Saya mendapatkan cerita ini dari internet. Katanya kisah ini dari sebuah Universitas di Jakarta tentang seorang gadis yang baru meninggal bulan lalu. Namanya Samara. Dia meninggal karena tertabrak truk. Samara punya seorang pacar namanya Ari. Keduanya saling menyayangi. Mereka selalu berteleponan. Kamu tidak akan pernah melihat Samara tanpa handphone nya. Sampai-sampai dia mengganti kartu XL-nya ke Simpati, agar mereka berdua berada di network yang sama dan mengirit pulsa serta selalu dapat signal yang kuat. Sebelum dia meninggal dia pernah beberapa kali berkata pada teman-temannya, ”Kalo gua meninggal tolong kuburkan gua sama handphone gua ya!” Dia juga sering mengatakan hal yang sama kepada orangtuanya.
Pada saat Samara meninggal tidak ada yang dapat mengangkat peti matinya. Banyak orang yang mencoba tapi tetap tidak bisa. Akhirnya mereka memanggil 'orang pintar'. Setelah beberapa menit melakukan ritualnya, orang pintar itu berkata, “Gadis ini kehilangan sesuatu disini.” Lalu teman-teman Samara berkata kepada orang pintar itu tentang keinginannya untuk dikubur dengan hapenya. Kemudian mereka membuka kembali peti matinya dan menaruh handphone yang masih ada sim-cardnya disitu. Setelah itu peti mati dapat diangkat dan dipindahkan ke mobil jenazah dengan mudah.
Keluarga Samara belum memberitahukan tentang kematian Samara kepada Ari. Setelah dua hari kematian Samara, Ari menelepon mama Samara dan berkata “Tante, saya akan pulang hari ini, tolong buatkan masakan yang enak untukku ya. Dan jangan katakan pada Samara bahwa aku akan datang, aku ingin membuat kejutan untuknya.” Mama Samara menjawab, “Datanglah dahulu, tante ingin memberi tahu sesuatu.” Setelah Ari datang, mereka memberitahukan tentang kematian Samara. Ari mengira mereka sedang bercanda, dia hanya tertawa dan berkata, “Jangan bercanda, bilang pada Samara untuk keluar, aku membawa sesuatu untuknya.” Akhirnya mereka membawa Ari ke kuburan Samara. Lalu Ari berkata, “Ini tidak mungkin. Kami baru ngobrol-ngobrol kemarin. Dia masih tetap menelepon.” Ari sangat terkejut. Tiba-tiba handphonenya berbunyi, “Lihat ini dari Samara, lihat ini...” Ari memperlihatkan hapenya ke keluarga Samara, dan mereka menyuruh Ari untuk menjawab. Ari menjawab telepon itu dengan memakai loudspeaker. Mereka semua mendengar pembicaraan itu dengan sangat jelas dan jernih, tidak ada gangguan apapun. Dan itu benar-benar suara Samara dan sangat tidak mungkin ada orang lain yang memakainya sebab sim-cardnya sudah dikubur bersamanya!
Mereka semua sangat terkejut dan memanggil 'orang pintar' untuk membantu mereka lagi. 'Orang pintar' itu membawa temannya untuk mencari jawaban atas keanehan ini, dan setelah bekerja selama lima jam, mereka menemukan jawabannya...
Simpati... memang jangkauan terluas dan kualitas terbaik!
Jika kamu merasa tertipu dengan ceritera ini, tenang saja, saya juga pernah mengalaminya! Jadi kita di dalam perahu yang sama. Tapi tujuan saya menceritakan lagi kisah ini bukanlah untuk mencari teman-teman yang sama-sama “dikerjain.” Kita masih di dalam suasana memperingati dan mendoakan sanak-keluarga kita yang sudah meninggal dunia. Di dalam Injil Matius 22:23-33, Yesus mempunyai ajaran yang cukup menarik tentang hidup kita nanti di surga. Waktu Dia ditanya orang-orang Saduki tentang bagaimana kelanjutan hidup seorang wanita yang pernah dinikahi tujuh pria yang bersaudara karena satu demi satu meninggal tanpa memberi keturunan, dan itu pun sesuai dengan perintah Musa, Yesus menjawab bahwa pertanyaan mereka itu konyol dan sungguh keliru. Kenapa? Sebab hidup di surga itu tidak bisa disamakan dengan hidup kita di dunia ini! Jawab Yesus kepada mereka: Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga.
