MINGGU BIASA KE-XXV TH.C Amos 8:4-7 1 Timotius 2:1-7 Lukas 16:1-13
Seorang malaikat menampakkan diri di suatu pertemuan para guru sekolah dan berkata kepada Kepala Sekolahnya, “Hai hamba yang baik dan setia, aku diutus dari sorga untuk memberi kepadamu hadiah istimewa demi pelayananmu selama ini.” Kemudian sang Kepala Sekolah itu diberi tiga pilihan: harta dan uang yang berlimpah, popularitas yang luarbiasa atau kebijaksanaan yang sempurna. Tanpa ragu-ragu dia memilih hikmat dan pengertian. “Seperti halnya Raja Salomo,” dia berkata di dalam hatinya. Maka dengan sekejap malaikat melakukan sesuai dengan permintaannya itu dan ia pun menghilang. Semua guru-guru yang hadir memandang sang Kepala Sekolah yang sedang duduk di depan dan disinari dengan aura kebijaksanaan! Akhirnya salah satu guru berbisik kepadanya, “Pak, silahkan katakan sesuatu.” Sang Kepala Sekolah mengangguk dan berkata, “Harusnya saya memilih harta dan uang ya!”
Kebijaksanaan, dalam arti kelincahan atau kecerdikan, seperti yang kita lihat di dalam perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur itu, bukanlah suatu tujuan tersendiri. Orang bisa pintar tapi dia bisa menggunakan kecerdasannya itu untuk melakukan kejahatan. Misalnya banyak orang Indonesia hebat dalam bidang Kimia, Fisika atau Teknologi, dan memanfaatkannya untuk merakit bom-bom yang dipakai untuk terorisme dan membunuh banyak orang yang biasa dan tak bersalah! Manusia bisa menyalah-gunakan kecerdasannya dan menyebabkan kesedihan dan kekacauan di dunia.
Dengan perumpamaan-Nya, Yesus mengajak kita untuk menjadi cerdas dalam mencari Kerajaan Allah sama seperti orang-orang tak beriman yang lincah dalam mengejar ambisi pribadi dan mencari keuntungan duniawi. Yesus menggunakan ilustrasi seorang pengelola yang cerdik dalam perusahaan bosnya untuk mengajar kita menjadi cerdas dalam pelayanan Tuhan. Yang jelas Dia ingin kita meneladani kecerdasan bendahara itu, bukanlah ketidak-jujurannya! Bendahara yang tidak jujur itu dipuji oleh tuannya, karena ia telah bertindak dengan cerdik (Luk 16:8).
Kita dipanggil menjadi pengelola yang cerdik. Smart managers. Manager apaan? Bukankah Tuhan Allah telah menentukan Manusia sebagai pengelola segala ciptaan-Nya? "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej 1:28). Kemudian Yesus menyerahkan Kerajaan Allah – Kerajaan Cinta Kasih, Keadilan dan Kedamaian – kepada kita sebagai orang-orang yang dapat mengelolanya. Perdamaian dan kesejahteraan di dunia serta pembaharuan segalanya dalam Kristus... ini semua adalah urusan kita! Yesus menyebutnya Kerajaan Allah. “Anak-anak dunia ini” memang lincah terhadap sesamanya dan tak peduli merusak segala rencana Tuhan. Saatnya untuk kita menjadi “anak-anak terang” yang cerdik demi Kerajaan Allah! Get smart. (Romo Noel SDB)
Saturday, September 18, 2010
Saturday, August 7, 2010
LALU?
HARI MINGGU BIASA XIX TH. C Kebijaksanaan 18:6-9 Ibrani 11:1-2, 8-19 Lukas 12:35-40
“Saya punya rencana yang mantap untuk menjatuhkan manusia,” kata satu iblis kepada rekannya yang lebih senior. “Rencana saya adalah meyakinkannya bahwa Allah itu tidak ada.” Rekannya menjawab, “Itu mah lagu lama, tapi kurang efektif. Sekarang cukup bagi mahkluk itu melihat segala ciptaan di sekitar dan alam semesta dan ia pasti sadar Allah itu ada.” “Kalau begitu,” iblis yunior melanjutkan, “saya akan meyakinkannya bahwa tidak ada iblis.” “Mungkin itu lebih bagus sebagai strategi,” kata seniornya sambil menganggukkan kepala, “tapi percayalah, cukup bagi manusia itu melihat serta mengalami kejahatan sesama manusia dan pasti dia sadar akan keberadaan kita! Begini, saya kasih tahu strategi yang paling mantap...” dan para iblis yang lain pun mendekat supaya mendengarkan tips dari senior yang berpengalaman itu. “Kamu tidak perlu buang tenaga meyakinkan manusia itu bahwa tidak ada Allah atau pun iblis. Yakinkanlah dia saja bahwa ‘masih banyak waktu’ dan tak usah buru-buru!”
Jelas bahwa inilah strategi yang paling sering dipakai iblis untuk menjatuhkan manusia. Mayoritas orang masih percaya bahwa ada Allah yang Maha Pencipta; juga kebanyakan orang percaya akan iblis dan setan. Yang seringkali menjadi keberatan bagi manusia moderen adalah menerima bahwa ada hidup kekal setelah hidup duniawi! Manusia seringkali bertingkah seolah-olah masih banyak waktu, tak usah buru-buru, dan tak perlu mencemaskan kemanakah kita setelah meninggalkan dunia ini!
