan dan pasti disengaja! Dengan alasan yang hanya Dia yang tahu dan dengan cara yang hanya Dia yang dapat menyusun, Tuhan memilih dan memanggil seorang dari antara umat-Nya. Orang yang terpilih itu hanya dapat bersyukur, bekerjasama dan berusaha untuk setia kepada Yang Memanggil. Dia adalah imam bukan karena dia ”beruntung,” melainkan karena dia ”terberkati.”
Imamat adalah misteri... sama seperti Cinta... dan seperti halnya dengan setiap misteri, ia bukan untuk dimengerti melainkan untuk dihayati! Orang yang terpanggil itu hanya dapat berdoa di dalam hatinya: ”Aku ini adalah imam-Mu untuk selamanya. Tangan-Mu, ya Allah-ku, akan selalu menaungiku dan tak akan pernah meninggalkanku. Apapun yang terjadi dalam hidupku mulai saat ini, jadilah ungkapan jawabanku kepada panggilan-Mu!”
Muncul dalam banyak sandi,
Cobalah artikan dengan sepenuh hati.
Bisa saja sampai mati
Kita masih terus mencari,
Menemukan arti
Cinta adalah Misteri.”
Refren dari lagu Project Pop itu merupakan salah satu sumber renungan pribadi saya saat memantau dari jauh Tahbisan Imamat rekan kami, Frater Diakon Hendrikus, di Jakarta pada hari ini 22 Agustus, Pesta Santa Perawan Maria, Ratu Semesta Alam. Cinta adalah Misteri... sama seperti Imamat... Imamat adalah Misteri.... Sebab Imamat itu berdasarkan Cinta... Cinta Tuhan kepada seorang yang Dia pilih dan urapi sebagai Imam-Nya dan Cinta orang itu yang menanggapi panggilan Tuhan dengan menyerahkan diri seutuhnya!
Peristiwa yang sangat istimewa itu mengingatkan saya akan pengalaman pribadi pada saat ditahbiskan duapuluh-dua tahun yang lalu. Jika ditanya “bagaimana rasanya” sudah menjadi imam, saya suka menjawab, “Senang sekali, seperti orang yang begitu beruntung karena mendapatkan hadiah utama di lotere!” Padahal sama sekali tak ada bandingannya antara menang lotere dan menerima Sakramen Imamat. Menang lotere itu selalu ada unsur hoki atau keberuntungan alias tak sengaja; sedangkan untuk seorang menjadi imam itu adalah seratus persen pekerjaan Tuhan dan pasti disengaja! Dengan alasan yang hanya Dia yang tahu dan dengan cara yang hanya Dia yang dapat menyusun, Tuhan memilih dan memanggil seorang dari antara umat-Nya. Orang yang terpilih itu hanya dapat bersyukur, bekerjasama dan berusaha untuk setia kepada Yang Memanggil. Dia adalah imam bukan karena dia ”beruntung,” melainkan karena dia ”terberkati.”
Imamat adalah misteri... sama seperti Cinta... dan seperti halnya dengan setiap misteri, ia bukan untuk dimengerti melainkan untuk dihayati! Orang yang terpanggil itu hanya dapat berdoa di dalam hatinya: ”Aku ini adalah imam-Mu untuk selamanya. Tangan-Mu, ya Allah-ku, akan selalu menaungiku dan tak akan pernah meninggalkanku. Apapun yang terjadi dalam hidupku mulai saat ini, jadilah ungkapan jawabanku kepada panggilan-Mu!”
Monday, August 15, 2011
Merdeka!
Pada dasarnya ada dua macam KEMERDEKAAN: KEMERDEKAAN DARI dan KEMERDEKAAN UNTUK. Indonesia merayakan KEMERDEKAAN yang mana? Kemerdekaan dari penjajahan Belanda? Pantaslah! Kemerdekaan untuk Hidup yang lebih adil, sejahtera dan aman sentosa! Sungguhkah? Setiap Perayaan HUT Kemerdekaan adalah untuk memperingati dan sekaligus menimba inspirasi dari peringatan itu. Kita mengingat serta menghormati para pahlawan dan tokoh-tokoh yang membentuk negara ini dan mereka menjadi inspirasi bagi kita supaya melanjutkan perjuangan mereka.
Ada sebuah kapal laut yang sedang berlayar dan para penumpangnya adalah dari berbagai negara. Tiba-tiba tanpa peringatan datanglah badai dan ombak-ombak besar mulai membanting-banting perahu itu! Kapten yang sudah berpengalaman menyadari bahwa mereka dalam bahaya. Oleh karena itu ia mengumumkan kepada para penumpang bahwa ia membutuhkan beberapa orang berani yang rela keluar dari kapal supaya mengurangi bebannya sebab jika tidak, mereka semua akan mati. Mereka berbisik-bisik sambil saling menunjuk satu sama lain. Kemudian ada seorang Jepang yang maju ke depan sambil berteriak “Saya bersedia!” “Wah, pahlawan,” mereka terkagum-kagum, “ini baru pahlawan hebat!” Sebelum ia melompat dari kapal ia mengangkat tangan sambil berteriak, “Banzai Nipon!” Dan iapun jatuh ke laut. Semua bertepuk-tangan dengan gembira. “Nah siapa lagi yang berani?” tanya dari Kapten. Sekarang seorang Amerika maju ke depan. Lagi mereka terkagum-kagum atas keberanian orang itu. Dia ke pinggir kapal dan sebelum melompat ia berteriak, “This is for you, America!” dan iapun jatuh ke laut. Semua berseru dan bertepuk-tangan lagi. Sebelum si Kapten bisa berbicara lagi, tiba-tiba ada seorang yang maju ke depan, “Saya rela.” “Darimana dia?” para penumpang itu saling bertanya. Indonesia! “Wah, hebat ya orang Indonesia!” Dan seperti halnya yang dilakukan dua orang sebelumnya, orang ini mengangkat kedua tangan sambil berteriak dengan suara nyaring, “Hidup Bangsa Indonesia!” Kemudian dia mendorong orang Cina ke laut!
Selama ada orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri sambil menginjak-injak martabat sesama manusia; selama ada pemimpin-pemimpin yang hanya mencari keuntungan dengan memperalatkan orang lain; selama ada gembala-gembala yang serakah sehingga meninggalkan atau bahkan menyesatkan domba-dombanya… tidak akan pernah ada Kemerdekaan Sejati di tanah ini! Setiap Perayaan HUT Kemerdekaan haruslah membuat kita semakin haus akan Kemerdekaan Sejati… Kemerdekaan dari Kejahatan, Keserakahan dan Kesombongan… dan Kemerdekaan untuk Hidup yang Adil, Sejahtera dan bebas dari Korupsi!