Sebenarnya Yesus tidak mengatakan bahwa di dalam Kerajaan Allah nanti, orang tidak akan lagi mengenal pasangannya! Maksud-Nya adalah surga itu bukan sekedar kelanjutan kehidupan kita di dunia. Sekarang hubungan kita dengan satu sama lain itu dibatasi oleh waktu, hukum dan peraturan-peraturan manusiawi dan akhirnya kematian. Namun di dalam Kerajaan-Nya, tak ada batas lagi, dan hanya satu hal yang menjadi paling utama... Cinta. “Cinta abadi tak akan pernah mati,” kata sebuah lagu. Cinta sejati itulah yang menyempurnakan segalanya, baik hubungan orang-orang yang sudah menikmati hidup yang kekal maupun kita yang masih berziarah di dunia ini. Sesungguhnya Cinta sejati itulah yang membuat kita tetap bisa berhubungan dengan mereka yang sudah pergi duluan... dengan “signal” yang lebih baik daripada XL dan “jaringan” yang lebih luas daripada Simpati!
Showing posts with label kematian. Show all posts
Showing posts with label kematian. Show all posts
Friday, November 18, 2011
Saturday, August 13, 2011
Rp 40,522 Saja
Ternyata jika kita menjumlahkan harga moneter elemen-elemen dalam tubuh kita dan harga kulit manusia biasa, kita dapat keuntungan Rp 40,522. Kita bisa memerinci komposisi kimia dan mineral tubuh manusia sebagai berikut:
* 65% zat asam
* 18% zat arang
* 10% zat air
* 3% zat lemas
* 1.5% zat kapur
* 1% Fosfor
* 0.35% Kalsium
* 0.25% Belerang
* 0.15% Sodium
* 0.15% Khlor
* 0.05% Magnesium
* 0.0004% Besi
* 0.00004% Yodium
Jumlah semua kimia dan mineral ini sekitar Rp 9,005. Modal kita yang paling berharga adalah kulit kita. Berdasarkan harga penjualan kulit sapi, yaitu sekitar Rp 2,251 per kaki persegi, maka harga kulit manusia itu sekitar Rp 31,517!
Rp 40,522... ”harga penjualan” tubuh manusia itu murah banget! Benar-benar harga SALE! Tetapi syukur kepada Tuhan, penilaian-Nya tidak sama dengan penilaian dan pandangan manusia! Kita sungguh berharga di mata-Nya. Tubuh kita yang fana dan hanya empatpuluh ribuan saja ini ”ditakdirkan” menjadi mulia dan agung untuk selama-lamanya!
Dari mana kita tahu itu? Bunda Maria diangkat ke surga, JIWA dan RAGANYA. Kita percaya dan yakin akan kebangkitan badan. Untuk sementara semua saudara-saudara kita yang sudah di surga itu menikmati hidup yang kekal dengan hanya jiwa mereka. Pada Hari Kiamat, semua badan akan dibangkitkan dan akhirnya bersatu lagi dengan jiwanya, sehingga setiap kita dapat tinggal di surga, jiwa dan raganya! Sesungguhnya apa yang telah terjadi kepada Bunda Maria, manusia biasa seperti kita, akan dialami juga tiap orang yang beriman seperti dia.
Tubuh yang bisa hidup kekal abadi? Pasti harganya jauh lebih mahal daripada Rp 40,522!