Maka Yesus mau merombak “kenyamanan” kita itu. Dan Dia menggunakan suatu ilustrasi yang sangat berani dan orisinil, khususnya bagi para kontemporer-Nya. Yesus menyamakan Allah itu kepada seorang Pencuri! Si perampok itu pasti selalu menunggu sampai orang-orang sedang tidak berjaga-jaga. Ia beraksi pas di tengah malam, di saat yang tidak disangkakan.
Sungguh Kristus bisa datang kapan saja. Dan bahwasanya Dia bisa datang seperti pencuri seharusnya membuat kita merenung, namun bukan dengan cemas apalagi terobsesi. Itu mengingatkan kita agar jangan sampai segala rencana kita itu berdasarkan hanya pada dunia ini saja! Seorang pemuda yang ambisius berkata kepada gurunya yang tua tapi bijaksana, “Saya ingin memperoleh banyak ilmu dan pengetahuan.” “Lalu?” sahut orang tua itu. “Lalu saya akan buka perusahaan.” “Lalu?” “Saya yakin saya akan jadi kaya-raya.” “Lalu?” “Ya jelas saya akan jadi tua juga tapi saya bisa menikmati dulu segala hasil usaha saya!” “Lalu?” “Hmm saya kira ya suatu saat saya juga akan meninggal dunia.” “Lalu?” Saat itu si pemuda tidak bisa jawab apa-apa lagi. Orang yang membuat banyak rencana berdasarkan hanya pada dunia ini saja suatu saat akan dikagetkan dengan Kematian.
Jadi merancang masa depan yang makmur dan merencanakan hari esok yang sejahtera itu boleh saja, asal jangan berdasarkan hanya pada dunia ini saja! Kita harus berani melihat lebih jauh lagi, “Lalu?” Dan seperti si pemazmur itu, Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita (Mazmur 33:20). Romo Noel SDB
“Saya punya rencana yang mantap untuk menjatuhkan manusia,” kata satu iblis kepada rekannya yang lebih senior. “Rencana saya adalah meyakinkannya bahwa Allah itu tidak ada.” Rekannya menjawab, “Itu mah lagu lama, tapi kurang efektif. Sekarang cukup bagi mahkluk itu melihat segala ciptaan di sekitar dan alam semesta dan ia pasti sadar Allah itu ada.” “Kalau begitu,” iblis yunior melanjutkan, “saya akan meyakinkannya bahwa tidak ada iblis.” “Mungkin itu lebih bagus sebagai strategi,” kata seniornya sambil menganggukkan kepala, “tapi percayalah, cukup bagi manusia itu melihat serta mengalami kejahatan sesama manusia dan pasti dia sadar akan keberadaan kita! Begini, saya kasih tahu strategi yang paling mantap...” dan para iblis yang lain pun mendekat supaya mendengarkan tips dari senior yang berpengalaman itu. “Kamu tidak perlu buang tenaga meyakinkan manusia itu bahwa tidak ada Allah atau pun iblis. Yakinkanlah dia saja bahwa ‘masih banyak waktu’ dan tak usah buru-buru!”
Jelas bahwa inilah strategi yang paling sering dipakai iblis untuk menjatuhkan manusia. Mayoritas orang masih percaya bahwa ada Allah yang Maha Pencipta; juga kebanyakan orang percaya akan iblis dan setan. Yang seringkali menjadi keberatan bagi manusia moderen adalah menerima bahwa ada hidup kekal setelah hidup duniawi! Manusia seringkali bertingkah seolah-olah masih banyak waktu, tak usah buru-buru, dan tak perlu mencemaskan kemanakah kita setelah meninggalkan dunia ini!
Maka Yesus mau merombak “kenyamanan” kita itu. Dan Dia menggunakan suatu ilustrasi yang sangat berani dan orisinil, khususnya bagi para kontemporer-Nya. Yesus menyamakan Allah itu kepada seorang Pencuri! Si perampok itu pasti selalu menunggu sampai orang-orang sedang tidak berjaga-jaga. Ia beraksi pas di tengah malam, di saat yang tidak disangkakan.
Sungguh Kristus bisa datang kapan saja. Dan bahwasanya Dia bisa datang seperti pencuri seharusnya membuat kita merenung, namun bukan dengan cemas apalagi terobsesi. Itu mengingatkan kita agar jangan sampai segala rencana kita itu berdasarkan hanya pada dunia ini saja! Seorang pemuda yang ambisius berkata kepada gurunya yang tua tapi bijaksana, “Saya ingin memperoleh banyak ilmu dan pengetahuan.” “Lalu?” sahut orang tua itu. “Lalu saya akan buka perusahaan.” “Lalu?” “Saya yakin saya akan jadi kaya-raya.” “Lalu?” “Ya jelas saya akan jadi tua juga tapi saya bisa menikmati dulu segala hasil usaha saya!” “Lalu?” “Hmm saya kira ya suatu saat saya juga akan meninggal dunia.” “Lalu?” Saat itu si pemuda tidak bisa jawab apa-apa lagi. Orang yang membuat banyak rencana berdasarkan hanya pada dunia ini saja suatu saat akan dikagetkan dengan Kematian.