Ada sebuah kapal laut yang sedang berlayar dan para penumpangnya adalah dari berbagai negara. Tiba-tiba tanpa peringatan datanglah badai dan ombak-ombak besar mulai membanting-banting perahu itu! Kapten yang sudah berpengalaman menyadari bahwa mereka dalam bahaya. Oleh karena itu ia mengumumkan kepada para penumpang bahwa ia membutuhkan beberapa orang berani yang rela keluar dari kapal supaya mengurangi bebannya sebab jika tidak, mereka semua akan mati. Mereka berbisik-bisik sambil saling menunjuk satu sama lain. Kemudian ada seorang Jepang yang maju ke depan sambil berteriak “Saya bersedia!” “Wah, pahlawan,” mereka terkagum-kagum, “ini baru pahlawan hebat!” Sebelum ia melompat dari kapal ia mengangkat tangan sambil berteriak, “Banzai Nipon!” Dan iapun jatuh ke laut. Semua bertepuk-tangan dengan gembira. “Nah siapa lagi yang berani?” tanya dari Kapten. Sekarang seorang Amerika maju ke depan. Lagi mereka terkagum-kagum atas keberanian orang itu. Dia ke pinggir kapal dan sebelum melompat ia berteriak, “This is for you, America!” dan iapun jatuh ke laut. Semua berseru dan bertepuk-tangan lagi. Sebelum si Kapten bisa berbicara lagi, tiba-tiba ada seorang yang maju ke depan, “Saya rela.” “Darimana dia?” para penumpang itu saling bertanya. Indonesia! “Wah, hebat ya orang Indonesia!” Dan seperti halnya yang dilakukan dua orang sebelumnya, orang ini mengangkat kedua tangan sambil berteriak dengan suara nyaring, “Hidup Bangsa Indonesia!” Kemudian dia mendorong orang Cina ke laut!
Selama ada orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri sambil menginjak-injak martabat sesama manusia; selama ada pemimpin-pemimpin yang hanya mencari keuntungan dengan memperalatkan orang lain; selama ada gembala-gembala yang serakah sehingga meninggalkan atau bahkan menyesatkan domba-dombanya… tidak akan pernah ada Kemerdekaan Sejati di tanah ini! Setiap Perayaan HUT Kemerdekaan haruslah membuat kita semakin haus akan Kemerdekaan Sejati… Kemerdekaan dari Kejahatan, Keserakahan dan Kesombongan… dan Kemerdekaan untuk Hidup yang Adil, Sejahtera dan bebas dari Korupsi!
Saturday, August 13, 2011
Rp 40,522 Saja
Ternyata jika kita menjumlahkan harga moneter elemen-elemen dalam tubuh kita dan harga kulit manusia biasa, kita dapat keuntungan Rp 40,522. Kita bisa memerinci komposisi kimia dan mineral tubuh manusia sebagai berikut:
* 65% zat asam
* 18% zat arang
* 10% zat air
* 3% zat lemas
* 1.5% zat kapur
* 1% Fosfor
* 0.35% Kalsium
* 0.25% Belerang
* 0.15% Sodium
* 0.15% Khlor
* 0.05% Magnesium
* 0.0004% Besi
* 0.00004% Yodium
Jumlah semua kimia dan mineral ini sekitar Rp 9,005. Modal kita yang paling berharga adalah kulit kita. Berdasarkan harga penjualan kulit sapi, yaitu sekitar Rp 2,251 per kaki persegi, maka harga kulit manusia itu sekitar Rp 31,517!
Rp 40,522... ”harga penjualan” tubuh manusia itu murah banget! Benar-benar harga SALE! Tetapi syukur kepada Tuhan, penilaian-Nya tidak sama dengan penilaian dan pandangan manusia! Kita sungguh berharga di mata-Nya. Tubuh kita yang fana dan hanya empatpuluh ribuan saja ini ”ditakdirkan” menjadi mulia dan agung untuk selama-lamanya!
Dari mana kita tahu itu? Bunda Maria diangkat ke surga, JIWA dan RAGANYA. Kita percaya dan yakin akan kebangkitan badan. Untuk sementara semua saudara-saudara kita yang sudah di surga itu menikmati hidup yang kekal dengan hanya jiwa mereka. Pada Hari Kiamat, semua badan akan dibangkitkan dan akhirnya bersatu lagi dengan jiwanya, sehingga setiap kita dapat tinggal di surga, jiwa dan raganya! Sesungguhnya apa yang telah terjadi kepada Bunda Maria, manusia biasa seperti kita, akan dialami juga tiap orang yang beriman seperti dia.
Tubuh yang bisa hidup kekal abadi? Pasti harganya jauh lebih mahal daripada Rp 40,522!
* 65% zat asam
* 18% zat arang
* 10% zat air
* 3% zat lemas
* 1.5% zat kapur
* 1% Fosfor
* 0.35% Kalsium
* 0.25% Belerang
* 0.15% Sodium
* 0.15% Khlor
* 0.05% Magnesium
* 0.0004% Besi
* 0.00004% Yodium
Jumlah semua kimia dan mineral ini sekitar Rp 9,005. Modal kita yang paling berharga adalah kulit kita. Berdasarkan harga penjualan kulit sapi, yaitu sekitar Rp 2,251 per kaki persegi, maka harga kulit manusia itu sekitar Rp 31,517!
Rp 40,522... ”harga penjualan” tubuh manusia itu murah banget! Benar-benar harga SALE! Tetapi syukur kepada Tuhan, penilaian-Nya tidak sama dengan penilaian dan pandangan manusia! Kita sungguh berharga di mata-Nya. Tubuh kita yang fana dan hanya empatpuluh ribuan saja ini ”ditakdirkan” menjadi mulia dan agung untuk selama-lamanya!
Dari mana kita tahu itu? Bunda Maria diangkat ke surga, JIWA dan RAGANYA. Kita percaya dan yakin akan kebangkitan badan. Untuk sementara semua saudara-saudara kita yang sudah di surga itu menikmati hidup yang kekal dengan hanya jiwa mereka. Pada Hari Kiamat, semua badan akan dibangkitkan dan akhirnya bersatu lagi dengan jiwanya, sehingga setiap kita dapat tinggal di surga, jiwa dan raganya! Sesungguhnya apa yang telah terjadi kepada Bunda Maria, manusia biasa seperti kita, akan dialami juga tiap orang yang beriman seperti dia.
Tubuh yang bisa hidup kekal abadi? Pasti harganya jauh lebih mahal daripada Rp 40,522!
Label:
bunda maria,
dogma,
jiwa,
kematian,
surga
Sunday, August 7, 2011
JARING LABA-LABA
Waktu Perang Dunia II ada suatu cerita tentang seorang tentara muda dan kawan-kawannya yang sedang dikejar musuh. Mereka berlari-larian dan akhirnya pemuda itu terpisah dari kelompoknya. Berlari dan berjalan tanpa tujuan yang jelas, tiba-tiba dia berhadapan dengan sebuah gua. Karena musuh di belakangnya sudah makin dekat dan juga karena dia sudah begitu lelah, dia memutuskan untuk bersembunyi disitu. Cepat-cepat dia merangkak melalui jalan masuk yang kecil itu, dan di dalam kegelapan dia mulai berdoa kepada Tuhan untuk menyelamatkannya dari bahaya. Dan pada saat itu pula ia berjanji kepada Tuhan bahwa jika ia selamat, dia akan menyerahkan dirinya dan melayani-Nya seumur hidup!
Pada saat pemuda itu berdoa demikian, dia memperhatikan seekor laba-laba yang tiba-tiba muncul dan mulai membuat jaringnya pas di jalan masuk gua itu! Sambil memandangnya, ia berpikir, Ya ampun, aku meminta Tuhan untuk pertolongan dan keselamatan tapi Tuhan mengirim seekor laba-laba! Bagaimana seekor laba-laba dapat menyelamatkan aku?