* 65% zat asam
* 18% zat arang
* 10% zat air
* 3% zat lemas
* 1.5% zat kapur
* 1% Fosfor
* 0.35% Kalsium
* 0.25% Belerang
* 0.15% Sodium
* 0.15% Khlor
* 0.05% Magnesium
* 0.0004% Besi
* 0.00004% Yodium
Jumlah semua kimia dan mineral ini sekitar Rp 9,005. Modal kita yang paling berharga adalah kulit kita. Berdasarkan harga penjualan kulit sapi, yaitu sekitar Rp 2,251 per kaki persegi, maka harga kulit manusia itu sekitar Rp 31,517!
Rp 40,522... ”harga penjualan” tubuh manusia itu murah banget! Benar-benar harga SALE! Tetapi syukur kepada Tuhan, penilaian-Nya tidak sama dengan penilaian dan pandangan manusia! Kita sungguh berharga di mata-Nya. Tubuh kita yang fana dan hanya empatpuluh ribuan saja ini ”ditakdirkan” menjadi mulia dan agung untuk selama-lamanya!
Dari mana kita tahu itu? Bunda Maria diangkat ke surga, JIWA dan RAGANYA. Kita percaya dan yakin akan kebangkitan badan. Untuk sementara semua saudara-saudara kita yang sudah di surga itu menikmati hidup yang kekal dengan hanya jiwa mereka. Pada Hari Kiamat, semua badan akan dibangkitkan dan akhirnya bersatu lagi dengan jiwanya, sehingga setiap kita dapat tinggal di surga, jiwa dan raganya! Sesungguhnya apa yang telah terjadi kepada Bunda Maria, manusia biasa seperti kita, akan dialami juga tiap orang yang beriman seperti dia.
Tubuh yang bisa hidup kekal abadi? Pasti harganya jauh lebih mahal daripada Rp 40,522!
Label:
bunda maria,
dogma,
jiwa,
kematian,
surga
Saturday, November 6, 2010
Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub
MINGGU BIASA KE-XXXII TH.C 2Mak 7:1-2, 9-14 2Tes 2:16-3:5 Lukas 20:27-38
Sekali lagi Yesus dihadapkan pada suatu masalah yang sepertinya tak ada solusi. Suatu kelompok Yahudi yang radikal, yakni orang-orang Saduki, datang kepada Yesus, sebenarnya bukan untuk membicarakan soal pernikahan, tetapi untuk mengemukakan keyakinan mereka yang bertantangan dengan ajaran Yesus mengenai kebangkitan dan hidup yang kekal. Mereka mengutip Nabi Musa untuk memperkuat posisi mereka melawan Yesus. Tapi Yesus menanggapi mereka dengan mengingatkan bahwa dalam perjumpaan itu dengan semak duri, Musa telah menyebut “Ya Allah,” yakni Allah dari tiga orang yang merupakan fondasi dari sejarah Israel, Abraham, Ishak dan Yakub. Allah itu bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup (Luk 20:38). Kita bisa menaruh kepercayaan penuh kepada Allah sebab Dia bukan hanya Allah yang hidup tetapi juga Allah yang peduli dan bertindak.
Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Sesungguhnya kata-kata itu memberi suatu wawasan yang begitu indah dan berdaya mengenai Allah. Dia bukanlah abstrak atau mujarad, seperti awan-gemawan mengambang di langit! Bukan, Allah peduli pada kita manusia dan sungguh terlibat dalam sejarah kita. Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Itulah dasar utama dari harapan kita akan suatu Hidup di masa depan.
Seharusnya kenyataan ini dapat meneguhkan kepercayaan dan keyakinan kita di dalam segala kegagalan dan keputus-asaan yang sering kita alami. Waktu Columbus menyeberangi Samudera Atlantik, awak kapalnya sudah mau menyerah dan siap untuk balik! Pagi-pagi, mereka mendengar suatu seruan yang merubah segalanya, “Tanah! Tanah!” Apabila kita mau menyerah saja karena merasa gagal dan tidak sanggup lagi, kita perlu berseru pada satu sama lain dan pada hati kita, “Surga! Surga!” Tidak lama lagi. Maka setiap pencobaan atau pengorbanan pun menjadi sesuatu yang kecil!