Jadi merancang masa depan yang makmur dan merencanakan hari esok yang sejahtera itu boleh saja, asal jangan berdasarkan hanya pada dunia ini saja! Kita harus berani melihat lebih jauh lagi, “Lalu?” Dan seperti si pemazmur itu, Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita (Mazmur 33:20). Romo Noel SDB
Thursday, August 5, 2010
australasia
austraLasia #2686
New Pentecost in Surabaya
SURABAYA: 4 August 2010 -- "I'm proud of you!" That about sums up the feelings and sentiments of Fr Noel Villafuerte, parish priest of St. Michael, Tanjung Perak Surabaya, during the Confirmation Mass for some 47 parishioners last Sunday. St Michael's Parish, together with Blitar, in Surabaya, East Java, is the newest Salesian presence in Indonesia. On 18 April of this year, the Bishop officially installed Fr Noel as the parish priest, and St Michael's became the second Salesian parish in Indonesia, the first being S. John Bosco in Jakarta. From the solemn Mass, presided over by Bishop Vincent Sutikno, himself a son of the 49 year old parish and a self-confessed admirer of Don Bosco since childhood, to the simple but familiar reception in the parish multi-purpose hall, the well-coordinated activities went smoothly. In spite of the interrupted catechetical preparations being given by Fr Noel, as he had to be away for some 20 days to preach the annual retreat of the confreres in the Delegation of PNG-SI, the remaining three sessions of instructions were ably handled by some of the senior parish catechists.
Worth noting was the dialogue and open forum that the committee organized especially for the Bishop and the confirmands. Talk-shows in the celebrity world are the in-thing nowadays, and it was just creative of the organizers to provide this forum for the newly confirmed parishioners to ask the Bishop about "anything under the sun!", so from such topics as the practical meaning of being prophet, priest and king to even curious queries like the difference between our confirmation and the baptism of the Holy Spirit of the charismatics, the talk-show - aptly titled, An Hour With Our Bishop - indeed made the day.
New Pentecost in Surabaya
SURABAYA: 4 August 2010 -- "I'm proud of you!" That about sums up the feelings and sentiments of Fr Noel Villafuerte, parish priest of St. Michael, Tanjung Perak Surabaya, during the Confirmation Mass for some 47 parishioners last Sunday. St Michael's Parish, together with Blitar, in Surabaya, East Java, is the newest Salesian presence in Indonesia. On 18 April of this year, the Bishop officially installed Fr Noel as the parish priest, and St Michael's became the second Salesian parish in Indonesia, the first being S. John Bosco in Jakarta. From the solemn Mass, presided over by Bishop Vincent Sutikno, himself a son of the 49 year old parish and a self-confessed admirer of Don Bosco since childhood, to the simple but familiar reception in the parish multi-purpose hall, the well-coordinated activities went smoothly. In spite of the interrupted catechetical preparations being given by Fr Noel, as he had to be away for some 20 days to preach the annual retreat of the confreres in the Delegation of PNG-SI, the remaining three sessions of instructions were ably handled by some of the senior parish catechists.
Worth noting was the dialogue and open forum that the committee organized especially for the Bishop and the confirmands. Talk-shows in the celebrity world are the in-thing nowadays, and it was just creative of the organizers to provide this forum for the newly confirmed parishioners to ask the Bishop about "anything under the sun!", so from such topics as the practical meaning of being prophet, priest and king to even curious queries like the difference between our confirmation and the baptism of the Holy Spirit of the charismatics, the talk-show - aptly titled, An Hour With Our Bishop - indeed made the day.
Tuesday, August 3, 2010
MENJADI KAYA
MINGGU BIASA KE-XVIII TH. C Pengkotbah 1:2, 2:21-23 Kolose 3:1-5, 9-11 Lukas 12:13-21
Saya pernah mendapatkan sebuah kartu ucapan selamat hari ulang tahun dengan tulisan dari kitab Mazmur 90:12, “Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.” Memang kalau saja kita menyadari setiap saat bahwa kapan-kapan kita harus meninggalkan dunia ini, dan bahwa ini bukanlah rumah kita yang sebenarnya, maka seperti si Pengkotbah itu, kita juga akan semakin yakin, Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
Ayat tadi itu menyimpulkan tema bacaan-bacaan Minggu ini. Kesia-siaan dan kepura-puraan... itulah inti dari kehidupan sebenarnya. Mengetahui banyak hal, memiliki banyak harta, menjadi orang yang baik dan hebat... sesungguhnya tak ada faedahnya bagi manusia. Waktu dan kehidupan itu tetaplah berjalan, baik kita ada disini maupun kita tak ada lagi. Kesia-siaan itu bagaikan asap atau angin – menghilang begitu saja. Tak ada sesuatu pun sesungguhnya yang berharga atau penting. Orang bisa berusaha keras seumur hidupnya tapi setelah dia mati, semua hasil dan keuntungan bisa saja dinikmati orang lain yang sama sekali tidak pantas mendapatkannya.
Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Dengan kata lain, “Kamu tidak bisa membawa apapun dengan kamu!” Ada seorang kaya-raya yang sungguh memahami kebenaran itu sehingga pada usia tuanya, sebelum ia meninggal, dia berpesan kepada anak-anak serta keluarganya, “Nanti saya ingin peti jenazah saya ada lubang di sebelah kanan dan kiri, dan kedua tangan saya dikeluarkan!” Tentu saja keluarganya begitu kaget mendengarkan permintaan yang aneh itu, maka ia menjelaskan, “Saya ingin supaya semua orang yang datang ke upacara pemakaman melihat bahwa saya yang begitu kaya selama saya hidup di dunia ini ternyata meninggalkannya dengan tangan kosong! Saya tidak bisa membawa apapun.”
