“Cinta bagai teka-teki,
Muncul dalam banyak sandi,
Cobalah artikan dengan sepenuh hati.
Bisa saja sampai mati
Kita masih terus mencari,
Menemukan arti
Cinta adalah Misteri.”
Refren dari lagu Project Pop itu merupakan salah satu sumber renungan pribadi saya saat memantau dari jauh Tahbisan Imamat rekan kami, Frater Diakon Hendrikus, di Jakarta pada hari ini 22 Agustus, Pesta Santa Perawan Maria, Ratu Semesta Alam. Cinta adalah Misteri... sama seperti Imamat... Imamat adalah Misteri.... Sebab Imamat itu berdasarkan Cinta... Cinta Tuhan kepada seorang yang Dia pilih dan urapi sebagai Imam-Nya dan Cinta orang itu yang menanggapi panggilan Tuhan dengan menyerahkan diri seutuhnya!
Peristiwa yang sangat istimewa itu mengingatkan saya akan pengalaman pribadi pada saat ditahbiskan duapuluh-dua tahun yang lalu. Jika ditanya “bagaimana rasanya” sudah menjadi imam, saya suka menjawab, “Senang sekali, seperti orang yang begitu beruntung karena mendapatkan hadiah utama di lotere!” Padahal sama sekali tak ada bandingannya antara menang lotere dan menerima Sakramen Imamat. Menang lotere itu selalu ada unsur hoki atau keberuntungan alias tak sengaja; sedangkan untuk seorang menjadi imam itu adalah seratus persen pekerjaan Tuhan dan pasti disengaja! Dengan alasan yang hanya Dia yang tahu dan dengan cara yang hanya Dia yang dapat menyusun, Tuhan memilih dan memanggil seorang dari antara umat-Nya. Orang yang terpilih itu hanya dapat bersyukur, bekerjasama dan berusaha untuk setia kepada Yang Memanggil. Dia adalah imam bukan karena dia ”beruntung,” melainkan karena dia ”terberkati.”
Imamat adalah misteri... sama seperti Cinta... dan seperti halnya dengan setiap misteri, ia bukan untuk dimengerti melainkan untuk dihayati! Orang yang terpanggil itu hanya dapat berdoa di dalam hatinya: ”Aku ini adalah imam-Mu untuk selamanya. Tangan-Mu, ya Allah-ku, akan selalu menaungiku dan tak akan pernah meninggalkanku. Apapun yang terjadi dalam hidupku mulai saat ini, jadilah ungkapan jawabanku kepada panggilan-Mu!”
Showing posts with label pastor. Show all posts
Showing posts with label pastor. Show all posts
Monday, August 22, 2011
Saturday, April 3, 2010
ROMBONGAN KE SURGA
HARI RAYA KEBANGKITAN KRISTUS Kis 10:34a.37-43 Kol 3:1-4 Yoh 20:1-9
Sebagai gembala umat, seorang Pastor Paroki mempunyai suatu tanggung-jawab berat: membawa setiap umatnya ke Surga! Ada seorang Pastor yang saking besar keinginannya untuk bertanggung-jawab, maka dia mempunyai kebiasaan untuk pergi ke tempat-tempat malam seperti nightclub untuk mencari domba-dombanya yang hilang. Pada suatu saat, dia masuk ke sebuah nightclub dan disitu ia menemukan tiga umatnya yang sedang duduk santai. Dia bertanya kepada yang pertama, “Apakah kamu mau ke Surga?” Orang itu langsung menjawab ya. Maka Pastor berkata, “Kamu pergi berdiri disana!” Kemudian ia bertanya hal yang sama kepada yang kedua. Juga orang itu menjawab ya, dan disuruh berdiri di samping temannya. Si Pastor datang kepada yang ketiga dan bertanya, “Apakah kamu mau ke Surga?” Orang itu menjawab, “Tidak.” “Apa?!” Pastor itu kaget dan juga bingung, “Kamu tidak mau ke Surga kalau nanti kamu mati?” “Oh, iya mau, nanti kalau saya mati!” jawab orang itu, “Abis saya pikir Romo sedang mau bikin rombongan untuk berangkat sekarang juga, hehe!”