Ada orang yang menganggap sikap ini seperti sifat mengalah, yaitu daripada berusaha untuk memperbaiki situasi di dunia ini, orang menghabiskan waktu dan menghibur diri dengan memikirkan tentang surga! Tapi kalau kita melihat sejarah, sebenarnya mereka yang memikirkan hidup surgawi itu biasanya juga adalah mereka yang melakukan banyak kebaikan terhadap sesama manusia di dunia ini. Sebut saja Fransiskus dari Asisi, Vinsensius A Paolo, Don Bosco, Mother Theresa, Sri Paus Yohanes Paulus II dan masih banyak lagi. Dimana-mana, rumah sakit, sekolah dan lembaga-lembaga yang paling menolong begitu banyak orang itu adalah mereka yang didirikan oleh orang-orang yang hidup sehari-hari berpengharapan pada hidup yang kekal.
Kita bisa percaya kepada Allah sebab Dia adalah Allah yang hidup, yang bertindak dan peduli dengan setiap kita. Dialah Allah Abraham, Ishak dan Yakub... dan kita.
(Romo Noel SDB)
Sekali lagi Yesus dihadapkan pada suatu masalah yang sepertinya tak ada solusi. Suatu kelompok Yahudi yang radikal, yakni orang-orang Saduki, datang kepada Yesus, sebenarnya bukan untuk membicarakan soal pernikahan, tetapi untuk mengemukakan keyakinan mereka yang bertantangan dengan ajaran Yesus mengenai kebangkitan dan hidup yang kekal. Mereka mengutip Nabi Musa untuk memperkuat posisi mereka melawan Yesus. Tapi Yesus menanggapi mereka dengan mengingatkan bahwa dalam perjumpaan itu dengan semak duri, Musa telah menyebut “Ya Allah,” yakni Allah dari tiga orang yang merupakan fondasi dari sejarah Israel, Abraham, Ishak dan Yakub. Allah itu bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup (Luk 20:38). Kita bisa menaruh kepercayaan penuh kepada Allah sebab Dia bukan hanya Allah yang hidup tetapi juga Allah yang peduli dan bertindak.
Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Sesungguhnya kata-kata itu memberi suatu wawasan yang begitu indah dan berdaya mengenai Allah. Dia bukanlah abstrak atau mujarad, seperti awan-gemawan mengambang di langit! Bukan, Allah peduli pada kita manusia dan sungguh terlibat dalam sejarah kita. Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Itulah dasar utama dari harapan kita akan suatu Hidup di masa depan.
Seharusnya kenyataan ini dapat meneguhkan kepercayaan dan keyakinan kita di dalam segala kegagalan dan keputus-asaan yang sering kita alami. Waktu Columbus menyeberangi Samudera Atlantik, awak kapalnya sudah mau menyerah dan siap untuk balik! Pagi-pagi, mereka mendengar suatu seruan yang merubah segalanya, “Tanah! Tanah!” Apabila kita mau menyerah saja karena merasa gagal dan tidak sanggup lagi, kita perlu berseru pada satu sama lain dan pada hati kita, “Surga! Surga!” Tidak lama lagi. Maka setiap pencobaan atau pengorbanan pun menjadi sesuatu yang kecil!
Ada orang yang menganggap sikap ini seperti sifat mengalah, yaitu daripada berusaha untuk memperbaiki situasi di dunia ini, orang menghabiskan waktu dan menghibur diri dengan memikirkan tentang surga! Tapi kalau kita melihat sejarah, sebenarnya mereka yang memikirkan hidup surgawi itu biasanya juga adalah mereka yang melakukan banyak kebaikan terhadap sesama manusia di dunia ini. Sebut saja Fransiskus dari Asisi, Vinsensius A Paolo, Don Bosco, Mother Theresa, Sri Paus Yohanes Paulus II dan masih banyak lagi. Dimana-mana, rumah sakit, sekolah dan lembaga-lembaga yang paling menolong begitu banyak orang itu adalah mereka yang didirikan oleh orang-orang yang hidup sehari-hari berpengharapan pada hidup yang kekal.