Kamu tidak bisa membawa apapun dengan kamu, kecuali apa yang kamu telah rela bagikan. Injil Santo Lukas menekankan betapa pentingnya memilih yang terbaik, seperti Maria memilih untuk duduk di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya sedangkan Martha memilih untuk sibuk melayani. Jadi ini bukan sekedar soal bahayanya harta duniawi melainkan bagaimana orang dapat memilih antara menjadi kaya di hadapan dunia atau menjadi kaya di hadapan Tuhan. Kita semua mempunyai harta yang kita hargai, entah berdasarkan perasaan, nilai materi atau pun sejarah. Masalahnya adalah bukan apa yang kita miliki, melainkan apa yang memiliki kita.
Orang bodoh di dalam perumpamaan Yesus merasa dirinya puas dan sukses, seolah-olah semuanya itu dari usaha tangannya sendiri, padahal panenan berlimpah itu adalah dari tanah. Dia sedang bersiap-siap untuk menikmati hidup yang santai dan makmur. Mungkin dia berpikir, tetangga-tetangganya akan lebih respek padanya, karena ekspansi bisnisnya luarbiasa dan nomor rekeningnya terus bertambah. Sampai dia lupa tentang kerapuhan hidupnya. Sepertinya dia bukan orang yang suka berbagi, apalagi memberi, maka jelaslah dia tidak bisa membawa apa-apa. Yang penting bagi orang ini adalah dirinya sendiri dan kenyamanannya. Perumpamaan ini tidak menceriterakan apakah orang bodoh itu kemudian ke surga atau ke neraka. Tujuannya ialah untuk mengingatkan kita bahwa hidup ini pendek dan rapuh, sehingga menjadi kaya pun itu adalah sia-sia bila kita tidak kaya di mata Tuhan.
Saya pernah mendapatkan sebuah kartu ucapan selamat hari ulang tahun dengan tulisan dari kitab Mazmur 90:12, “Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.” Memang kalau saja kita menyadari setiap saat bahwa kapan-kapan kita harus meninggalkan dunia ini, dan bahwa ini bukanlah rumah kita yang sebenarnya, maka seperti si Pengkotbah itu, kita juga akan semakin yakin, Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
Ayat tadi itu menyimpulkan tema bacaan-bacaan Minggu ini. Kesia-siaan dan kepura-puraan... itulah inti dari kehidupan sebenarnya. Mengetahui banyak hal, memiliki banyak harta, menjadi orang yang baik dan hebat... sesungguhnya tak ada faedahnya bagi manusia. Waktu dan kehidupan itu tetaplah berjalan, baik kita ada disini maupun kita tak ada lagi. Kesia-siaan itu bagaikan asap atau angin – menghilang begitu saja. Tak ada sesuatu pun sesungguhnya yang berharga atau penting. Orang bisa berusaha keras seumur hidupnya tapi setelah dia mati, semua hasil dan keuntungan bisa saja dinikmati orang lain yang sama sekali tidak pantas mendapatkannya.
Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Dengan kata lain, “Kamu tidak bisa membawa apapun dengan kamu!” Ada seorang kaya-raya yang sungguh memahami kebenaran itu sehingga pada usia tuanya, sebelum ia meninggal, dia berpesan kepada anak-anak serta keluarganya, “Nanti saya ingin peti jenazah saya ada lubang di sebelah kanan dan kiri, dan kedua tangan saya dikeluarkan!” Tentu saja keluarganya begitu kaget mendengarkan permintaan yang aneh itu, maka ia menjelaskan, “Saya ingin supaya semua orang yang datang ke upacara pemakaman melihat bahwa saya yang begitu kaya selama saya hidup di dunia ini ternyata meninggalkannya dengan tangan kosong! Saya tidak bisa membawa apapun.”
Kamu tidak bisa membawa apapun dengan kamu, kecuali apa yang kamu telah rela bagikan. Injil Santo Lukas menekankan betapa pentingnya memilih yang terbaik, seperti Maria memilih untuk duduk di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya sedangkan Martha memilih untuk sibuk melayani. Jadi ini bukan sekedar soal bahayanya harta duniawi melainkan bagaimana orang dapat memilih antara menjadi kaya di hadapan dunia atau menjadi kaya di hadapan Tuhan. Kita semua mempunyai harta yang kita hargai, entah berdasarkan perasaan, nilai materi atau pun sejarah. Masalahnya adalah bukan apa yang kita miliki, melainkan apa yang memiliki kita.
Orang bodoh di dalam perumpamaan Yesus merasa dirinya puas dan sukses, seolah-olah semuanya itu dari usaha tangannya sendiri, padahal panenan berlimpah itu adalah dari tanah. Dia sedang bersiap-siap untuk menikmati hidup yang santai dan makmur. Mungkin dia berpikir, tetangga-tetangganya akan lebih respek padanya, karena ekspansi bisnisnya luarbiasa dan nomor rekeningnya terus bertambah. Sampai dia lupa tentang kerapuhan hidupnya. Sepertinya dia bukan orang yang suka berbagi, apalagi memberi, maka jelaslah dia tidak bisa membawa apa-apa. Yang penting bagi orang ini adalah dirinya sendiri dan kenyamanannya. Perumpamaan ini tidak menceriterakan apakah orang bodoh itu kemudian ke surga atau ke neraka. Tujuannya ialah untuk mengingatkan kita bahwa hidup ini pendek dan rapuh, sehingga menjadi kaya pun itu adalah sia-sia bila kita tidak kaya di mata Tuhan.