Makin dekat musuh yang mengejarnya, makin takutlah dia. Di dalam gua yang gelap itu, dia bisa mendengarkan debar jantungnya sendiri pada saat salah satu tentara berdiri pas di depan gua itu dan mengintip ke dalam. Dia menyiapkan dirinya untuk apapun yang dapat terjadi jika tentara itu mencoba masuk ke dalam. Namun begitu kaget dia pada saat musuh itu mundur dari jalan masuk gua itu dan berteriak ke arah kawan-kawannya, ”Tidak mungkin ada orang di dalam gua ini. Sini ada jaring laba-laba yang masih utuh... jika tadi ada orang yang masuk seharusnya ini langsung hancur! Ayo, jalan terus!”
Setelah beberapa tahun kemudian, pemuda itu memenuhi janjinya untuk menyerahkan dirinya dalam pelayanan dan pewartaan Sabda Tuhan. Dia selalu bersemangat memberi kesaksian tentang bagaimana dia mengalami keselamatan secara istimewa. Barangkali tidak jauh dari pengalaman Simon Petrus dan kawan-kawan pada saat perahu mereka diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal! Datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Suatu tanda bahwa Dia menguasai alam semesta… bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya… dan bahwa di saat yang paling kita butuh uluran tangan-Nya, pasti Dia hadir menguatkan dan meneguhkan kita, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Sesungguhnya dimana Tuhan berada, jaring laba-laba itu bagaikan dinding tembok. Dimana Dia tak hadir, dinding tembok itu bagaikan jaring laba-laba.
Pada saat pemuda itu berdoa demikian, dia memperhatikan seekor laba-laba yang tiba-tiba muncul dan mulai membuat jaringnya pas di jalan masuk gua itu! Sambil memandangnya, ia berpikir, Ya ampun, aku meminta Tuhan untuk pertolongan dan keselamatan tapi Tuhan mengirim seekor laba-laba! Bagaimana seekor laba-laba dapat menyelamatkan aku?
Makin dekat musuh yang mengejarnya, makin takutlah dia. Di dalam gua yang gelap itu, dia bisa mendengarkan debar jantungnya sendiri pada saat salah satu tentara berdiri pas di depan gua itu dan mengintip ke dalam. Dia menyiapkan dirinya untuk apapun yang dapat terjadi jika tentara itu mencoba masuk ke dalam. Namun begitu kaget dia pada saat musuh itu mundur dari jalan masuk gua itu dan berteriak ke arah kawan-kawannya, ”Tidak mungkin ada orang di dalam gua ini. Sini ada jaring laba-laba yang masih utuh... jika tadi ada orang yang masuk seharusnya ini langsung hancur! Ayo, jalan terus!”
Setelah beberapa tahun kemudian, pemuda itu memenuhi janjinya untuk menyerahkan dirinya dalam pelayanan dan pewartaan Sabda Tuhan. Dia selalu bersemangat memberi kesaksian tentang bagaimana dia mengalami keselamatan secara istimewa. Barangkali tidak jauh dari pengalaman Simon Petrus dan kawan-kawan pada saat perahu mereka diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal! Datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Suatu tanda bahwa Dia menguasai alam semesta… bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya… dan bahwa di saat yang paling kita butuh uluran tangan-Nya, pasti Dia hadir menguatkan dan meneguhkan kita, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Sesungguhnya dimana Tuhan berada, jaring laba-laba itu bagaikan dinding tembok. Dimana Dia tak hadir, dinding tembok itu bagaikan jaring laba-laba.
Saturday, July 30, 2011
KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN
Kalau saya pergi pelayanan Misa di lingkungan, seringkali ada ramah-tamah yang diawali dengan doa dipimpin salah satu umat, dan doanya kira-kira seperti berikut: “Ya Bapa yang Mahabaik, syukur dan terima kasih kami panjatkan kepada-Mu atas santapan rohani yang telah kami nikmati dan kini sudah disediakan juga santapan jasmani bagi kami. Berkatilah makanan ini dan mereka yang telah menyiapkannya. Tak lupa juga, ya Bapa, kami doakan saudara-saudara kami yang belum dapat menikmati santapan seperti ini, kiranya Bapa dapat memberikan makanan juga kepada mereka....” Doa yang indah, bukan? Namun saya suka membayangkan Tuhan sambil tersenyum langsung membalas doa tersebut, “Kamu sendirilah yang memberi mereka makan!” Tuhan ingin supaya kita tidak hanya peduli pada orang lain, terutama yang dalam kesulitan; Dia ingin agar kita juga berbelas kasih kepada mereka.
Di dalam injil, Yesus melihat orang-orang yang berbondong-bondong kelaparan dan Ia menaruh belas kasih kepada mereka. Belas kasih bagi Yesus berarti mendampingi dan bersimpati dengan tiap orang. Dia merasakan apa yang kita rasakan; Dia kesakitan bila kita kesakitan; Dia kelaparan bila kita kelaparan. Yesus melayani dengan belas kasih. Belas kasih-Nya makin nyata jika kita perhatikan bahwa barusan Dia menerima kabar kematian saudara-Nya, Yohanes Pembaptis. Saat Dia sampai ke tempat dimana sebelumnya Dia merencanakan untuk menyepi, Dia melihat begitu banyak orang yang sudah datang duluan menunggu kedatangan-Nya, merindukan perhatian-Nya, jamahan-Nya, pengajaran-Nya dan penyembuhan-Nya. Wajarlah jika seandainya Yesus marah atau setidaknya suruh mereka pulang dulu dan datang pada kesempatan lain, sebab Dia sedang berduka dan butuh saat untuk menyendiri! Tetapi tidak. Yesus berbelaskasih kepada mereka dan menyediakan waktu khusus untuk melayani mereka.
Kabar Baiknya minggu ini adalah kita pun diminta Yesus untuk melanjutkan apa yang telah Ia lakukan waktu Ia melayani orang-orang itu dengan belas kasih. Pengalaman murid-murid Kristus dalam peristiwa itu adalah pelajaran indah bagi kita. Mereka memperhatikan umat yang mulai kelaparan dan berkata kepada Yesus, "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa” (Matius 14:15). Mereka peduli. Yesus berkata kepada mereka, "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Mereka diharapkan untuk menaruh belas kasih kepada orang-orang itu dan bertanggung-jawab untuk memenuhi kelaparan mereka. Yesus menantang mereka agar tidak hanya peduli, tetapi juga berbelas kasih!
Kepedulian itu memang seperti kembarnya belas kasihan. Namun ternyata tidak persis sama. Kepedulian itu seolah-olah suara dingin dari otak yang memakai logika, sedangkan belas kasihan itu adalah bahasa hati yang hangat. Kepedulian berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi...” Belas kasih berkata, “Tidak perlu mereka pergi...” Kepedulian itu berbicara dari jarak agak jauh demi berbagai perkara dan masalah sosial. Kepedulian itu pasif. Di sisi lain, belas kasih itu akrab dengan kesakitan, penderitaan dan sengsara, mendukung yang patah-hati dan bersahabat dengan yang kesepian. Belas kasih itu aktif.
Di dalam Ekaristi, Yesus hadir di tengah-tengah kita dengan belas kasih-Nya. Di dalam Ekaristi, Yesus memperbanyak lagi roti bagi kita. Dan sama seperti saat itu, Dia ingin melakukan mukjizat penggandaan itu melalui tangan-tangan kita, “Kamu harus memberi mereka makan.” Mukjizat itu terjadi di tengah-tengah kita melalui belas kasih yang kita bagikan, bila kita memberi seperti kita telah menerima, mengampuni seperti kita telah diampuni, dan mengasihi seperti kita telah dikasihi. Di dalam Ekaristi, Yesus menantang kita agar tidak hanya peduli, tetapi juga berbelas kasih!