Kita bisa percaya kepada Allah sebab Dia adalah Allah yang hidup, yang bertindak dan peduli dengan setiap kita. Dialah Allah Abraham, Ishak dan Yakub... dan kita.
(Romo Noel SDB)
Saturday, August 7, 2010
LALU?
HARI MINGGU BIASA XIX TH. C Kebijaksanaan 18:6-9 Ibrani 11:1-2, 8-19 Lukas 12:35-40
“Saya punya rencana yang mantap untuk menjatuhkan manusia,” kata satu iblis kepada rekannya yang lebih senior. “Rencana saya adalah meyakinkannya bahwa Allah itu tidak ada.” Rekannya menjawab, “Itu mah lagu lama, tapi kurang efektif. Sekarang cukup bagi mahkluk itu melihat segala ciptaan di sekitar dan alam semesta dan ia pasti sadar Allah itu ada.” “Kalau begitu,” iblis yunior melanjutkan, “saya akan meyakinkannya bahwa tidak ada iblis.” “Mungkin itu lebih bagus sebagai strategi,” kata seniornya sambil menganggukkan kepala, “tapi percayalah, cukup bagi manusia itu melihat serta mengalami kejahatan sesama manusia dan pasti dia sadar akan keberadaan kita! Begini, saya kasih tahu strategi yang paling mantap...” dan para iblis yang lain pun mendekat supaya mendengarkan tips dari senior yang berpengalaman itu. “Kamu tidak perlu buang tenaga meyakinkan manusia itu bahwa tidak ada Allah atau pun iblis. Yakinkanlah dia saja bahwa ‘masih banyak waktu’ dan tak usah buru-buru!”
Jelas bahwa inilah strategi yang paling sering dipakai iblis untuk menjatuhkan manusia. Mayoritas orang masih percaya bahwa ada Allah yang Maha Pencipta; juga kebanyakan orang percaya akan iblis dan setan. Yang seringkali menjadi keberatan bagi manusia moderen adalah menerima bahwa ada hidup kekal setelah hidup duniawi! Manusia seringkali bertingkah seolah-olah masih banyak waktu, tak usah buru-buru, dan tak perlu mencemaskan kemanakah kita setelah meninggalkan dunia ini!
Maka Yesus mau merombak “kenyamanan” kita itu. Dan Dia menggunakan suatu ilustrasi yang sangat berani dan orisinil, khususnya bagi para kontemporer-Nya. Yesus menyamakan Allah itu kepada seorang Pencuri! Si perampok itu pasti selalu menunggu sampai orang-orang sedang tidak berjaga-jaga. Ia beraksi pas di tengah malam, di saat yang tidak disangkakan.
Sungguh Kristus bisa datang kapan saja. Dan bahwasanya Dia bisa datang seperti pencuri seharusnya membuat kita merenung, namun bukan dengan cemas apalagi terobsesi. Itu mengingatkan kita agar jangan sampai segala rencana kita itu berdasarkan hanya pada dunia ini saja! Seorang pemuda yang ambisius berkata kepada gurunya yang tua tapi bijaksana, “Saya ingin memperoleh banyak ilmu dan pengetahuan.” “Lalu?” sahut orang tua itu. “Lalu saya akan buka perusahaan.” “Lalu?” “Saya yakin saya akan jadi kaya-raya.” “Lalu?” “Ya jelas saya akan jadi tua juga tapi saya bisa menikmati dulu segala hasil usaha saya!” “Lalu?” “Hmm saya kira ya suatu saat saya juga akan meninggal dunia.” “Lalu?” Saat itu si pemuda tidak bisa jawab apa-apa lagi. Orang yang membuat banyak rencana berdasarkan hanya pada dunia ini saja suatu saat akan dikagetkan dengan Kematian.