Setiap Pastor Paroki mempunyai kerinduan untuk membawa umatnya ke Surga, tanpa satu orang pun ketinggalan. Dan “rombongan” itu dia berusaha bentuk bukan nanti atau tahun depan melainkan sekarang juga. Sebab Surga dan hidup kekal itu sudah mulai disini dan sekarang juga. Inilah Kabar Baik Kebangkitan Kristus!
Kristus telah bangkit dari kematian. Dia mengatakan kepada kita bahwa kebangkitan itu bukan suatu peristiwa yang jauh disana. Tidak. Yesus berkata, Akulah Kebangkitan dan Kehidupan. Dan Dia mengatakan juga, Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Berarti dengan hubungan yang pribadi dan personal dengan Yesus melalui doa dan Sakramen-sakramen maka kita sudah berpartisipasi dalam Kebangkitan-Nya! Paulus membicarakan hubungan yang seperti itu dengan kata-katanya, Kamu telah dibangkitkan bersama dengan Kristus.
Namun sungguh menyedihkan bahwa pada Hari Raya Paskah pun, tetaplah ada orang-orang yang belum bangkit dan masih tinggal dalam ”kuburan.” Orang-orang yang tenggelam dalam banyak masalah dan berbagai problema sehingga putus-asa. Orang-orang yang menderita sengsara oleh karena masalah politik, ekonomi, bencana alam dan macam-macam kekerasan sehingga tidak berpengharapan lagi. Belum lagi masalah keluarga dan pribadi... semuanya ini bisa membuat siapa saja merasa sedih dan kecewa!
Kristus telah bangkit dan kita telah dibangkitkan bersama dengan-Nya! Tidak ada Kabar Baik yang lebih baik daripada itu. Melalui doa dan Sakramen-sakramen, kita sungguh dapat bersatu dengan-Nya. Hidup-Nya dan Kebangkitan-Nya dapat kita nikmati sekarang juga. Yesus telah bangkit dari kematian. Dimana Dia berada sekarang, disitulah Dia ingin kita berada juga. Hidup kekal dan Surga itu mulai disini dan sekarang juga. Alleluia! (Romo Noel SDB)
Sebagai gembala umat, seorang Pastor Paroki mempunyai suatu tanggung-jawab berat: membawa setiap umatnya ke Surga! Ada seorang Pastor yang saking besar keinginannya untuk bertanggung-jawab, maka dia mempunyai kebiasaan untuk pergi ke tempat-tempat malam seperti nightclub untuk mencari domba-dombanya yang hilang. Pada suatu saat, dia masuk ke sebuah nightclub dan disitu ia menemukan tiga umatnya yang sedang duduk santai. Dia bertanya kepada yang pertama, “Apakah kamu mau ke Surga?” Orang itu langsung menjawab ya. Maka Pastor berkata, “Kamu pergi berdiri disana!” Kemudian ia bertanya hal yang sama kepada yang kedua. Juga orang itu menjawab ya, dan disuruh berdiri di samping temannya. Si Pastor datang kepada yang ketiga dan bertanya, “Apakah kamu mau ke Surga?” Orang itu menjawab, “Tidak.” “Apa?!” Pastor itu kaget dan juga bingung, “Kamu tidak mau ke Surga kalau nanti kamu mati?” “Oh, iya mau, nanti kalau saya mati!” jawab orang itu, “Abis saya pikir Romo sedang mau bikin rombongan untuk berangkat sekarang juga, hehe!”
Setiap Pastor Paroki mempunyai kerinduan untuk membawa umatnya ke Surga, tanpa satu orang pun ketinggalan. Dan “rombongan” itu dia berusaha bentuk bukan nanti atau tahun depan melainkan sekarang juga. Sebab Surga dan hidup kekal itu sudah mulai disini dan sekarang juga. Inilah Kabar Baik Kebangkitan Kristus!
Kristus telah bangkit dari kematian. Dia mengatakan kepada kita bahwa kebangkitan itu bukan suatu peristiwa yang jauh disana. Tidak. Yesus berkata, Akulah Kebangkitan dan Kehidupan. Dan Dia mengatakan juga, Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Berarti dengan hubungan yang pribadi dan personal dengan Yesus melalui doa dan Sakramen-sakramen maka kita sudah berpartisipasi dalam Kebangkitan-Nya! Paulus membicarakan hubungan yang seperti itu dengan kata-katanya, Kamu telah dibangkitkan bersama dengan Kristus.