Di dalam injil, Yesus melihat orang-orang yang berbondong-bondong kelaparan dan Ia menaruh belas kasih kepada mereka. Belas kasih bagi Yesus berarti mendampingi dan bersimpati dengan tiap orang. Dia merasakan apa yang kita rasakan; Dia kesakitan bila kita kesakitan; Dia kelaparan bila kita kelaparan. Yesus melayani dengan belas kasih. Belas kasih-Nya makin nyata jika kita perhatikan bahwa barusan Dia menerima kabar kematian saudara-Nya, Yohanes Pembaptis. Saat Dia sampai ke tempat dimana sebelumnya Dia merencanakan untuk menyepi, Dia melihat begitu banyak orang yang sudah datang duluan menunggu kedatangan-Nya, merindukan perhatian-Nya, jamahan-Nya, pengajaran-Nya dan penyembuhan-Nya. Wajarlah jika seandainya Yesus marah atau setidaknya suruh mereka pulang dulu dan datang pada kesempatan lain, sebab Dia sedang berduka dan butuh saat untuk menyendiri! Tetapi tidak. Yesus berbelaskasih kepada mereka dan menyediakan waktu khusus untuk melayani mereka.
Kabar Baiknya minggu ini adalah kita pun diminta Yesus untuk melanjutkan apa yang telah Ia lakukan waktu Ia melayani orang-orang itu dengan belas kasih. Pengalaman murid-murid Kristus dalam peristiwa itu adalah pelajaran indah bagi kita. Mereka memperhatikan umat yang mulai kelaparan dan berkata kepada Yesus, "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa” (Matius 14:15). Mereka peduli. Yesus berkata kepada mereka, "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Mereka diharapkan untuk menaruh belas kasih kepada orang-orang itu dan bertanggung-jawab untuk memenuhi kelaparan mereka. Yesus menantang mereka agar tidak hanya peduli, tetapi juga berbelas kasih!
Kepedulian itu memang seperti kembarnya belas kasihan. Namun ternyata tidak persis sama. Kepedulian itu seolah-olah suara dingin dari otak yang memakai logika, sedangkan belas kasihan itu adalah bahasa hati yang hangat. Kepedulian berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi...” Belas kasih berkata, “Tidak perlu mereka pergi...” Kepedulian itu berbicara dari jarak agak jauh demi berbagai perkara dan masalah sosial. Kepedulian itu pasif. Di sisi lain, belas kasih itu akrab dengan kesakitan, penderitaan dan sengsara, mendukung yang patah-hati dan bersahabat dengan yang kesepian. Belas kasih itu aktif.
Di dalam Ekaristi, Yesus hadir di tengah-tengah kita dengan belas kasih-Nya. Di dalam Ekaristi, Yesus memperbanyak lagi roti bagi kita. Dan sama seperti saat itu, Dia ingin melakukan mukjizat penggandaan itu melalui tangan-tangan kita, “Kamu harus memberi mereka makan.” Mukjizat itu terjadi di tengah-tengah kita melalui belas kasih yang kita bagikan, bila kita memberi seperti kita telah menerima, mengampuni seperti kita telah diampuni, dan mengasihi seperti kita telah dikasihi. Di dalam Ekaristi, Yesus menantang kita agar tidak hanya peduli, tetapi juga berbelas kasih!
Sunday, July 24, 2011
GELANG MUTIARA
”Mom, pliiiis.. beliin donk,” kata seorang anak kecil kepada ibunya saat melihat gelang mutiara di stan aksesori. Ibunya bertanya kepada wanita yang menjaga toko berapa harga gelang imitasi yang lucu itu. “Duapuluh ribu bu, import dari Korea,” sahutnya. Sang ibu berpaling lagi kepada si kecil manis yang sedang memandangnya dengan penuh harapan. “Ok sayang, minggu depan kan birthday kamu. Kalau kamu jadi anak yang baik, taat dan cepat bobo malam, nanti Mama beliin ya.” Beberapa hari kemudian, pada hari ulang tahunnya yang ke-enam, dia dapat kado yang dinanti-nantikan itu, gelang mutiara! Dia sangat suka pada gelangnya itu. Dia memakainya dimana-mana, di Gereja, di sekolah, bahkan di tempat tidurnya juga! Hanya pada saat dia sedang bermain baru dia melepas gelangnya itu. Mamanya bilang jika kena keringat gelangnya bisa berganti warna.
Dia mempunyai ayah yang baik sekali. Setiap malam sebelum si kecil tidur, pasti ayahnya datang ke kamarnya dan membacakan buku cerita untuk dia. Suatu malam setelah selesai satu ceritera, dia bertanya, “Nak, sayang ngga ama Daddy?” “Oh tentu saja, aku sayang Daddy!” “Kalau begitu berikan kepada Daddy gelang mutiara kamu ya.” “Hmm… jangan gelang saya Dad,” kata si kecil sambil tersenyum, ”tapi kalau Daddy mau, bisa ambil boneka saya yang bisa nyanyi itu.” “Ngga apa-apa nak,” kata sang ayah, “Daddy sayang kamu. Goodnight.” Kemudian dia mencium anaknya.
Seminggu kemudian, setelah membaca buku cerita, dia bertanya lagi kepada si kecil, “Nak, sayang ngga ama Daddy?” “Oh tentu saja, aku sayang Daddy!” “Kalau begitu berikan kepada Daddy gelang mutiara kamu ya.” “Hmm… jangan gelang saya Dad,” kata si kecil sambil tersenyum, ”ambil saja boneka Barbie kesukaan saya oke.” ”Ngga apa-apa, sayangku,” kata ayahnya, ”tidur baik-baik ya. Tuhan sayang kamu dan Daddy juga!” Dan seperti biasa dia mencium anaknya.
Suatu malam, pada saat ayahnya masuk kamar, dia menemukan si kecil sedang duduk di tempat tidur dan sepertinya sedang menangis. ”Ada apa sayang?” tanyanya kepada anak tercinta yang tidak mengatakan apa-apa tetapi langsung mengulurkan tangan kepada ayahnya. Saat membuka tangannya itu, ternyata dia sedang memegang gelang kesayangannya. ”Daddy, ini untuk Daddy!” Airmatanya berlinang, sang ayah menerima gelang murahan itu dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain dia mengambil sebuah kotak kecil yang berisi gelang mutiara yang asli dan memberikannya kepada si kecil!
Selama itu ternyata sang ayah sudah menyimpannya. Dia hanya menunggu saat si kecil sudah rela menyerahkan gelang mutiara aksesori itu supaya dia bisa memberikan gelang mutiara yang tulen dan asli! Sama juga dengan Allah Bapa kita. Dia menunggu saat kita rela menyerahkan kepada-Nya apapun yang murahan dan tak berguna di dalam hidup kita supaya Dia bisa memberikan harta yang benar-benar indah dan berharga! Tuhan sungguh baik, bukan?
Apakah kamu masih berpegang erat pada sesuatu yang jelas Tuhan ingin kamu lepaskan? Mungkinkah kamu masih berpegang pada sesuatu yang tidak benar, kebiasaan-kebiasaan buruk atau cara hidup yang jauh dari Tuhan dan amat sangat susah meninggalkannya? Memang apa yang ada di dalam tangan Tuhan kamu tidak mengetahui, namun percayalah… Dia tak akan pernah mengambil apapun daripadamu tanpa menggantikannya dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan berharga!