Wednesday, July 21, 2010
MARTA VERSUS MARIA
MINGGU BIASA XVI TH C Kejadian 18:1-10 Kolose 1:24-28 Lukas 10:38-42
Seorang pastor menceriterakan pengalamannya saat membantu di paroki kampungnya saat dia sedang berlibur. Pastor Paroki di tempat mempunyai hanya satu permintaan dari padanya: tolong kotbah saat Misa singkat saja dan jangan panjang-panjang, sebab umat tidak punya banyak waktu! Maka dia selalu berusaha supaya homilinya tak pernah melebihi 10 menit. Tapi begitu kagetnya pada suatu saat diadakan di gereja paroki tersebut sebuah konser rohani. Setelah hampir tiga jam, umat dan para penonton masih belum puas dan bahkan meminta tambah lagi! Dia belum pernah melihat umat gereja itu begitu senang dan bersemangat seperti pada saat itu. Beberapa hari kemudian dia bertanya kepada Pastor Parokinya, “Mengapa umat kita bisa duduk diam untuk tiga jam lebih sambil menikmati konser rohani tapi mereka tidak bisa tahan jika mendengarkan Sabda Tuhan di dalam Misa?” Tak ada jawaban.
Kita mesti punya pengalaman pribadi dan personal dengan Tuhan dalam hidup kita, baru kita bisa mendengarkan Sabda-Nya dengan sukacita. Mewartakan Sabda Tuhan kepada orang-orang yang tidak mengenal-Nya secara pribadi dan tidak mempunyai hubungan yang personal dengan-Nya itu sama dengan membacakan puisi kepada orang yang tidak tahu apa-apa tentang puisi. Pasti mereka gampang jadi bosan dan ingin cepat-cepat pulang! Bagaimana caranya agar orang yang suka bosan dengan Sabda Tuhan itu bisa berubah menjadi senang dan bersemangat mendengarkan-Nya?
Kita bisa belajar dari pengalaman Marta dan Maria. Walaupun di dalam injil, yang disebut menerima Yesus hanyalah Marta, Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya, jelas bahwa Maria, saudarinya, pasti senang juga menyambut-Nya. Namun sikap mereka setelah itu berbeda, Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Marta memilih untuk berdiri melayani para tamu; Maria memilih untuk duduk mendengarkan Yesus. Marta kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara; Maria tenang dan memfokuskan perhatian hanya kepada Yesus. Marta memilih apa yang menurut dia perlu; Maria memilih apa yang menurut Yesus satu saja yang perlu!
Yesus selalu mau dan senang datang kepada kita. Tapi tidak cukup menyambut dan menerima-Nya saja. Kita harus mau memilih untuk menemani-Nya dan duduk di kaki-Nya. Itu berarti hubungan yang pribadi dan personal dengan-Nya. Memang injil ini bukan soal “Marta versus Maria!” Kita tidak mau pusing dengan memikirkan, “Siapa yang lebih dekat dengan Yesus?” Dan dari cara Yesus menegur Marta, kita bisa membayangkan-Nya tersenyum penuh sayang sambil menyebut namanya dua kali, Marta, Marta.... Tapi jelas dua teman Yesus ini telah membuat pilihan masing-masing. Kelihatannya Yesus senang dengan pilihan Maria. Maria pun tidak menyesal, bahkan dia senang dan bersemangat mendengarkan Sabda Tuhan.
(Romo Noel SDB)
Seorang pastor menceriterakan pengalamannya saat membantu di paroki kampungnya saat dia sedang berlibur. Pastor Paroki di tempat mempunyai hanya satu permintaan dari padanya: tolong kotbah saat Misa singkat saja dan jangan panjang-panjang, sebab umat tidak punya banyak waktu! Maka dia selalu berusaha supaya homilinya tak pernah melebihi 10 menit. Tapi begitu kagetnya pada suatu saat diadakan di gereja paroki tersebut sebuah konser rohani. Setelah hampir tiga jam, umat dan para penonton masih belum puas dan bahkan meminta tambah lagi! Dia belum pernah melihat umat gereja itu begitu senang dan bersemangat seperti pada saat itu. Beberapa hari kemudian dia bertanya kepada Pastor Parokinya, “Mengapa umat kita bisa duduk diam untuk tiga jam lebih sambil menikmati konser rohani tapi mereka tidak bisa tahan jika mendengarkan Sabda Tuhan di dalam Misa?” Tak ada jawaban.
Kita mesti punya pengalaman pribadi dan personal dengan Tuhan dalam hidup kita, baru kita bisa mendengarkan Sabda-Nya dengan sukacita. Mewartakan Sabda Tuhan kepada orang-orang yang tidak mengenal-Nya secara pribadi dan tidak mempunyai hubungan yang personal dengan-Nya itu sama dengan membacakan puisi kepada orang yang tidak tahu apa-apa tentang puisi. Pasti mereka gampang jadi bosan dan ingin cepat-cepat pulang! Bagaimana caranya agar orang yang suka bosan dengan Sabda Tuhan itu bisa berubah menjadi senang dan bersemangat mendengarkan-Nya?