Jadi merancang masa depan yang makmur dan merencanakan hari esok yang sejahtera itu boleh saja, asal jangan berdasarkan hanya pada dunia ini saja! Kita harus berani melihat lebih jauh lagi, “Lalu?” Dan seperti si pemazmur itu, Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita (Mazmur 33:20). Romo Noel SDB
“Saya punya rencana yang mantap untuk menjatuhkan manusia,” kata satu iblis kepada rekannya yang lebih senior. “Rencana saya adalah meyakinkannya bahwa Allah itu tidak ada.” Rekannya menjawab, “Itu mah lagu lama, tapi kurang efektif. Sekarang cukup bagi mahkluk itu melihat segala ciptaan di sekitar dan alam semesta dan ia pasti sadar Allah itu ada.” “Kalau begitu,” iblis yunior melanjutkan, “saya akan meyakinkannya bahwa tidak ada iblis.” “Mungkin itu lebih bagus sebagai strategi,” kata seniornya sambil menganggukkan kepala, “tapi percayalah, cukup bagi manusia itu melihat serta mengalami kejahatan sesama manusia dan pasti dia sadar akan keberadaan kita! Begini, saya kasih tahu strategi yang paling mantap...” dan para iblis yang lain pun mendekat supaya mendengarkan tips dari senior yang berpengalaman itu. “Kamu tidak perlu buang tenaga meyakinkan manusia itu bahwa tidak ada Allah atau pun iblis. Yakinkanlah dia saja bahwa ‘masih banyak waktu’ dan tak usah buru-buru!”
Jelas bahwa inilah strategi yang paling sering dipakai iblis untuk menjatuhkan manusia. Mayoritas orang masih percaya bahwa ada Allah yang Maha Pencipta; juga kebanyakan orang percaya akan iblis dan setan. Yang seringkali menjadi keberatan bagi manusia moderen adalah menerima bahwa ada hidup kekal setelah hidup duniawi! Manusia seringkali bertingkah seolah-olah masih banyak waktu, tak usah buru-buru, dan tak perlu mencemaskan kemanakah kita setelah meninggalkan dunia ini!
Maka Yesus mau merombak “kenyamanan” kita itu. Dan Dia menggunakan suatu ilustrasi yang sangat berani dan orisinil, khususnya bagi para kontemporer-Nya. Yesus menyamakan Allah itu kepada seorang Pencuri! Si perampok itu pasti selalu menunggu sampai orang-orang sedang tidak berjaga-jaga. Ia beraksi pas di tengah malam, di saat yang tidak disangkakan.
Sungguh Kristus bisa datang kapan saja. Dan bahwasanya Dia bisa datang seperti pencuri seharusnya membuat kita merenung, namun bukan dengan cemas apalagi terobsesi. Itu mengingatkan kita agar jangan sampai segala rencana kita itu berdasarkan hanya pada dunia ini saja! Seorang pemuda yang ambisius berkata kepada gurunya yang tua tapi bijaksana, “Saya ingin memperoleh banyak ilmu dan pengetahuan.” “Lalu?” sahut orang tua itu. “Lalu saya akan buka perusahaan.” “Lalu?” “Saya yakin saya akan jadi kaya-raya.” “Lalu?” “Ya jelas saya akan jadi tua juga tapi saya bisa menikmati dulu segala hasil usaha saya!” “Lalu?” “Hmm saya kira ya suatu saat saya juga akan meninggal dunia.” “Lalu?” Saat itu si pemuda tidak bisa jawab apa-apa lagi. Orang yang membuat banyak rencana berdasarkan hanya pada dunia ini saja suatu saat akan dikagetkan dengan Kematian.
