Ternyata jika kita menjumlahkan harga moneter elemen-elemen dalam tubuh kita dan harga kulit manusia biasa, kita dapat keuntungan Rp 40,522. Kita bisa memerinci komposisi kimia dan mineral tubuh manusia sebagai berikut:
* 65% zat asam
* 18% zat arang
* 10% zat air
* 3% zat lemas
* 1.5% zat kapur
* 1% Fosfor
* 0.35% Kalsium
* 0.25% Belerang
* 0.15% Sodium
* 0.15% Khlor
* 0.05% Magnesium
* 0.0004% Besi
* 0.00004% Yodium
Jumlah semua kimia dan mineral ini sekitar Rp 9,005. Modal kita yang paling berharga adalah kulit kita. Berdasarkan harga penjualan kulit sapi, yaitu sekitar Rp 2,251 per kaki persegi, maka harga kulit manusia itu sekitar Rp 31,517!
Rp 40,522... ”harga penjualan” tubuh manusia itu murah banget! Benar-benar harga SALE! Tetapi syukur kepada Tuhan, penilaian-Nya tidak sama dengan penilaian dan pandangan manusia! Kita sungguh berharga di mata-Nya. Tubuh kita yang fana dan hanya empatpuluh ribuan saja ini ”ditakdirkan” menjadi mulia dan agung untuk selama-lamanya!
Dari mana kita tahu itu? Bunda Maria diangkat ke surga, JIWA dan RAGANYA. Kita percaya dan yakin akan kebangkitan badan. Untuk sementara semua saudara-saudara kita yang sudah di surga itu menikmati hidup yang kekal dengan hanya jiwa mereka. Pada Hari Kiamat, semua badan akan dibangkitkan dan akhirnya bersatu lagi dengan jiwanya, sehingga setiap kita dapat tinggal di surga, jiwa dan raganya! Sesungguhnya apa yang telah terjadi kepada Bunda Maria, manusia biasa seperti kita, akan dialami juga tiap orang yang beriman seperti dia.
Tubuh yang bisa hidup kekal abadi? Pasti harganya jauh lebih mahal daripada Rp 40,522!
Showing posts with label bunda maria. Show all posts
Showing posts with label bunda maria. Show all posts
Saturday, August 13, 2011
Tuesday, July 12, 2011
PERBEDAAN DI DALAM KELUARGA
Bacaan dari Sirakh (3:2-6, 12-14) menyimpulkan inti dari hubungan antara ayah, ibu dan anak. Penulis Kitab tersebut mengingatkan mengenai tanggungjawab anak-anak untuk menghormati orang tuanya – meskipun kadang-kadang susah. Juga ia menyebutkan dua akibat yang dijanjikan Kitab Suci bagi mereka yang menghormati orang tua. Yang pertama adalah harta, yang mungkin tidak seperti Bill Gates punya, tapi suatu kecukupan dan bahkan kelimpahan dalam hidup sehari-hari. Kedua adalah barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya. Bukankah dua hal itu yang setiap orang menginginkan? Tidak ada seorangpun yang ingin dibebani hutang, atau hidup dalam kemiskinan dan kesusahan. Dan tidak ada orang yang ingin mati dalam usia muda. Kita semua mengharapkan hidup yang panjang dan sejahtera. Nah menurut Sirakh, cara untuk memperolehnya adalah dengan menghormati dan memuliakan orang tua.
Sikap ingin menghormati dan menghargai orang tua adalah sesuatu yang ditanamkan Tuhan Allah di dalam hati manusia. Setiap kebudayaan dan tradisi mempunyai suatu cara untuk menghormati nenek moyang, terutama orang tua. Tuhan telah menanamkan sikap itu dalam hati kita karena suatu alasan. Dorongan hati seperti itu membantu untuk menjamin keluarga yang mantap – dan keluarga itu adalah tempat dimana Tuhan ingin kita belajar mencintai. Cinta itu berarti menerima dan mengasihi mereka yang berbeda.
Kita memilih teman-teman kita, tapi kita “ditempatkan” di dalam keluarga. Teman-teman itu berkumpul berdasarkan keinginan dan selera yang sama. Anggota-anggota keluarga belum tentu ada kesamaan. Saudara kakak dan adik itu adalah dua jenis mahkluk yang berbeda. Seperti anjing dan kucing, mereka biasanya tak bisa hidup akur bersama! Apalagi seorang ayah dan anak remajanya... mereka mempunyai dunia masing-masing yang luar biasa berbeda! Keluargalah yang menyatukan individu-individu yang berbeda ini. Cinta kasih yang membuat keluarga itu tetap satu dalam keanekaragaman.
Keluarga yang anggota-anggotanya paling berbeda adalah Keluarga Kudus. Perbedaan di antara Yesus dan Bunda-Nya itu sungguh lebih jauh daripada perbedaan antara seorang malaikat dan seekor semut! Yesus itu Allah, Maria itu mahkluk. Juga perbedaan antara Maria dan suaminya Yosep lebih besar daripada perbedaan antara dua orang biasa. Maria itu suci, dikandung tanpa noda, sedangkan Yosep, walaupun dia adalah yang terbaik di antara semua laki-laki, tetaplah orang berdosa seperti kita.
