Waktu Perang Dunia II ada suatu cerita tentang seorang tentara muda dan kawan-kawannya yang sedang dikejar musuh. Mereka berlari-larian dan akhirnya pemuda itu terpisah dari kelompoknya. Berlari dan berjalan tanpa tujuan yang jelas, tiba-tiba dia berhadapan dengan sebuah gua. Karena musuh di belakangnya sudah makin dekat dan juga karena dia sudah begitu lelah, dia memutuskan untuk bersembunyi disitu. Cepat-cepat dia merangkak melalui jalan masuk yang kecil itu, dan di dalam kegelapan dia mulai berdoa kepada Tuhan untuk menyelamatkannya dari bahaya. Dan pada saat itu pula ia berjanji kepada Tuhan bahwa jika ia selamat, dia akan menyerahkan dirinya dan melayani-Nya seumur hidup!
Pada saat pemuda itu berdoa demikian, dia memperhatikan seekor laba-laba yang tiba-tiba muncul dan mulai membuat jaringnya pas di jalan masuk gua itu! Sambil memandangnya, ia berpikir, Ya ampun, aku meminta Tuhan untuk pertolongan dan keselamatan tapi Tuhan mengirim seekor laba-laba! Bagaimana seekor laba-laba dapat menyelamatkan aku?
Makin dekat musuh yang mengejarnya, makin takutlah dia. Di dalam gua yang gelap itu, dia bisa mendengarkan debar jantungnya sendiri pada saat salah satu tentara berdiri pas di depan gua itu dan mengintip ke dalam. Dia menyiapkan dirinya untuk apapun yang dapat terjadi jika tentara itu mencoba masuk ke dalam. Namun begitu kaget dia pada saat musuh itu mundur dari jalan masuk gua itu dan berteriak ke arah kawan-kawannya, ”Tidak mungkin ada orang di dalam gua ini. Sini ada jaring laba-laba yang masih utuh... jika tadi ada orang yang masuk seharusnya ini langsung hancur! Ayo, jalan terus!”
Setelah beberapa tahun kemudian, pemuda itu memenuhi janjinya untuk menyerahkan dirinya dalam pelayanan dan pewartaan Sabda Tuhan. Dia selalu bersemangat memberi kesaksian tentang bagaimana dia mengalami keselamatan secara istimewa. Barangkali tidak jauh dari pengalaman Simon Petrus dan kawan-kawan pada saat perahu mereka diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal! Datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Suatu tanda bahwa Dia menguasai alam semesta… bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya… dan bahwa di saat yang paling kita butuh uluran tangan-Nya, pasti Dia hadir menguatkan dan meneguhkan kita, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Sesungguhnya dimana Tuhan berada, jaring laba-laba itu bagaikan dinding tembok. Dimana Dia tak hadir, dinding tembok itu bagaikan jaring laba-laba.
Showing posts with label cobaan. Show all posts
Showing posts with label cobaan. Show all posts
Sunday, August 7, 2011
Monday, March 15, 2010
SIAPA YANG SEPERTI ALLAH?
MINGGU PRAPASKAH I TH. C Ulangan 26:4-10 Roma 10:8-13 Lukas 4:1-13
Salah satu sumber godaan-godaan kita adalah Iblis, makanya dia itu disebut “Setan,” yang berarti Penggoda. Saya ingat suatu pertunjukan drama waktu masih di seminari tentang seorang pemuda yang ingin berziarah ke Tanah Suci, ke Bethlehem. Iblis tidak mau anak muda itu menyembah Yesus, maka ia mengirim berbagai godaan-godaan! Setiap godaan itu sepertinya makin dahsyat, terutama godaan paling dasar, yakni Kesombongan dan Keangkuhan! Sang Pemuda sepertinya makin tak berdaya. Namun Allah mengirim seorang penolong: Malaikat Agung Santo Mikael datang untuk menyingkirkan Setan. Dia menyaksikan mereka berdua berperang. Akhirnya Mikael mengalahkan Setan... dia menghilang beserta godaan-godaannya! Si Pemuda tinggal sendirian dengan Mikael. Namanya berarti, “Siapa yang seperti Allah?”
Hari ini Yesus mengajar kita bagaimana caranya menghadapi godaan-godaan Iblis. Memang Yesus adalah Tuhan, namun Ia adalah Allah yang menjelma menjadi Manusia, sama dengan kita dalam segala hal kecuali dosa! Sebagai Manusia Ia telah mengalami dan merasakan secara penuh godaan-godaan dari Iblis. Oleh karena itu kita bisa belajar dari cara-Nya menghadapi dan mengalahkan godaan.