Jadi merancang masa depan yang makmur dan merencanakan hari esok yang sejahtera itu boleh saja, asal jangan berdasarkan hanya pada dunia ini saja! Kita harus berani melihat lebih jauh lagi, “Lalu?” Dan seperti si pemazmur itu, Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita (Mazmur 33:20). Romo Noel SDB
Tuesday, August 3, 2010
MENJADI KAYA
MINGGU BIASA KE-XVIII TH. C Pengkotbah 1:2, 2:21-23 Kolose 3:1-5, 9-11 Lukas 12:13-21
Saya pernah mendapatkan sebuah kartu ucapan selamat hari ulang tahun dengan tulisan dari kitab Mazmur 90:12, “Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.” Memang kalau saja kita menyadari setiap saat bahwa kapan-kapan kita harus meninggalkan dunia ini, dan bahwa ini bukanlah rumah kita yang sebenarnya, maka seperti si Pengkotbah itu, kita juga akan semakin yakin, Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
Ayat tadi itu menyimpulkan tema bacaan-bacaan Minggu ini. Kesia-siaan dan kepura-puraan... itulah inti dari kehidupan sebenarnya. Mengetahui banyak hal, memiliki banyak harta, menjadi orang yang baik dan hebat... sesungguhnya tak ada faedahnya bagi manusia. Waktu dan kehidupan itu tetaplah berjalan, baik kita ada disini maupun kita tak ada lagi. Kesia-siaan itu bagaikan asap atau angin – menghilang begitu saja. Tak ada sesuatu pun sesungguhnya yang berharga atau penting. Orang bisa berusaha keras seumur hidupnya tapi setelah dia mati, semua hasil dan keuntungan bisa saja dinikmati orang lain yang sama sekali tidak pantas mendapatkannya.
Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Dengan kata lain, “Kamu tidak bisa membawa apapun dengan kamu!” Ada seorang kaya-raya yang sungguh memahami kebenaran itu sehingga pada usia tuanya, sebelum ia meninggal, dia berpesan kepada anak-anak serta keluarganya, “Nanti saya ingin peti jenazah saya ada lubang di sebelah kanan dan kiri, dan kedua tangan saya dikeluarkan!” Tentu saja keluarganya begitu kaget mendengarkan permintaan yang aneh itu, maka ia menjelaskan, “Saya ingin supaya semua orang yang datang ke upacara pemakaman melihat bahwa saya yang begitu kaya selama saya hidup di dunia ini ternyata meninggalkannya dengan tangan kosong! Saya tidak bisa membawa apapun.”
Kamu tidak bisa membawa apapun dengan kamu, kecuali apa yang kamu telah rela bagikan. Injil Santo Lukas menekankan betapa pentingnya memilih yang terbaik, seperti Maria memilih untuk duduk di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya sedangkan Martha memilih untuk sibuk melayani. Jadi ini bukan sekedar soal bahayanya harta duniawi melainkan bagaimana orang dapat memilih antara menjadi kaya di hadapan dunia atau menjadi kaya di hadapan Tuhan. Kita semua mempunyai harta yang kita hargai, entah berdasarkan perasaan, nilai materi atau pun sejarah. Masalahnya adalah bukan apa yang kita miliki, melainkan apa yang memiliki kita.
Orang bodoh di dalam perumpamaan Yesus merasa dirinya puas dan sukses, seolah-olah semuanya itu dari usaha tangannya sendiri, padahal panenan berlimpah itu adalah dari tanah. Dia sedang bersiap-siap untuk menikmati hidup yang santai dan makmur. Mungkin dia berpikir, tetangga-tetangganya akan lebih respek padanya, karena ekspansi bisnisnya luarbiasa dan nomor rekeningnya terus bertambah. Sampai dia lupa tentang kerapuhan hidupnya. Sepertinya dia bukan orang yang suka berbagi, apalagi memberi, maka jelaslah dia tidak bisa membawa apa-apa. Yang penting bagi orang ini adalah dirinya sendiri dan kenyamanannya. Perumpamaan ini tidak menceriterakan apakah orang bodoh itu kemudian ke surga atau ke neraka. Tujuannya ialah untuk mengingatkan kita bahwa hidup ini pendek dan rapuh, sehingga menjadi kaya pun itu adalah sia-sia bila kita tidak kaya di mata Tuhan.