Jadi dibandingkan dengan Keluarga Kudus, perbedaan-perbedaan yang dialami keluarga kita itu sebenarnya tak seberapa. Tuhan menghendaki agar kita menggalang perbedaan-perbedaan itu ke kesatuan. Itu butuh pengorbanan – dengan kata lain, Cinta Kasih. Sungguh tidak mudah. Sesungguhnya Keluarga Kudus – Yesus, Maria dan Yosep – adalah teladan dan inspirasi bagi kita untuk saling mengasihi dan menjadi Keluarga yang sejati.
Sikap ingin menghormati dan menghargai orang tua adalah sesuatu yang ditanamkan Tuhan Allah di dalam hati manusia. Setiap kebudayaan dan tradisi mempunyai suatu cara untuk menghormati nenek moyang, terutama orang tua. Tuhan telah menanamkan sikap itu dalam hati kita karena suatu alasan. Dorongan hati seperti itu membantu untuk menjamin keluarga yang mantap – dan keluarga itu adalah tempat dimana Tuhan ingin kita belajar mencintai. Cinta itu berarti menerima dan mengasihi mereka yang berbeda.
Kita memilih teman-teman kita, tapi kita “ditempatkan” di dalam keluarga. Teman-teman itu berkumpul berdasarkan keinginan dan selera yang sama. Anggota-anggota keluarga belum tentu ada kesamaan. Saudara kakak dan adik itu adalah dua jenis mahkluk yang berbeda. Seperti anjing dan kucing, mereka biasanya tak bisa hidup akur bersama! Apalagi seorang ayah dan anak remajanya... mereka mempunyai dunia masing-masing yang luar biasa berbeda! Keluargalah yang menyatukan individu-individu yang berbeda ini. Cinta kasih yang membuat keluarga itu tetap satu dalam keanekaragaman.
Keluarga yang anggota-anggotanya paling berbeda adalah Keluarga Kudus. Perbedaan di antara Yesus dan Bunda-Nya itu sungguh lebih jauh daripada perbedaan antara seorang malaikat dan seekor semut! Yesus itu Allah, Maria itu mahkluk. Juga perbedaan antara Maria dan suaminya Yosep lebih besar daripada perbedaan antara dua orang biasa. Maria itu suci, dikandung tanpa noda, sedangkan Yosep, walaupun dia adalah yang terbaik di antara semua laki-laki, tetaplah orang berdosa seperti kita.
Jadi dibandingkan dengan Keluarga Kudus, perbedaan-perbedaan yang dialami keluarga kita itu sebenarnya tak seberapa. Tuhan menghendaki agar kita menggalang perbedaan-perbedaan itu ke kesatuan. Itu butuh pengorbanan – dengan kata lain, Cinta Kasih. Sungguh tidak mudah. Sesungguhnya Keluarga Kudus – Yesus, Maria dan Yosep – adalah teladan dan inspirasi bagi kita untuk saling mengasihi dan menjadi Keluarga yang sejati.
Monday, May 3, 2010
RAHASIA SEORANG IBU
MINGGU PASKAH IV, HARI MINGGU PANGGILAN Kis 13:14, 43-52 Wahyu 7:9, 14b-17 Yoh 10:27-30
Suatu malam, beberapa hari sebelum saya ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1989, Mama saya memanggil saya karena katanya mau kasih tahu suatu “rahasia.” Menurut pengakuannya, beberapa hari setelah saya lahir, saya mengalami suatu penyakit yang cukup parah sampai hampir meninggal. Dia telah menjadi pencinta Bunda Maria sejak masa mudanya dan kebetulan pernah menjadi anggota kelompok puteri-puteri Bunda Maria dari Lourdes. Dalam keadaan hampir putus-asa, dia hanya bisa berpasrah dan berdoa, “Ya Bunda Maria, jika anakku ini sembuh, dia adalah milikmu!” Saya sembuh… dan kemudian bertumbuh, berkembang menjadi anak yang sehat, pinter dan lucu (menurut Mama saya!) Dan ia pun sudah melupakan doanya itu… walaupun sebenarnya dia suka ingat-ingat juga, apalagi waktu saya sudah masuk seminari! Tetapi ternyata Bunda Maria tak pernah lupa. Saya beserta kawan-kawan saya menerima Sakramen Imamat persis pada Hari Raya Bunda Maria dari Lourdes, pada tanggal 11 Februari! Dan “rahasia” itu saya baru tahu pada malam Mama menceritakannya. Bunda Maria telah menerima persembahan Mama saya 29 tahun yang lalu dan sungguh menjadikan saya miliknya! Campur tangan Bunda Maria tambah makin nyata waktu saya menerima tugas pertama pada tahun itu juga, yakni sebagai Pastor Pembantu di salah satu Paroki serikat kami, Paroki Bunda Maria dari Lourdes!