Dia mempunyai ayah yang baik sekali. Setiap malam sebelum si kecil tidur, pasti ayahnya datang ke kamarnya dan membacakan buku cerita untuk dia. Suatu malam setelah selesai satu ceritera, dia bertanya, “Nak, sayang ngga ama Daddy?” “Oh tentu saja, aku sayang Daddy!” “Kalau begitu berikan kepada Daddy gelang mutiara kamu ya.” “Hmm… jangan gelang saya Dad,” kata si kecil sambil tersenyum, ”tapi kalau Daddy mau, bisa ambil boneka saya yang bisa nyanyi itu.” “Ngga apa-apa nak,” kata sang ayah, “Daddy sayang kamu. Goodnight.” Kemudian dia mencium anaknya.
Seminggu kemudian, setelah membaca buku cerita, dia bertanya lagi kepada si kecil, “Nak, sayang ngga ama Daddy?” “Oh tentu saja, aku sayang Daddy!” “Kalau begitu berikan kepada Daddy gelang mutiara kamu ya.” “Hmm… jangan gelang saya Dad,” kata si kecil sambil tersenyum, ”ambil saja boneka Barbie kesukaan saya oke.” ”Ngga apa-apa, sayangku,” kata ayahnya, ”tidur baik-baik ya. Tuhan sayang kamu dan Daddy juga!” Dan seperti biasa dia mencium anaknya.
Suatu malam, pada saat ayahnya masuk kamar, dia menemukan si kecil sedang duduk di tempat tidur dan sepertinya sedang menangis. ”Ada apa sayang?” tanyanya kepada anak tercinta yang tidak mengatakan apa-apa tetapi langsung mengulurkan tangan kepada ayahnya. Saat membuka tangannya itu, ternyata dia sedang memegang gelang kesayangannya. ”Daddy, ini untuk Daddy!” Airmatanya berlinang, sang ayah menerima gelang murahan itu dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain dia mengambil sebuah kotak kecil yang berisi gelang mutiara yang asli dan memberikannya kepada si kecil!
Selama itu ternyata sang ayah sudah menyimpannya. Dia hanya menunggu saat si kecil sudah rela menyerahkan gelang mutiara aksesori itu supaya dia bisa memberikan gelang mutiara yang tulen dan asli! Sama juga dengan Allah Bapa kita. Dia menunggu saat kita rela menyerahkan kepada-Nya apapun yang murahan dan tak berguna di dalam hidup kita supaya Dia bisa memberikan harta yang benar-benar indah dan berharga! Tuhan sungguh baik, bukan?
Apakah kamu masih berpegang erat pada sesuatu yang jelas Tuhan ingin kamu lepaskan? Mungkinkah kamu masih berpegang pada sesuatu yang tidak benar, kebiasaan-kebiasaan buruk atau cara hidup yang jauh dari Tuhan dan amat sangat susah meninggalkannya? Memang apa yang ada di dalam tangan Tuhan kamu tidak mengetahui, namun percayalah… Dia tak akan pernah mengambil apapun daripadamu tanpa menggantikannya dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan berharga!
Friday, July 15, 2011
BIARKANLAH GANDUM DAN LALANG TUMBUH BERSAMA
Apabila saudara-saudara melihat wajah pastor-pastor hari ini agak lebih cerah dan mereka memancarkan cahaya yang luar biasa (barangkali ada juga yang memiliki sinar cahaya yang melingkar di bagian atas kepalanya hehee), jangan heran! Kami ini baru turun dari “gunung perjumpaan dengan Tuhan.” Terima kasih atas segala doa saudara sekalian supaya retret tahunan kami bisa berjalan dengan lancar dan sungguh penuh rahmat. Apa yang Pastor Boedi katakan minggu yang lalu – dengan setengah bergurau tetapi juga setengah serius - itu benar. Kami ibaratnya mobil yang masuk bengkel. Dan semakin mobil itu banyak kerusakan dan yang tidak beres, semakin lama harus ditinggal di bengkel. Makanya retret kami itu sampai enam hari!
Selama retret ini, perumpamaan Yesus tentang gandum dan lalang sempat menjadi bahan renungan saya. Mengapa ada kejahatan dan orang-orang jahat di dunia ini? Injil pada Minggu ke XVI ini menjawab persoalan tersebut. Kata orang-orang yang malas ke gereja, mereka tidak mau ke gereja karena disitu banyak orang munafik! Kalau saja Tuhan bisa memusnahkan semua orang jahat supaya tinggallah hanya orang-orang yang baik dan benar! Tapi coba berpikir-pikir... seandainya benar-benar Tuhan datang pada tengah malam nanti untuk manghancurkan SEMUA yang jahat! Pada pukul 12:01, kira-kira berapa ya dari kita yang masih berdiri? TAK ADA SATU PUN! Makanya perumpamaan Yesus sungguh memberi pengharapan. Kepada kita yang kadang-kadang sok tau dan sok benar, dan mau menghakimi yang lain karena mereka tidak seperti kita, Yesus mau katakan, Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai (Matius 13:29-30).
Apa yang Yesus ajarkan melalui perumpamaan-Nya itu sebenarnya berlaku dengan pribadi kita juga, sebab gandum dan lalang itu pun berada di dalam diri kita. Hari-hari retret, baik bagi kami kaum religius maupun bagi saudara-saudara, adalah hari-hari yang sangat istimewa dan luar biasa. Bapak kami Don Bosco ingin agar kami menganggapnya sebagai dasar dan sekaligus perpaduan seluruh hidup doa kami. Di saat-saat yang penuh rahmat itu, kita begitu dekat dengan Tuhan, dan makin dekat dengan yang Mahakudus berarti makin sadar akan kedosaan kita! Makin terang cahayanya, makin jelas kelihatan betapa kita ini penuh dengan noda, kotoran dan sampah. Kita pun dapat melihat dengan makin jelas keberadaan gandum dan lalang di dalam hati kita!
Kabar Baiknya adalah Tuhan tidak mau repot dengan langsung membersihkan kebun dan mencabut semua rumput dan lalang. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama... Kenapa? Karena kita tidak seratus persen sama seperti tanaman itu. Walaupun pada awalnya, kesamaan pada gandum dan lalang itu hampir sempurna, benar-benar tidak ketahuan mana yang rumput dan mana yang gandum. Hanya setelah beberapa saat, jika bibit sudah keluar baru perbedaannya makin kelihatan secara jelas sekali. Dan tidak mungkin gandum itu bisa berubah menjadi lalang, atau sebaliknya! Tetapi manusia bisa berubah. Syukur kepada Tuhan atas kebebasan dan rahmat yang Ia karuniakan kepada kita. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama... jangan dulu mencabut lalangnya, berikan dia waktu berubah menjadi gandum! Berikan dia kesempatan untuk menyesali dosanya, bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
Firman Tuhan hari ini sungguh menghibur. Bukan dalam arti membuat kita santai dan nyaman, tetapi dengan maksud memberikan harapan. Mazmur menggambarkan Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia (Mzm 86:15). Di dalam bacaan pertama, Salomo menyatakan Anak-anak-Mu Kauberi harapan yang baik ini: Kauberikan kesempatan untuk bertobat apabila mereka berdosa (Kebijaksanaan 12:19). Sabda Tuhan yang penuh pengharapan bagi kita yang sementara ini masih harus berurusan terus dengan gandum dan lalang, baik di sekitar kita maupun di dalam diri kita sendiri.
