Showing posts with label harta. Show all posts
Showing posts with label harta. Show all posts

Sunday, July 24, 2011

GELANG MUTIARA

”Mom, pliiiis.. beliin donk,” kata seorang anak kecil kepada ibunya saat melihat gelang mutiara di stan aksesori. Ibunya bertanya kepada wanita yang menjaga toko berapa harga gelang imitasi yang lucu itu. “Duapuluh ribu bu, import dari Korea,” sahutnya. Sang ibu berpaling lagi kepada si kecil manis yang sedang memandangnya dengan penuh harapan. “Ok sayang, minggu depan kan birthday kamu. Kalau kamu jadi anak yang baik, taat dan cepat bobo malam, nanti Mama beliin ya.” Beberapa hari kemudian, pada hari ulang tahunnya yang ke-enam, dia dapat kado yang dinanti-nantikan itu, gelang mutiara! Dia sangat suka pada gelangnya itu. Dia memakainya dimana-mana, di Gereja, di sekolah, bahkan di tempat tidurnya juga! Hanya pada saat dia sedang bermain baru dia melepas gelangnya itu. Mamanya bilang jika kena keringat gelangnya bisa berganti warna.

Dia mempunyai ayah yang baik sekali. Setiap malam sebelum si kecil tidur, pasti ayahnya datang ke kamarnya dan membacakan buku cerita untuk dia. Suatu malam setelah selesai satu ceritera, dia bertanya, “Nak, sayang ngga ama Daddy?” “Oh tentu saja, aku sayang Daddy!” “Kalau begitu berikan kepada Daddy gelang mutiara kamu ya.” “Hmm… jangan gelang saya Dad,” kata si kecil sambil tersenyum, ”tapi kalau Daddy mau, bisa ambil boneka saya yang bisa nyanyi itu.” “Ngga apa-apa nak,” kata sang ayah, “Daddy sayang kamu. Goodnight.” Kemudian dia mencium anaknya.

Seminggu kemudian, setelah membaca buku cerita, dia bertanya lagi kepada si kecil, “Nak, sayang ngga ama Daddy?” “Oh tentu saja, aku sayang Daddy!” “Kalau begitu berikan kepada Daddy gelang mutiara kamu ya.” “Hmm… jangan gelang saya Dad,” kata si kecil sambil tersenyum, ”ambil saja boneka Barbie kesukaan saya oke.” ”Ngga apa-apa, sayangku,” kata ayahnya, ”tidur baik-baik ya. Tuhan sayang kamu dan Daddy juga!” Dan seperti biasa dia mencium anaknya.

Suatu malam, pada saat ayahnya masuk kamar, dia menemukan si kecil sedang duduk di tempat tidur dan sepertinya sedang menangis. ”Ada apa sayang?” tanyanya kepada anak tercinta yang tidak mengatakan apa-apa tetapi langsung mengulurkan tangan kepada ayahnya. Saat membuka tangannya itu, ternyata dia sedang memegang gelang kesayangannya. ”Daddy, ini untuk Daddy!” Airmatanya berlinang, sang ayah menerima gelang murahan itu dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain dia mengambil sebuah kotak kecil yang berisi gelang mutiara yang asli dan memberikannya kepada si kecil!

Selama itu ternyata sang ayah sudah menyimpannya. Dia hanya menunggu saat si kecil sudah rela menyerahkan gelang mutiara aksesori itu supaya dia bisa memberikan gelang mutiara yang tulen dan asli! Sama juga dengan Allah Bapa kita. Dia menunggu saat kita rela menyerahkan kepada-Nya apapun yang murahan dan tak berguna di dalam hidup kita supaya Dia bisa memberikan harta yang benar-benar indah dan berharga! Tuhan sungguh baik, bukan?

Apakah kamu masih berpegang erat pada sesuatu yang jelas Tuhan ingin kamu lepaskan? Mungkinkah kamu masih berpegang pada sesuatu yang tidak benar, kebiasaan-kebiasaan buruk atau cara hidup yang jauh dari Tuhan dan amat sangat susah meninggalkannya? Memang apa yang ada di dalam tangan Tuhan kamu tidak mengetahui, namun percayalah… Dia tak akan pernah mengambil apapun daripadamu tanpa menggantikannya dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan berharga!