Saya pernah mendapatkan sebuah kartu ucapan selamat hari ulang tahun dengan tulisan dari kitab Mazmur 90:12, “Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.” Memang kalau saja kita menyadari setiap saat bahwa kapan-kapan kita harus meninggalkan dunia ini, dan bahwa ini bukanlah rumah kita yang sebenarnya, maka seperti si Pengkotbah itu, kita juga akan semakin yakin, Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
Ayat tadi itu menyimpulkan tema bacaan-bacaan Minggu ini. Kesia-siaan dan kepura-puraan... itulah inti dari kehidupan sebenarnya. Mengetahui banyak hal, memiliki banyak harta, menjadi orang yang baik dan hebat... sesungguhnya tak ada faedahnya bagi manusia. Waktu dan kehidupan itu tetaplah berjalan, baik kita ada disini maupun kita tak ada lagi. Kesia-siaan itu bagaikan asap atau angin – menghilang begitu saja. Tak ada sesuatu pun sesungguhnya yang berharga atau penting. Orang bisa berusaha keras seumur hidupnya tapi setelah dia mati, semua hasil dan keuntungan bisa saja dinikmati orang lain yang sama sekali tidak pantas mendapatkannya.
Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Dengan kata lain, “Kamu tidak bisa membawa apapun dengan kamu!” Ada seorang kaya-raya yang sungguh memahami kebenaran itu sehingga pada usia tuanya, sebelum ia meninggal, dia berpesan kepada anak-anak serta keluarganya, “Nanti saya ingin peti jenazah saya ada lubang di sebelah kanan dan kiri, dan kedua tangan saya dikeluarkan!” Tentu saja keluarganya begitu kaget mendengarkan permintaan yang aneh itu, maka ia menjelaskan, “Saya ingin supaya semua orang yang datang ke upacara pemakaman melihat bahwa saya yang begitu kaya selama saya hidup di dunia ini ternyata meninggalkannya dengan tangan kosong! Saya tidak bisa membawa apapun.”
Kamu tidak bisa membawa apapun dengan kamu, kecuali apa yang kamu telah rela bagikan. Injil Santo Lukas menekankan betapa pentingnya memilih yang terbaik, seperti Maria memilih untuk duduk di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya sedangkan Martha memilih untuk sibuk melayani. Jadi ini bukan sekedar soal bahayanya harta duniawi melainkan bagaimana orang dapat memilih antara menjadi kaya di hadapan dunia atau menjadi kaya di hadapan Tuhan. Kita semua mempunyai harta yang kita hargai, entah berdasarkan perasaan, nilai materi atau pun sejarah. Masalahnya adalah bukan apa yang kita miliki, melainkan apa yang memiliki kita.
Orang bodoh di dalam perumpamaan Yesus merasa dirinya puas dan sukses, seolah-olah semuanya itu dari usaha tangannya sendiri, padahal panenan berlimpah itu adalah dari tanah. Dia sedang bersiap-siap untuk menikmati hidup yang santai dan makmur. Mungkin dia berpikir, tetangga-tetangganya akan lebih respek padanya, karena ekspansi bisnisnya luarbiasa dan nomor rekeningnya terus bertambah. Sampai dia lupa tentang kerapuhan hidupnya. Sepertinya dia bukan orang yang suka berbagi, apalagi memberi, maka jelaslah dia tidak bisa membawa apa-apa. Yang penting bagi orang ini adalah dirinya sendiri dan kenyamanannya. Perumpamaan ini tidak menceriterakan apakah orang bodoh itu kemudian ke surga atau ke neraka. Tujuannya ialah untuk mengingatkan kita bahwa hidup ini pendek dan rapuh, sehingga menjadi kaya pun itu adalah sia-sia bila kita tidak kaya di mata Tuhan.
Subscribe to:
Posts (Atom)