Semua peristiwa yang cukup luar biasa ini saya selalu ingat dengan rasa syukur dan bahagia setiap saat merenungkan panggilan Imamat saya. Sebab memang Panggilan dan Bunda Maria itu tak terpisahkan. Saya diajarkan dan disadarkan selama masa pembinaan, dan saya sendiri sungguh percaya bahwa Panggilan itu datang kepada saya melalui Bunda Maria. Saya berasal dari keluarga yang sangat menghargai dan mencintai Bunda Maria, setia pada tradisi dan devosi seperti Doa Rosario, Doa Malaikat Tuhan, Novena dan sebagainya. Bunda Maria memperhatikan kami dan menaruh cinta kasihnya kepada kami sehingga keluarga kami dapat menerima “hadiah yang paling indah dari Tuhan” menurut St Yohanes Bosco, yaitu salah satu anak dipanggil menjadi Imam!
Hai anak muda yang membaca renungan ini, jika suatu saat kamu merasakan suatu bisikan dari Tuhan di dalam hatimu, datanglah kepada Bunda Maria… dia juga mengalami hal yang sama pada masa mudanya. Dengan pertolongan dan penyertaannya, kebimbangan dan keraguan tak mungkin tetap menimpa kamu dan semuanya akan menjadi makin jelas bagimu. Bapak-ibu yang selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak, jika suatu saat kamu merasa ada tanda-tanda dia terpanggil, berikan dukunganmu dan percayakanlah dia kepada Bunda Maria. Saya doakan semoga keluarga kamu juga mendapatkan “hadiah yang paling indah dari Tuhan.” (Romo Noel SDB)
Suatu malam, beberapa hari sebelum saya ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1989, Mama saya memanggil saya karena katanya mau kasih tahu suatu “rahasia.” Menurut pengakuannya, beberapa hari setelah saya lahir, saya mengalami suatu penyakit yang cukup parah sampai hampir meninggal. Dia telah menjadi pencinta Bunda Maria sejak masa mudanya dan kebetulan pernah menjadi anggota kelompok puteri-puteri Bunda Maria dari Lourdes. Dalam keadaan hampir putus-asa, dia hanya bisa berpasrah dan berdoa, “Ya Bunda Maria, jika anakku ini sembuh, dia adalah milikmu!” Saya sembuh… dan kemudian bertumbuh, berkembang menjadi anak yang sehat, pinter dan lucu (menurut Mama saya!) Dan ia pun sudah melupakan doanya itu… walaupun sebenarnya dia suka ingat-ingat juga, apalagi waktu saya sudah masuk seminari! Tetapi ternyata Bunda Maria tak pernah lupa. Saya beserta kawan-kawan saya menerima Sakramen Imamat persis pada Hari Raya Bunda Maria dari Lourdes, pada tanggal 11 Februari! Dan “rahasia” itu saya baru tahu pada malam Mama menceritakannya. Bunda Maria telah menerima persembahan Mama saya 29 tahun yang lalu dan sungguh menjadikan saya miliknya! Campur tangan Bunda Maria tambah makin nyata waktu saya menerima tugas pertama pada tahun itu juga, yakni sebagai Pastor Pembantu di salah satu Paroki serikat kami, Paroki Bunda Maria dari Lourdes!
Semua peristiwa yang cukup luar biasa ini saya selalu ingat dengan rasa syukur dan bahagia setiap saat merenungkan panggilan Imamat saya. Sebab memang Panggilan dan Bunda Maria itu tak terpisahkan. Saya diajarkan dan disadarkan selama masa pembinaan, dan saya sendiri sungguh percaya bahwa Panggilan itu datang kepada saya melalui Bunda Maria. Saya berasal dari keluarga yang sangat menghargai dan mencintai Bunda Maria, setia pada tradisi dan devosi seperti Doa Rosario, Doa Malaikat Tuhan, Novena dan sebagainya. Bunda Maria memperhatikan kami dan menaruh cinta kasihnya kepada kami sehingga keluarga kami dapat menerima “hadiah yang paling indah dari Tuhan” menurut St Yohanes Bosco, yaitu salah satu anak dipanggil menjadi Imam!
Hai anak muda yang membaca renungan ini, jika suatu saat kamu merasakan suatu bisikan dari Tuhan di dalam hatimu, datanglah kepada Bunda Maria… dia juga mengalami hal yang sama pada masa mudanya. Dengan pertolongan dan penyertaannya, kebimbangan dan keraguan tak mungkin tetap menimpa kamu dan semuanya akan menjadi makin jelas bagimu. Bapak-ibu yang selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak, jika suatu saat kamu merasa ada tanda-tanda dia terpanggil, berikan dukunganmu dan percayakanlah dia kepada Bunda Maria. Saya doakan semoga keluarga kamu juga mendapatkan “hadiah yang paling indah dari Tuhan.” (Romo Noel SDB)
Label:
bunda maria,
imamat,
mama,
panggilan
Subscribe to:
Posts (Atom)