Saturday, September 25, 2010

BUKAN SOAL NASIB SIAL

MINGGU BIASA XXVI TH.C Amos 6:1, 4-7 1 Timotius 6:11-16 Lukas 16:19-31

Ada seorang yang saking yakinnya bahwa surga adalah tempatnya, setelah meninggal, dia langsung ngantre di depan pintu. Namun Santo Petrus memberitahunya bahwa namanya tidak tertulis di dalam Buku Kehidupan dan tempatnya adalah neraka. Langsung orang itu protes, “Masa? Ini tidak adil! Memangnya apa yang saya lakukan? Saya tidak melakukan apa-apa koq!” “Justru...” jawab Santo Petrus, “oleh karena itu kamu akan ke neraka!”

Seperti perumpamaan sebelumnya tentang bendahara yang tidak jujur, perumpamaan ini tentang Lazarus dan orang kaya juga cukup membingungkan. Kita pasti bertanya-tanya mengapa orang kaya itu harus dihukum dengan masuk neraka! Padahal dia kaya bukan karena korupsi atau kecurangan. Dia juga bukanlah penyebab kemiskinan dan keadaan Lazarus. Dia bukan orang penjahat atau perampok. Yang kita dengar dari ceritera adalah dia seorang yang menikmati makanan dan gaya hidup yang merupakan haknya sebagai orang yang kaya dan sukses! Mengapa dia masuk ke neraka?

Masalah yang kita hadapi mengenai alasan mengapa orang kaya ini mesti dihukum sampai masuk neraka sangat terpengaruh oleh pandangan kita mengenai dosa. Seringkali kita anggap dosa itu hanya dalam hal pikiran, perkataan dan perbuatan. Kita lupa bahwa kita juga bisa berbuat dosa dalam hal kelalaian. Bukankah itu yang kita akui tadi pada awal Misa ini? “Saya mengaku... bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian.” Perumpamaan ini merupakan peringatan yang keras bahwa dosa kelalaian itu dapat membawa kita ke neraka! Itulah pengalaman si orang kaya. Memang dia tidak melakukan apa-apa terhadap Lazarus. Tetapi juga dia tidak menolongnya. Dia gagal keluar dari kenyamanannya dan berbagi kelebihannya dengan seorang yang dalam kesulitan. Dosa kelalaiannya membawanya ke neraka.

Satu masalah lagi yang dapat kita hadapi adalah mengapa Lazarus masuk surga. Tidak ada kata-kata bahwa Lazarus ini “anak Tuhan” atau dia dikenal sebagai orang yang baik. Namun ada petunjuk. Di dalam Kitab Suci, nama-nama yang disebut seperti ini mempunyai makna yang menunjukkan karakter atau sifat seseorang. Sesungguhnya ini adalah satu-satunya perumpamaan Yesus dimana salah satu tokoh mempunyai nama. Berarti nama tersebut penting dalam menafsirkan perumpamaannya.

Nama “Lazarus” itu sama dengan nama dalam bahasa Ibrani “Eleazar” yang berarti “Tuhanlah Penolongku!” Berarti Yesus ingin menyampaikan bahwa Lazarus disini bukan saja seorang miskin dan kasihan, tetapi seorang miskin yang percaya dan sungguh mengandalkan Tuhan. Oleh karena itu setelah mati, ia lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham (Lukas 16:22). Dia masuk surga karena iman dan kepercayaannya akan Tuhan, bukan hanya gara-gara dia miskin! Jadi ini bukan soal pembalikan nasib setelah kematian: orang kaya akan jadi miskin dan orang miskin akan jadi kaya! Jelas ini bukanlah pesan dari perumpamaan Yesus. Orang kaya yang peka terhadap penderitaan dan sengsara di sekitarnya dan menggunakan hartanya untuk melayani Tuhan dan sesama akan diberkati di dalam hidup yang kekal. Tetapi orang miskin yang menghabiskan hidupnya dengan mengeluh terus dan penuh dengan iri-hati, dan tidak bisa percaya dan berharap pada Tuhan seperti Lazarus, bisa saja gagal masuk surga! (Romo Noel SDB)