Selama retret ini, perumpamaan Yesus tentang gandum dan lalang sempat menjadi bahan renungan saya. Mengapa ada kejahatan dan orang-orang jahat di dunia ini? Injil pada Minggu ke XVI ini menjawab persoalan tersebut. Kata orang-orang yang malas ke gereja, mereka tidak mau ke gereja karena disitu banyak orang munafik! Kalau saja Tuhan bisa memusnahkan semua orang jahat supaya tinggallah hanya orang-orang yang baik dan benar! Tapi coba berpikir-pikir... seandainya benar-benar Tuhan datang pada tengah malam nanti untuk manghancurkan SEMUA yang jahat! Pada pukul 12:01, kira-kira berapa ya dari kita yang masih berdiri? TAK ADA SATU PUN! Makanya perumpamaan Yesus sungguh memberi pengharapan. Kepada kita yang kadang-kadang sok tau dan sok benar, dan mau menghakimi yang lain karena mereka tidak seperti kita, Yesus mau katakan, Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai (Matius 13:29-30).
Apa yang Yesus ajarkan melalui perumpamaan-Nya itu sebenarnya berlaku dengan pribadi kita juga, sebab gandum dan lalang itu pun berada di dalam diri kita. Hari-hari retret, baik bagi kami kaum religius maupun bagi saudara-saudara, adalah hari-hari yang sangat istimewa dan luar biasa. Bapak kami Don Bosco ingin agar kami menganggapnya sebagai dasar dan sekaligus perpaduan seluruh hidup doa kami. Di saat-saat yang penuh rahmat itu, kita begitu dekat dengan Tuhan, dan makin dekat dengan yang Mahakudus berarti makin sadar akan kedosaan kita! Makin terang cahayanya, makin jelas kelihatan betapa kita ini penuh dengan noda, kotoran dan sampah. Kita pun dapat melihat dengan makin jelas keberadaan gandum dan lalang di dalam hati kita!
Kabar Baiknya adalah Tuhan tidak mau repot dengan langsung membersihkan kebun dan mencabut semua rumput dan lalang. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama... Kenapa? Karena kita tidak seratus persen sama seperti tanaman itu. Walaupun pada awalnya, kesamaan pada gandum dan lalang itu hampir sempurna, benar-benar tidak ketahuan mana yang rumput dan mana yang gandum. Hanya setelah beberapa saat, jika bibit sudah keluar baru perbedaannya makin kelihatan secara jelas sekali. Dan tidak mungkin gandum itu bisa berubah menjadi lalang, atau sebaliknya! Tetapi manusia bisa berubah. Syukur kepada Tuhan atas kebebasan dan rahmat yang Ia karuniakan kepada kita. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama... jangan dulu mencabut lalangnya, berikan dia waktu berubah menjadi gandum! Berikan dia kesempatan untuk menyesali dosanya, bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
Firman Tuhan hari ini sungguh menghibur. Bukan dalam arti membuat kita santai dan nyaman, tetapi dengan maksud memberikan harapan. Mazmur menggambarkan Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia (Mzm 86:15). Di dalam bacaan pertama, Salomo menyatakan Anak-anak-Mu Kauberi harapan yang baik ini: Kauberikan kesempatan untuk bertobat apabila mereka berdosa (Kebijaksanaan 12:19). Sabda Tuhan yang penuh pengharapan bagi kita yang sementara ini masih harus berurusan terus dengan gandum dan lalang, baik di sekitar kita maupun di dalam diri kita sendiri.
Tuesday, July 12, 2011
PERBEDAAN DI DALAM KELUARGA
Bacaan dari Sirakh (3:2-6, 12-14) menyimpulkan inti dari hubungan antara ayah, ibu dan anak. Penulis Kitab tersebut mengingatkan mengenai tanggungjawab anak-anak untuk menghormati orang tuanya – meskipun kadang-kadang susah. Juga ia menyebutkan dua akibat yang dijanjikan Kitab Suci bagi mereka yang menghormati orang tua. Yang pertama adalah harta, yang mungkin tidak seperti Bill Gates punya, tapi suatu kecukupan dan bahkan kelimpahan dalam hidup sehari-hari. Kedua adalah barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya. Bukankah dua hal itu yang setiap orang menginginkan? Tidak ada seorangpun yang ingin dibebani hutang, atau hidup dalam kemiskinan dan kesusahan. Dan tidak ada orang yang ingin mati dalam usia muda. Kita semua mengharapkan hidup yang panjang dan sejahtera. Nah menurut Sirakh, cara untuk memperolehnya adalah dengan menghormati dan memuliakan orang tua.
Sikap ingin menghormati dan menghargai orang tua adalah sesuatu yang ditanamkan Tuhan Allah di dalam hati manusia. Setiap kebudayaan dan tradisi mempunyai suatu cara untuk menghormati nenek moyang, terutama orang tua. Tuhan telah menanamkan sikap itu dalam hati kita karena suatu alasan. Dorongan hati seperti itu membantu untuk menjamin keluarga yang mantap – dan keluarga itu adalah tempat dimana Tuhan ingin kita belajar mencintai. Cinta itu berarti menerima dan mengasihi mereka yang berbeda.
Kita memilih teman-teman kita, tapi kita “ditempatkan” di dalam keluarga. Teman-teman itu berkumpul berdasarkan keinginan dan selera yang sama. Anggota-anggota keluarga belum tentu ada kesamaan. Saudara kakak dan adik itu adalah dua jenis mahkluk yang berbeda. Seperti anjing dan kucing, mereka biasanya tak bisa hidup akur bersama! Apalagi seorang ayah dan anak remajanya... mereka mempunyai dunia masing-masing yang luar biasa berbeda! Keluargalah yang menyatukan individu-individu yang berbeda ini. Cinta kasih yang membuat keluarga itu tetap satu dalam keanekaragaman.
Keluarga yang anggota-anggotanya paling berbeda adalah Keluarga Kudus. Perbedaan di antara Yesus dan Bunda-Nya itu sungguh lebih jauh daripada perbedaan antara seorang malaikat dan seekor semut! Yesus itu Allah, Maria itu mahkluk. Juga perbedaan antara Maria dan suaminya Yosep lebih besar daripada perbedaan antara dua orang biasa. Maria itu suci, dikandung tanpa noda, sedangkan Yosep, walaupun dia adalah yang terbaik di antara semua laki-laki, tetaplah orang berdosa seperti kita.
Jadi dibandingkan dengan Keluarga Kudus, perbedaan-perbedaan yang dialami keluarga kita itu sebenarnya tak seberapa. Tuhan menghendaki agar kita menggalang perbedaan-perbedaan itu ke kesatuan. Itu butuh pengorbanan – dengan kata lain, Cinta Kasih. Sungguh tidak mudah. Sesungguhnya Keluarga Kudus – Yesus, Maria dan Yosep – adalah teladan dan inspirasi bagi kita untuk saling mengasihi dan menjadi Keluarga yang sejati.