Namun sungguh menyedihkan bahwa pada Hari Raya Paskah pun, tetaplah ada orang-orang yang belum bangkit dan masih tinggal dalam ”kuburan.” Orang-orang yang tenggelam dalam banyak masalah dan berbagai problema sehingga putus-asa. Orang-orang yang menderita sengsara oleh karena masalah politik, ekonomi, bencana alam dan macam-macam kekerasan sehingga tidak berpengharapan lagi. Belum lagi masalah keluarga dan pribadi... semuanya ini bisa membuat siapa saja merasa sedih dan kecewa!
Kristus telah bangkit dan kita telah dibangkitkan bersama dengan-Nya! Tidak ada Kabar Baik yang lebih baik daripada itu. Melalui doa dan Sakramen-sakramen, kita sungguh dapat bersatu dengan-Nya. Hidup-Nya dan Kebangkitan-Nya dapat kita nikmati sekarang juga. Yesus telah bangkit dari kematian. Dimana Dia berada sekarang, disitulah Dia ingin kita berada juga. Hidup kekal dan Surga itu mulai disini dan sekarang juga. Alleluia! (Romo Noel SDB)
Wednesday, March 31, 2010
ORANG BILANG PASTOR
Pernah dengar Litani Pastor yang serba-salah?
Bila ia ditahbiskan terlalu muda, orang bilang: masih bocah koq sudah disuruh jadi pastor.
Bila ia ditahbiskan sudah tua, orang bilang: dia jadi pastor kan karena ngga laku kawin.
Bila ia cukup ganteng, orang bilang: bego amat tuh cowok! Cakep-cakep koq jadi pastor. Kenapa ngga kawin aja ya. Gue juga mau lho sama kamu?!
Bila wajah tidak mendukung, orang bilang: memang lebih baik jadi pastor aja, daripada frustasi tidak ada yang mau.
Bila ia rapih berpakaian bagus, orang bilang: pastor koq seperti peragawan.
Bila ia berpakaian seadanya, orang bilang: sering tampil di muka umum koq ngga bisa ngurus badan.
Bila ia naik mobil, orang bilang: pastor tak menghayati kaul kemiskinan.
Bila ia jalan kaki ngga mau naik kendaraan, orang bilang: pastor koq tidak menghargai waktu.
Bila ia banyak bergaul dengan cewek-cewek, orang bilang: sudah tahu jadi pastor koq ya masih suka nyrempet-nyrempet bahaya.
Bila ia banyak bergaul dengan cowok-cowok, orang bilang: mentang-mentang jadi pastor lalu anti-wanita. Mungkinkah pastor kita gay?!
Bila ia suka bergaul dengan anak-anak, orang bilang: wah baik-baik sama anak kecil biar bisa mendekati ibu dan kakaknya.
Bila ia suka bergaul dengan ibu-ibu, orang bilang: masa kecil kurang bahagia, mainnya sama ibu-ibu melulu. Masih pengen ngempeng kali!
Bila ia suka makan, orang bilang: pastor koq ngga bisa nahan lapar.
Bila ia makan terlalu sedikit, orang bilang: jadi pastor koq ngga tahu menghargai masakan umat.
Bila kotbahnya panjang, orang bilang: bikin ngantuk.
Bila kotbahnya singkat, orang bilang: kurang persiapan.
Bila ia tak pernah dipindah sejak tahbisan, orang bilang: dia memang kurang bisa dipercaya menghadap situasi dan lingkungan baru.
Bila ia dipindah, orang bilang: ada apa ya, koq disuruh pindah sama Pimpinan?
Bila ia tidak merokok, orang bilang: sudah tidak kawin, ngga punya istri, ngga merokok lagi! Mau cari apa dalam hidup ini?!
Pastor... pastor! Pantesan ngga pada mau jadi Pastor!
Pada saat Ia memasuki Yerusalem, Yesus dielu-elukan oleh banyak orang sambil berseru, Hosana! Teberkatilah yang datang atas nama Tuhan. Tetapi semangat rakyat yang meluap itu hanya sebentar saja. Dalam beberapa hari, seruan itu berubah menjadi, Salibkanlah Dia! Sang Imam Agung dipuji dan dihina; dihormati dan direndahkan; ditinggikan dan dijatuhkan! Para imam-Nya juga mengalami nasib yang sama: dicintai dan dibenci; diterima dan ditolak; diperhatikan dan diabaikan. Orang menyebutnya ”kelemahan.” Tetapi ”kelemahan” itulah yang menjadi kekuatannya, seperti kesaksian dari Rasul-Nya yang baik dan setia, Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. Hanya dengan menyatukan seluruh hidupnya dengan Kristus baru paradoks ini menjadi berarti bagi seorang imam. Jika ia hidup, Kristus akan bersamanya. Jika ia mati, ia akan bersama dengan Kristus! Alangkah indahnya panggilan seorang ”alter Christus!”