Kita bisa belajar dari pengalaman Marta dan Maria. Walaupun di dalam injil, yang disebut menerima Yesus hanyalah Marta, Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya, jelas bahwa Maria, saudarinya, pasti senang juga menyambut-Nya. Namun sikap mereka setelah itu berbeda, Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Marta memilih untuk berdiri melayani para tamu; Maria memilih untuk duduk mendengarkan Yesus. Marta kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara; Maria tenang dan memfokuskan perhatian hanya kepada Yesus. Marta memilih apa yang menurut dia perlu; Maria memilih apa yang menurut Yesus satu saja yang perlu!
Yesus selalu mau dan senang datang kepada kita. Tapi tidak cukup menyambut dan menerima-Nya saja. Kita harus mau memilih untuk menemani-Nya dan duduk di kaki-Nya. Itu berarti hubungan yang pribadi dan personal dengan-Nya. Memang injil ini bukan soal “Marta versus Maria!” Kita tidak mau pusing dengan memikirkan, “Siapa yang lebih dekat dengan Yesus?” Dan dari cara Yesus menegur Marta, kita bisa membayangkan-Nya tersenyum penuh sayang sambil menyebut namanya dua kali, Marta, Marta.... Tapi jelas dua teman Yesus ini telah membuat pilihan masing-masing. Kelihatannya Yesus senang dengan pilihan Maria. Maria pun tidak menyesal, bahkan dia senang dan bersemangat mendengarkan Sabda Tuhan.
(Romo Noel SDB)
Sunday, July 11, 2010
ORANG YANG BAIK DAN ORANG SAMARIA YANG BAIK
MINGGU BIASA XV TH. C Ulangan 30:10-14 Kol 1:15-20 Lukas 10:25-37
Siapa itu “orang yang baik?” Ia adalah orang yang biasanya mengaku dirinya tidak ber-agama, dan sering kelihatan sepertinya lebih “Katolik” daripada mereka yang mengaku sebagai Katolik! Walaupun dia mengaku sebagai ateis, dia kelihatan lebih perhatian terhadap sesama, dan sepertinya lebih jujur dan adil daripada mereka yang aktif di gereja.
“Orang yang baik” itu bisa saja sadar akan kelebihannya itu dan berkata, “Saya tidak perlu ke gereja koq untuk berbuat yang benar. Saya tahu banyak orang itu yang rajin ke gereja munafik semua!” Pernah ngga dengar orang omong begitu? Mungkin saja orang seperti itu ada juga di dalam keluarga kita sendiri! Bagaimana kita harus menanggapi mereka?
Kepada orang yang berkata, “Saya tidak perlu ke gereja untuk berbuat yang benar,” kita dapat menjawab, “Kami juga!” Sebab setiap manusia, tanpa terkecuali dan secara alami, sejak penciptaan, mempunyai suatu pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan. Musa mengatakan di dalam Bacaan Pertama, firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, dan Santo Paulus mengingatkan kita bahwa Perintah Allah itu ada tertulis di dalam hati manusia (Roma 2:15). Jadi bukan sesuatu yang mengagetkan bila “orang yang baik” itu tidak percaya akan Tuhan namun tahu berbuat yang benar. Seperti “orang yang baik,” kita juga tahu Hukum Tuhan yang ada di dalam hati kita dan setiap manusia. Namun kita tahu sesuatu hal lagi. Kita mengetahui bahwa kita sering gagal dan bahkan suka melawan Hukum Tuhan itu! Dan meskipun barangkali dia tidak mau langsung mengakuinya, si “orang yang baik” itu juga sering gagal. Seperti kita, barangkali dia juga pernah melakukan hal-hal yang bikin sesal dan malu.
Tapi kita datang ke Gereja bukan karena kita mau merayakan kebaikan kita, melainkan karena kebaikan Seorang yang sungguh baik! Hari ini kita mendengarkan tentang seorang tokoh di dalam perumpamaan Yesus yang memenuhi Perintah Cinta Kasih secara luar biasa. Dia disebut “Orang Samaria yang Baik.” Siapa dia sebenarnya? Orang-orang Kristiani yang pertama menganggap Orang Samaria yang Baik itu adalah Yesus Sendiri. Dia memperlihatkan Belas Kasih yang sempurna.
Kitalah orang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Penyamun-penyamun itu adalah iblis dan godaan-godaan di dunia ini. Yesus – Orang Samaria yang Baik – memperhatikan kita. Dia membalut luka-luka kita dan membawa kita ke tempat penginapan, Gereja-Nya. Dia memberi “dua dinar” kepada pemilik penginapan, yakni dua Perintah Utama: Cinta Kasih kepada Allah dan kepada sesama.
Siapa di antara kita yang tidak mempunyai luka sama sekali? Kita datang ke Gereja bukan untuk membanggakan betapa “baik”-nya kita, melainkan agar supaya luka-luka kita itu dibalut dan diobati oleh Orang Samaria yang Baik. Kita butuh disembuhkan dan dipulihkan. Hanya dengan demikian – dan hanya pada saat itulah – kita dapat berbagi belas kasih yang mendalam. Oleh karena itu setelah kita dijamah, Yesus berkata juga kepada kita, Pergilah, dan perbuatlah demikian!