Sikap ingin menghormati dan menghargai orang tua adalah sesuatu yang ditanamkan Tuhan Allah di dalam hati manusia. Setiap kebudayaan dan tradisi mempunyai suatu cara untuk menghormati nenek moyang, terutama orang tua. Tuhan telah menanamkan sikap itu dalam hati kita karena suatu alasan. Dorongan hati seperti itu membantu untuk menjamin keluarga yang mantap – dan keluarga itu adalah tempat dimana Tuhan ingin kita belajar mencintai. Cinta itu berarti menerima dan mengasihi mereka yang berbeda.
Kita memilih teman-teman kita, tapi kita “ditempatkan” di dalam keluarga. Teman-teman itu berkumpul berdasarkan keinginan dan selera yang sama. Anggota-anggota keluarga belum tentu ada kesamaan. Saudara kakak dan adik itu adalah dua jenis mahkluk yang berbeda. Seperti anjing dan kucing, mereka biasanya tak bisa hidup akur bersama! Apalagi seorang ayah dan anak remajanya... mereka mempunyai dunia masing-masing yang luar biasa berbeda! Keluargalah yang menyatukan individu-individu yang berbeda ini. Cinta kasih yang membuat keluarga itu tetap satu dalam keanekaragaman.
Keluarga yang anggota-anggotanya paling berbeda adalah Keluarga Kudus. Perbedaan di antara Yesus dan Bunda-Nya itu sungguh lebih jauh daripada perbedaan antara seorang malaikat dan seekor semut! Yesus itu Allah, Maria itu mahkluk. Juga perbedaan antara Maria dan suaminya Yosep lebih besar daripada perbedaan antara dua orang biasa. Maria itu suci, dikandung tanpa noda, sedangkan Yosep, walaupun dia adalah yang terbaik di antara semua laki-laki, tetaplah orang berdosa seperti kita.
Jadi dibandingkan dengan Keluarga Kudus, perbedaan-perbedaan yang dialami keluarga kita itu sebenarnya tak seberapa. Tuhan menghendaki agar kita menggalang perbedaan-perbedaan itu ke kesatuan. Itu butuh pengorbanan – dengan kata lain, Cinta Kasih. Sungguh tidak mudah. Sesungguhnya Keluarga Kudus – Yesus, Maria dan Yosep – adalah teladan dan inspirasi bagi kita untuk saling mengasihi dan menjadi Keluarga yang sejati.
Saturday, June 25, 2011
MAKIN LAPAR MAKIN LEZAT MAKANANNYA
Hari ini kita merayakan Pesta Corpus Christi – Tubuh dan Darah Kristus yang Mahakudus. Di dalam Injil, Yesus berkata, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya...” (Yoh 6:51). Santo Paulus mengingatkan kita bahwa roti yang kita bagikan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus sedangkan piala yang kita bagikan adalah persekutuan dengan darah Kristus (I Kor 10:16). Kita percaya bahwa Ekaristi itu adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus. Tetapi kenapa ya, sepertinya kita menganggap Misa itu biasa-biasa saja? Sepertinya, bagi banyak umat, Ekaristi itu bukan hal besar! Tahukah saudara bahwa Paus Benediktus XVI menghimbau umat yang menyambut Komuni di Misa yang beliau rayakan supaya berlutut dan menerima hosti kudus di lidah? Waktu seorang wartawan bertanya kepada beliau mengapa demikian, Sri Paus menjawab,
"Saya tidak menentang pada prinsipnya menyambut Komuni di tangan, saya juga pernah menerima dan menerimakan Komuni kudus dengan cara itu sendiri. Ide di balik himbauan saya meminta orang berlutut sambil menerima Komuni di lidah adalah untuk mengirim sinyal dan untuk menggarisbawahi Kehadiran yang Nyata dengan tanda seru! Salah satu alasan penting adalah bahwa ada bahaya besar kedangkalan persis di dalam perayaan-perayaan besar yang kita adakan di Santo Petrus, baik di Basilika maupun di Plaza. Aku telah mendengar orang-orang yang setelah menerima Komuni, menyimpan Hosti di dompet mereka untuk dibawa pulang sebagai semacam suvenir! Dalam konteks ini juga, di mana orang dapat berpikir bahwa setiap orang secara otomatis harus menerima Komuni – jadi orang lain maju, saya juga ikut maju - aku ingin mengirim sinyal yang jelas. Aku ingin itu menjadi sungguh jelas: Sesuatu yang sangat istimewa sedang terjadi di sini! Dia ada disini, Seorang yang patut kita sembah dan di hadapan-Nya kita harus berlutut. Perhatikan! Ini bukan sekedar suatu ritual sosial di mana kita dapat mengambil bagian semaunya kita."
Nah, saya tidak akan meminta kalian untuk berlutut dan menyambut Komuni di lidah. Di Keuskupan Surabaya, kebiasaan kita adalah menyambut Komuni sambil berdiri dan umat bebas menerima Hosti di lidah atau di tangan. Namun ada beberapa hal ini yang saya kira bisa membantu kita memperdalam kekaguman dan hormat kita terhadap Ekaristi.
Yang pertama adalah kita berusaha menambahkan kehausan dan kelaparan kita akan santapan rohani. Di dalam Bacaan Pertama kita mendengar bagaimana umat Israel mengalami kelaparan... Tuhan Allah membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna (Ul. 8:3), maksudnya, “manna” itu makanan yang sangat sederhana tetapi pada saat itu, saking laparnya umat Israel sehingga makanan itu menjadi sangat lezat! Sebaliknya, apabila seorang membuat dirinya kenyang dengan cemilan dan “junk-food,” makanan dari pesta besar pun sudah tidak menarik baginya. Hal yang sama terjadi dalam Ekaristi. Apabila seorang memenuhi diri terus dengan “junk-food” rohani (TV, internet, facebook, twitter, MTV dan berbagai hiburan lain), lama-kelamaan Misa itu makin tidak menarik lagi. Kita harus berani “berpuasa” dalam hal-hal seperti itu dan meluangkan beberapa waktu untuk keheningan, baru kita akan menikmati Ekaristi.
Cara yang kedua untuk menambahkan kelaparan kita akan Ekaristi adalah berusaha untuk mengembalikan kesadaran yang mendalam akan Kehadiran yang Nyata Yesus Kristus di dalam Ekaristi. “Inilah Tubuh-Ku... Inilah piala Darah-Ku!” Bukan lambang! Bukan simbol! Dari awal, inilah kepercayaan dan iman kita. Sejarah penuh dengan kesaksian-kesaksian dan kisah mukjizat-mukjizat Ekaristi yang Tuhan mengizinkan terjadi supaya mengingatkan manusia terus akan Kehadiran-Nya yang Nyata. Satu contoh yang terjadi di Sienna, Itali pada tahun 1730, bagaimana hosti-hosti yang sudah dikonsekrasikan itu tidak pernah berubah selama 250 tahun, dan sampai sekarang. Pada tahun 1171 di Ferrara, juga Itali, dimana Darah dari hosti yang sedang dibagi itu muncrat dan “menodai” bagian atas altar, dan sampai sekarang umat dapat melihat “noda-noda” itu dan menyembah Darah Mahakudus! Mungkin mukjizat yang terkenal, di Lanciano, Itali, pada abad ke-VIII, bagaimana Hosti yang dikonsekrasikan seorang imam itu sungguh-sungguh berubah menjadi Daging dan Darah Manusia, dan sampai sekarang para peziarah dapat melihatnya! Atau yang belum lama ini pada tahun 2001 di Chirattakonam, India, dimana gambar wajah Yesus tiba-tiba nampak di Hosti kudus yang dipakai untuk adorasi. Mungkin lebih baik saudara-saudara sendiri yang mencarinya di internet, coba klik “Eucharistic Miracles” (mukjizat-mukjizat Ekaristi), dan betapa iman kita diteguhkan sambil membaca kisah-kisah itu yang sungguh menunjukkan Kehadiran yang Nyata Yesus Kristus di dalam Ekaristi.