(Romo Noel SDB)
Bila ia ditahbiskan terlalu muda, orang bilang: masih bocah koq sudah disuruh jadi pastor.
Bila ia ditahbiskan sudah tua, orang bilang: dia jadi pastor kan karena ngga laku kawin.
Bila ia cukup ganteng, orang bilang: bego amat tuh cowok! Cakep-cakep koq jadi pastor. Kenapa ngga kawin aja ya. Gue juga mau lho sama kamu?!
Bila wajah tidak mendukung, orang bilang: memang lebih baik jadi pastor aja, daripada frustasi tidak ada yang mau.
Bila ia rapih berpakaian bagus, orang bilang: pastor koq seperti peragawan.
Bila ia berpakaian seadanya, orang bilang: sering tampil di muka umum koq ngga bisa ngurus badan.
Bila ia naik mobil, orang bilang: pastor tak menghayati kaul kemiskinan.
Bila ia jalan kaki ngga mau naik kendaraan, orang bilang: pastor koq tidak menghargai waktu.
Bila ia banyak bergaul dengan cewek-cewek, orang bilang: sudah tahu jadi pastor koq ya masih suka nyrempet-nyrempet bahaya.
Bila ia banyak bergaul dengan cowok-cowok, orang bilang: mentang-mentang jadi pastor lalu anti-wanita. Mungkinkah pastor kita gay?!
Bila ia suka bergaul dengan anak-anak, orang bilang: wah baik-baik sama anak kecil biar bisa mendekati ibu dan kakaknya.
Bila ia suka bergaul dengan ibu-ibu, orang bilang: masa kecil kurang bahagia, mainnya sama ibu-ibu melulu. Masih pengen ngempeng kali!
Bila ia suka makan, orang bilang: pastor koq ngga bisa nahan lapar.
Bila ia makan terlalu sedikit, orang bilang: jadi pastor koq ngga tahu menghargai masakan umat.
Bila kotbahnya panjang, orang bilang: bikin ngantuk.
Bila kotbahnya singkat, orang bilang: kurang persiapan.
Bila ia tak pernah dipindah sejak tahbisan, orang bilang: dia memang kurang bisa dipercaya menghadap situasi dan lingkungan baru.
Bila ia dipindah, orang bilang: ada apa ya, koq disuruh pindah sama Pimpinan?
Bila ia tidak merokok, orang bilang: sudah tidak kawin, ngga punya istri, ngga merokok lagi! Mau cari apa dalam hidup ini?!
Pastor... pastor! Pantesan ngga pada mau jadi Pastor!
Pada saat Ia memasuki Yerusalem, Yesus dielu-elukan oleh banyak orang sambil berseru, Hosana! Teberkatilah yang datang atas nama Tuhan. Tetapi semangat rakyat yang meluap itu hanya sebentar saja. Dalam beberapa hari, seruan itu berubah menjadi, Salibkanlah Dia! Sang Imam Agung dipuji dan dihina; dihormati dan direndahkan; ditinggikan dan dijatuhkan! Para imam-Nya juga mengalami nasib yang sama: dicintai dan dibenci; diterima dan ditolak; diperhatikan dan diabaikan. Orang menyebutnya ”kelemahan.” Tetapi ”kelemahan” itulah yang menjadi kekuatannya, seperti kesaksian dari Rasul-Nya yang baik dan setia, Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. Hanya dengan menyatukan seluruh hidupnya dengan Kristus baru paradoks ini menjadi berarti bagi seorang imam. Jika ia hidup, Kristus akan bersamanya. Jika ia mati, ia akan bersama dengan Kristus! Alangkah indahnya panggilan seorang ”alter Christus!”
(Romo Noel SDB)
Label:
imam,
imamat,
Kamis Putih,
pastor
Subscribe to:
Posts (Atom)