(Romo Noel SDB)
Siapa itu “orang yang baik?” Ia adalah orang yang biasanya mengaku dirinya tidak ber-agama, dan sering kelihatan sepertinya lebih “Katolik” daripada mereka yang mengaku sebagai Katolik! Walaupun dia mengaku sebagai ateis, dia kelihatan lebih perhatian terhadap sesama, dan sepertinya lebih jujur dan adil daripada mereka yang aktif di gereja.
“Orang yang baik” itu bisa saja sadar akan kelebihannya itu dan berkata, “Saya tidak perlu ke gereja koq untuk berbuat yang benar. Saya tahu banyak orang itu yang rajin ke gereja munafik semua!” Pernah ngga dengar orang omong begitu? Mungkin saja orang seperti itu ada juga di dalam keluarga kita sendiri! Bagaimana kita harus menanggapi mereka?
Kepada orang yang berkata, “Saya tidak perlu ke gereja untuk berbuat yang benar,” kita dapat menjawab, “Kami juga!” Sebab setiap manusia, tanpa terkecuali dan secara alami, sejak penciptaan, mempunyai suatu pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan. Musa mengatakan di dalam Bacaan Pertama, firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, dan Santo Paulus mengingatkan kita bahwa Perintah Allah itu ada tertulis di dalam hati manusia (Roma 2:15). Jadi bukan sesuatu yang mengagetkan bila “orang yang baik” itu tidak percaya akan Tuhan namun tahu berbuat yang benar. Seperti “orang yang baik,” kita juga tahu Hukum Tuhan yang ada di dalam hati kita dan setiap manusia. Namun kita tahu sesuatu hal lagi. Kita mengetahui bahwa kita sering gagal dan bahkan suka melawan Hukum Tuhan itu! Dan meskipun barangkali dia tidak mau langsung mengakuinya, si “orang yang baik” itu juga sering gagal. Seperti kita, barangkali dia juga pernah melakukan hal-hal yang bikin sesal dan malu.
Tapi kita datang ke Gereja bukan karena kita mau merayakan kebaikan kita, melainkan karena kebaikan Seorang yang sungguh baik! Hari ini kita mendengarkan tentang seorang tokoh di dalam perumpamaan Yesus yang memenuhi Perintah Cinta Kasih secara luar biasa. Dia disebut “Orang Samaria yang Baik.” Siapa dia sebenarnya? Orang-orang Kristiani yang pertama menganggap Orang Samaria yang Baik itu adalah Yesus Sendiri. Dia memperlihatkan Belas Kasih yang sempurna.
Kitalah orang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Penyamun-penyamun itu adalah iblis dan godaan-godaan di dunia ini. Yesus – Orang Samaria yang Baik – memperhatikan kita. Dia membalut luka-luka kita dan membawa kita ke tempat penginapan, Gereja-Nya. Dia memberi “dua dinar” kepada pemilik penginapan, yakni dua Perintah Utama: Cinta Kasih kepada Allah dan kepada sesama.
Siapa di antara kita yang tidak mempunyai luka sama sekali? Kita datang ke Gereja bukan untuk membanggakan betapa “baik”-nya kita, melainkan agar supaya luka-luka kita itu dibalut dan diobati oleh Orang Samaria yang Baik. Kita butuh disembuhkan dan dipulihkan. Hanya dengan demikian – dan hanya pada saat itulah – kita dapat berbagi belas kasih yang mendalam. Oleh karena itu setelah kita dijamah, Yesus berkata juga kepada kita, Pergilah, dan perbuatlah demikian!
(Romo Noel SDB)
Wednesday, June 16, 2010
“PETERPORN”
MINGGU BIASA XI TH.C 2 Samuel 12:7-10, 13 Galatia 2:16, 19-21 Lukas 7:36--8:3
Beberapa hari belakangan ini, kita dibombardir berita fakta dan gosip tentang beberapa selebriti yang terlibat dalam video porno. Cukup menarik memperhatikan bagaimana masyarakat dan kita bereaksi. Kaget. Marah. Jijik. Muak. Namun banyak orang juga yang sedih dan kecewa bahwa artis kesayangan dan idola mereka koq bisa “begitu!” Kita suka lupa bahwa orang-orang yang kita angkat tinggi-tinggi itu adalah tetap manusia yang lemah dan berdosa.
Saya mengikuti gosip tersebut sedikit (terpaksa, abis ada dimana-mana!) dan saya mendengar bahwa seorang dokter psikolog menyatakan pihak pria itu kemungkinan mempunyai kelainan. Kelainan itu dalam arti memanfaatkan ketenarannya sebagai selebriti yang dikagumi begitu banyak penggemar supaya “menaklukkan” sebanyak mungkin wanita dan gadis, kalau bisa dengan dokumentasi!