Yang ketiga adalah sikap kita persis sebelum menyambut Komuni Kudus. Saat “Anak Domba Allah” sudah mulai dinyanyikan atau diucapkan, berusahalah untuk sungguh sadarkan diri bahwa “inilah saatnya, Yesus Kristus, Tuhan dan Allah, akan masuk ke dalam hatiku.” Sambil orang yang di depan kamu menyambut Hosti, tunduklah kepalamu sebagai tanda hormat dan penyembahan kepada Sakramen Mahakudus. Kemudian jawablah dengan jelas “Amin” saat imam atau prodiakon mengangkat Hosti kudus itu di depan kamu sambil berkata, “Tubuh Kristus.”
Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Kita dapat menambah kelaparan dan kerinduan kita akan Ekaristi dengan 1) menghindari hal-hal yang tidak sungguh penting dan meluangkan waktu untuk keheningan, 2) menyadarkan diri akan Kehadiran yang Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi dan 3) memperhatikan sikap kita saat menyambut Komuni Kudus. Sesungguhnya hanyalah Yesus di dalam Ekaristi yang dapat memuaskan kelaparan kita yang paling dalam.
"Saya tidak menentang pada prinsipnya menyambut Komuni di tangan, saya juga pernah menerima dan menerimakan Komuni kudus dengan cara itu sendiri. Ide di balik himbauan saya meminta orang berlutut sambil menerima Komuni di lidah adalah untuk mengirim sinyal dan untuk menggarisbawahi Kehadiran yang Nyata dengan tanda seru! Salah satu alasan penting adalah bahwa ada bahaya besar kedangkalan persis di dalam perayaan-perayaan besar yang kita adakan di Santo Petrus, baik di Basilika maupun di Plaza. Aku telah mendengar orang-orang yang setelah menerima Komuni, menyimpan Hosti di dompet mereka untuk dibawa pulang sebagai semacam suvenir! Dalam konteks ini juga, di mana orang dapat berpikir bahwa setiap orang secara otomatis harus menerima Komuni – jadi orang lain maju, saya juga ikut maju - aku ingin mengirim sinyal yang jelas. Aku ingin itu menjadi sungguh jelas: Sesuatu yang sangat istimewa sedang terjadi di sini! Dia ada disini, Seorang yang patut kita sembah dan di hadapan-Nya kita harus berlutut. Perhatikan! Ini bukan sekedar suatu ritual sosial di mana kita dapat mengambil bagian semaunya kita."
Nah, saya tidak akan meminta kalian untuk berlutut dan menyambut Komuni di lidah. Di Keuskupan Surabaya, kebiasaan kita adalah menyambut Komuni sambil berdiri dan umat bebas menerima Hosti di lidah atau di tangan. Namun ada beberapa hal ini yang saya kira bisa membantu kita memperdalam kekaguman dan hormat kita terhadap Ekaristi.
Yang pertama adalah kita berusaha menambahkan kehausan dan kelaparan kita akan santapan rohani. Di dalam Bacaan Pertama kita mendengar bagaimana umat Israel mengalami kelaparan... Tuhan Allah membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna (Ul. 8:3), maksudnya, “manna” itu makanan yang sangat sederhana tetapi pada saat itu, saking laparnya umat Israel sehingga makanan itu menjadi sangat lezat! Sebaliknya, apabila seorang membuat dirinya kenyang dengan cemilan dan “junk-food,” makanan dari pesta besar pun sudah tidak menarik baginya. Hal yang sama terjadi dalam Ekaristi. Apabila seorang memenuhi diri terus dengan “junk-food” rohani (TV, internet, facebook, twitter, MTV dan berbagai hiburan lain), lama-kelamaan Misa itu makin tidak menarik lagi. Kita harus berani “berpuasa” dalam hal-hal seperti itu dan meluangkan beberapa waktu untuk keheningan, baru kita akan menikmati Ekaristi.
Cara yang kedua untuk menambahkan kelaparan kita akan Ekaristi adalah berusaha untuk mengembalikan kesadaran yang mendalam akan Kehadiran yang Nyata Yesus Kristus di dalam Ekaristi. “Inilah Tubuh-Ku... Inilah piala Darah-Ku!” Bukan lambang! Bukan simbol! Dari awal, inilah kepercayaan dan iman kita. Sejarah penuh dengan kesaksian-kesaksian dan kisah mukjizat-mukjizat Ekaristi yang Tuhan mengizinkan terjadi supaya mengingatkan manusia terus akan Kehadiran-Nya yang Nyata. Satu contoh yang terjadi di Sienna, Itali pada tahun 1730, bagaimana hosti-hosti yang sudah dikonsekrasikan itu tidak pernah berubah selama 250 tahun, dan sampai sekarang. Pada tahun 1171 di Ferrara, juga Itali, dimana Darah dari hosti yang sedang dibagi itu muncrat dan “menodai” bagian atas altar, dan sampai sekarang umat dapat melihat “noda-noda” itu dan menyembah Darah Mahakudus! Mungkin mukjizat yang terkenal, di Lanciano, Itali, pada abad ke-VIII, bagaimana Hosti yang dikonsekrasikan seorang imam itu sungguh-sungguh berubah menjadi Daging dan Darah Manusia, dan sampai sekarang para peziarah dapat melihatnya! Atau yang belum lama ini pada tahun 2001 di Chirattakonam, India, dimana gambar wajah Yesus tiba-tiba nampak di Hosti kudus yang dipakai untuk adorasi. Mungkin lebih baik saudara-saudara sendiri yang mencarinya di internet, coba klik “Eucharistic Miracles” (mukjizat-mukjizat Ekaristi), dan betapa iman kita diteguhkan sambil membaca kisah-kisah itu yang sungguh menunjukkan Kehadiran yang Nyata Yesus Kristus di dalam Ekaristi.
Yang ketiga adalah sikap kita persis sebelum menyambut Komuni Kudus. Saat “Anak Domba Allah” sudah mulai dinyanyikan atau diucapkan, berusahalah untuk sungguh sadarkan diri bahwa “inilah saatnya, Yesus Kristus, Tuhan dan Allah, akan masuk ke dalam hatiku.” Sambil orang yang di depan kamu menyambut Hosti, tunduklah kepalamu sebagai tanda hormat dan penyembahan kepada Sakramen Mahakudus. Kemudian jawablah dengan jelas “Amin” saat imam atau prodiakon mengangkat Hosti kudus itu di depan kamu sambil berkata, “Tubuh Kristus.”
Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Kita dapat menambah kelaparan dan kerinduan kita akan Ekaristi dengan 1) menghindari hal-hal yang tidak sungguh penting dan meluangkan waktu untuk keheningan, 2) menyadarkan diri akan Kehadiran yang Nyata Yesus Kristus dalam Ekaristi dan 3) memperhatikan sikap kita saat menyambut Komuni Kudus. Sesungguhnya hanyalah Yesus di dalam Ekaristi yang dapat memuaskan kelaparan kita yang paling dalam.
Subscribe to:
Comments (Atom)