Tuesday, August 3, 2010

MENJADI KAYA

MINGGU BIASA KE-XVIII TH. C Pengkotbah 1:2, 2:21-23 Kolose 3:1-5, 9-11 Lukas 12:13-21

Saya pernah mendapatkan sebuah kartu ucapan selamat hari ulang tahun dengan tulisan dari kitab Mazmur 90:12, “Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.” Memang kalau saja kita menyadari setiap saat bahwa kapan-kapan kita harus meninggalkan dunia ini, dan bahwa ini bukanlah rumah kita yang sebenarnya, maka seperti si Pengkotbah itu, kita juga akan semakin yakin, Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.

Ayat tadi itu menyimpulkan tema bacaan-bacaan Minggu ini. Kesia-siaan dan kepura-puraan... itulah inti dari kehidupan sebenarnya. Mengetahui banyak hal, memiliki banyak harta, menjadi orang yang baik dan hebat... sesungguhnya tak ada faedahnya bagi manusia. Waktu dan kehidupan itu tetaplah berjalan, baik kita ada disini maupun kita tak ada lagi. Kesia-siaan itu bagaikan asap atau angin – menghilang begitu saja. Tak ada sesuatu pun sesungguhnya yang berharga atau penting. Orang bisa berusaha keras seumur hidupnya tapi setelah dia mati, semua hasil dan keuntungan bisa saja dinikmati orang lain yang sama sekali tidak pantas mendapatkannya.

Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Dengan kata lain, “Kamu tidak bisa membawa apapun dengan kamu!” Ada seorang kaya-raya yang sungguh memahami kebenaran itu sehingga pada usia tuanya, sebelum ia meninggal, dia berpesan kepada anak-anak serta keluarganya, “Nanti saya ingin peti jenazah saya ada lubang di sebelah kanan dan kiri, dan kedua tangan saya dikeluarkan!” Tentu saja keluarganya begitu kaget mendengarkan permintaan yang aneh itu, maka ia menjelaskan, “Saya ingin supaya semua orang yang datang ke upacara pemakaman melihat bahwa saya yang begitu kaya selama saya hidup di dunia ini ternyata meninggalkannya dengan tangan kosong! Saya tidak bisa membawa apapun.”

Kamu tidak bisa membawa apapun dengan kamu, kecuali apa yang kamu telah rela bagikan. Injil Santo Lukas menekankan betapa pentingnya memilih yang terbaik, seperti Maria memilih untuk duduk di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya sedangkan Martha memilih untuk sibuk melayani. Jadi ini bukan sekedar soal bahayanya harta duniawi melainkan bagaimana orang dapat memilih antara menjadi kaya di hadapan dunia atau menjadi kaya di hadapan Tuhan. Kita semua mempunyai harta yang kita hargai, entah berdasarkan perasaan, nilai materi atau pun sejarah. Masalahnya adalah bukan apa yang kita miliki, melainkan apa yang memiliki kita.

Orang bodoh di dalam perumpamaan Yesus merasa dirinya puas dan sukses, seolah-olah semuanya itu dari usaha tangannya sendiri, padahal panenan berlimpah itu adalah dari tanah. Dia sedang bersiap-siap untuk menikmati hidup yang santai dan makmur. Mungkin dia berpikir, tetangga-tetangganya akan lebih respek padanya, karena ekspansi bisnisnya luarbiasa dan nomor rekeningnya terus bertambah. Sampai dia lupa tentang kerapuhan hidupnya. Sepertinya dia bukan orang yang suka berbagi, apalagi memberi, maka jelaslah dia tidak bisa membawa apa-apa. Yang penting bagi orang ini adalah dirinya sendiri dan kenyamanannya. Perumpamaan ini tidak menceriterakan apakah orang bodoh itu kemudian ke surga atau ke neraka. Tujuannya ialah untuk mengingatkan kita bahwa hidup ini pendek dan rapuh, sehingga menjadi kaya pun itu adalah sia-sia bila kita tidak kaya di mata Tuhan.