Kepada tiap godaan Yesus menjawab dengan memuliakan Allah. Manusia hidup bukan dari roti saja (Luk 4:4) tetapi dari setiap Sabda Allah. Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti (Luk 4:8). Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu (Luk 4:12). Maksudnya jangan sembarangan melakukan sesuatu yang jelas-jelas membahayakan dirimu sambil memikirkan bahwa APAPUN yang terjadi, “no problemo,” sebab Allah itu ada di tanganmu! Salah! Allah adalah Allah. Kamu ada di tangan-Nya, bukan sebaliknya! Dia bukan Robotmu atau mainanmu yang bisa kamu kontrol semaunya kamu. Tuhan Allah itu di atas segalanya. Siapa yang seperti Allah?
Bila godaan-godaan datang, Yesus menunjukkan apa yang harus kita lakukan: memuliakan Allah. Iblis itu tidak tahan jika kita memuliakan Allah. Dia itu bagaikan artis yang tak begitu dikenal, kemudian dia paling kesal jika pujian-pujian itu ditujukan kepada artis saingannya! Jadi apabila Setan menggodai kamu, janganlah menghadapinya secara langsung. Kamu bukan Yesus. Kamu tidak mungkin mengalahkan Pangeran Kebohongan dalam debat atau argumentasi hanya dengan kekuasaanmu saja. Lakukanlah Tanda Salib. Sebutkanlah nama-nama kudus: Yesus, Maria dan Yoseph. Pujilah Tuhan. Muliakanlah Allah dan Setan itu pasti kabur. Siapa yang seperti Allah?
(Romo Noel, SDB)
Salah satu sumber godaan-godaan kita adalah Iblis, makanya dia itu disebut “Setan,” yang berarti Penggoda. Saya ingat suatu pertunjukan drama waktu masih di seminari tentang seorang pemuda yang ingin berziarah ke Tanah Suci, ke Bethlehem. Iblis tidak mau anak muda itu menyembah Yesus, maka ia mengirim berbagai godaan-godaan! Setiap godaan itu sepertinya makin dahsyat, terutama godaan paling dasar, yakni Kesombongan dan Keangkuhan! Sang Pemuda sepertinya makin tak berdaya. Namun Allah mengirim seorang penolong: Malaikat Agung Santo Mikael datang untuk menyingkirkan Setan. Dia menyaksikan mereka berdua berperang. Akhirnya Mikael mengalahkan Setan... dia menghilang beserta godaan-godaannya! Si Pemuda tinggal sendirian dengan Mikael. Namanya berarti, “Siapa yang seperti Allah?”
Hari ini Yesus mengajar kita bagaimana caranya menghadapi godaan-godaan Iblis. Memang Yesus adalah Tuhan, namun Ia adalah Allah yang menjelma menjadi Manusia, sama dengan kita dalam segala hal kecuali dosa! Sebagai Manusia Ia telah mengalami dan merasakan secara penuh godaan-godaan dari Iblis. Oleh karena itu kita bisa belajar dari cara-Nya menghadapi dan mengalahkan godaan.
Kepada tiap godaan Yesus menjawab dengan memuliakan Allah. Manusia hidup bukan dari roti saja (Luk 4:4) tetapi dari setiap Sabda Allah. Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti (Luk 4:8). Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu (Luk 4:12). Maksudnya jangan sembarangan melakukan sesuatu yang jelas-jelas membahayakan dirimu sambil memikirkan bahwa APAPUN yang terjadi, “no problemo,” sebab Allah itu ada di tanganmu! Salah! Allah adalah Allah. Kamu ada di tangan-Nya, bukan sebaliknya! Dia bukan Robotmu atau mainanmu yang bisa kamu kontrol semaunya kamu. Tuhan Allah itu di atas segalanya. Siapa yang seperti Allah?
Bila godaan-godaan datang, Yesus menunjukkan apa yang harus kita lakukan: memuliakan Allah. Iblis itu tidak tahan jika kita memuliakan Allah. Dia itu bagaikan artis yang tak begitu dikenal, kemudian dia paling kesal jika pujian-pujian itu ditujukan kepada artis saingannya! Jadi apabila Setan menggodai kamu, janganlah menghadapinya secara langsung. Kamu bukan Yesus. Kamu tidak mungkin mengalahkan Pangeran Kebohongan dalam debat atau argumentasi hanya dengan kekuasaanmu saja. Lakukanlah Tanda Salib. Sebutkanlah nama-nama kudus: Yesus, Maria dan Yoseph. Pujilah Tuhan. Muliakanlah Allah dan Setan itu pasti kabur. Siapa yang seperti Allah?
(Romo Noel, SDB)
Subscribe to:
Posts (Atom)