Penyalahgunaan kekuasaan dan penyalahgunaan seksualitas bukanlah sesuatu yang baru. Di dalam bacaan pertama, itulah yang membawa Raja Daud ke dosanya yang sangat besar, perzinahan dan pembunuhan. Di dalam injil, orang-orang yang tidak bisa menerima sikap toleransi Yesus terhadap wanita yang berdosa itu kemungkinan besar pernah menjadi langganannya juga! Dan mereka pun sebenarnya melakukannya bukan untuk sekedar hiburan seksual. Para psikolog mengatakan bahwa kaum pria pada umumnya cenderung bermasalah dengan Kekuasaan. Kita mudah terpancing untuk mendominasi, tapi kita sering ragu-ragu sampai mana batas kekuasaan kita itu. Rasa kurang puas inilah yang mendorong kita untuk menguasai keraguan itu dengan mendominasi secara seksual. Sesungguhnya kita kaum laki-laki bermasalah dengan kompleks kurang hargadiri, termasuk secara seksual. Perasaan rendah diri itu menuntut suatu pengganti atau kompensasi. Salah satu cara adalah merendahkan orang lain dan meremehkan mereka dengan menyalahgunakan kekuasaan seksualitas.
Di dalam Injil, Lukas menyebut nama beberapa wanita yang merupakan teman-teman dekat dan murid-murid Kristus... dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Pada zaman Yesus, hak dan kekuasaan kaum wanita itu sangat terbatas. Yesus mengundang, menyambut dan memberdayakan mereka dengan menerima dan menanggapi mereka secara terbuka. Di dalam Kerajaan yang Yesus promosikan, Wanita itu diberdayakan untuk melahirkan-Nya, mendampingi-Nya dalam pelayanan dan menjadi pewarta Kabar Baik Kebangkitan-Nya! Akhirnya mereka itu melihat di dalam Diri Orang Suci ini suatu Kekuasaan yang digunakan - tidak disalahgunakan.
Bukanlah sesuatu yang dibesar-besarkan kalau dikatakan bahwa dimana respek pada kaum wanita dan perempuan itu menghilang, disana imoralitas dan pelanggaran susila meningkat. Yesus selalu adalah teladan sempurna dan patokan sejati bagaimana kita mestinya menghormati dan bahkan meninggikan mereka yang telah melahirkan kita.
(Romo Noel SDB)
Beberapa hari belakangan ini, kita dibombardir berita fakta dan gosip tentang beberapa selebriti yang terlibat dalam video porno. Cukup menarik memperhatikan bagaimana masyarakat dan kita bereaksi. Kaget. Marah. Jijik. Muak. Namun banyak orang juga yang sedih dan kecewa bahwa artis kesayangan dan idola mereka koq bisa “begitu!” Kita suka lupa bahwa orang-orang yang kita angkat tinggi-tinggi itu adalah tetap manusia yang lemah dan berdosa.
Saya mengikuti gosip tersebut sedikit (terpaksa, abis ada dimana-mana!) dan saya mendengar bahwa seorang dokter psikolog menyatakan pihak pria itu kemungkinan mempunyai kelainan. Kelainan itu dalam arti memanfaatkan ketenarannya sebagai selebriti yang dikagumi begitu banyak penggemar supaya “menaklukkan” sebanyak mungkin wanita dan gadis, kalau bisa dengan dokumentasi!
Penyalahgunaan kekuasaan dan penyalahgunaan seksualitas bukanlah sesuatu yang baru. Di dalam bacaan pertama, itulah yang membawa Raja Daud ke dosanya yang sangat besar, perzinahan dan pembunuhan. Di dalam injil, orang-orang yang tidak bisa menerima sikap toleransi Yesus terhadap wanita yang berdosa itu kemungkinan besar pernah menjadi langganannya juga! Dan mereka pun sebenarnya melakukannya bukan untuk sekedar hiburan seksual. Para psikolog mengatakan bahwa kaum pria pada umumnya cenderung bermasalah dengan Kekuasaan. Kita mudah terpancing untuk mendominasi, tapi kita sering ragu-ragu sampai mana batas kekuasaan kita itu. Rasa kurang puas inilah yang mendorong kita untuk menguasai keraguan itu dengan mendominasi secara seksual. Sesungguhnya kita kaum laki-laki bermasalah dengan kompleks kurang hargadiri, termasuk secara seksual. Perasaan rendah diri itu menuntut suatu pengganti atau kompensasi. Salah satu cara adalah merendahkan orang lain dan meremehkan mereka dengan menyalahgunakan kekuasaan seksualitas.
Di dalam Injil, Lukas menyebut nama beberapa wanita yang merupakan teman-teman dekat dan murid-murid Kristus... dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Pada zaman Yesus, hak dan kekuasaan kaum wanita itu sangat terbatas. Yesus mengundang, menyambut dan memberdayakan mereka dengan menerima dan menanggapi mereka secara terbuka. Di dalam Kerajaan yang Yesus promosikan, Wanita itu diberdayakan untuk melahirkan-Nya, mendampingi-Nya dalam pelayanan dan menjadi pewarta Kabar Baik Kebangkitan-Nya! Akhirnya mereka itu melihat di dalam Diri Orang Suci ini suatu Kekuasaan yang digunakan - tidak disalahgunakan.
Bukanlah sesuatu yang dibesar-besarkan kalau dikatakan bahwa dimana respek pada kaum wanita dan perempuan itu menghilang, disana imoralitas dan pelanggaran susila meningkat. Yesus selalu adalah teladan sempurna dan patokan sejati bagaimana kita mestinya menghormati dan bahkan meninggikan mereka yang telah melahirkan kita.
(Romo Noel SDB)
Subscribe to:
Posts (Atom)