MINGGU ADVEN II TH. A Yesaya 11:1-10 Roma 15:4-9 Matius 3:1-12
Pada suatu liburan saya mengunjungi saudara saya. Di rumahnya saya berjumpa dengan anaknya, keponakan saya yang berumur 14 tahun, sedang duduk di ruangan, sebuah buku di tangan dan sepasang headset menempel di kupingnya. “Hai, lagi ngapain?” saya menyapanya. “Hai uncle, saya lagi belajar nih, ada ulangan besok,” sahutnya! Saya hanya bisa berpikir di dalam hati, zaman memang sudah berubah... dulu kalau kita mau belajar kita mencari waktu dan tempat yang hening; sekarang anak-anak tidak bisa belajar tanpa musik yang main di belakang!
Pada Minggu kedua Adven ini, Tuhan mengajak kita ke suatu tempat yang istimewa: ke padang gurun. Orang-orang pergi ke padang gurun untuk mendengarkan Yohanes Pembaptis. Tuhan ingin agar kita juga ke padang gurun. Bukan yang di Yudea, tetapi yang lebih dekat lagi: padang gurun dalam hati manusia. Padang gurun itu adalah suatu tempat yang bebas dari segala gangguan, suatu tempat dimana orang bisa bersendirian dengan Tuhan. Kata lain untuk padang gurun adalah “keheningan.” Dalam keheningan kita akan berjumpa dengan Tuhan, dan dengan menemukan-Nya, kita akan menemukan diri kita sendiri.
Keheningan... tanpa gangguan sama sekali... itu sangat “mahal” zaman ini dan tidak mudah untuk ditemukan. Kita dikelilingi oleh keberisikan – terutama segala info-media dan periklanan yang senantiasa menarik perhatian kita! Masa liburan Natal seperti ini biasanya berisik bukan main! Sri Paus Benediktus sendiri pernah berkata “Kita tidak bisa mendengar Tuhan lagi – terlalu banyak bunyi dan gelombang memenuhi telinga kita!”
Masalahnya, kita tidak hanya dikelilingi keberisikkan – justru kita mencarinya! Kitalah yang memilih untuk menghibur diri dengan menghidupkan TV, menonton film DVD, membuka internet atau memasang headset MP3 player ke kuping kita. Berjalannya waktu tak terasa lagi jika kita sibuk dengan sesuatu yang sungguh menghibur kita. Ironisnya, apabila kita mencoba untuk berdoa, lima menit itu sudah seperti lima jam! Kita mulai memikirkan sesuatu yang sebenarnya telah kita lupa untuk lakukan. Pada hal tak pernah kepikir saat kita asyik main internet, tapi tiba-tiba menjadi sesuatu yang mendesak dan tak bisa diabaikan lagi! Tidak mudah itu pergi ke padang gurun. Saya sendiri tahu dan mengalaminya. Ada sesuatu disana yang membuat kita takut untuk masuk dalam keheningan.
Satu alasan kita menghindarinya adalah kita tidak mau manghadapi keadaan kita yang sebenarnya. Bukan hanya kekurangan dan keterbatasan kita sebagai manusia biasa, tetapi suatu hal lain lagi. Ada sesuatu di dalam diri kita yang tidak beres. Kita telah mengambil jalan yang salah dan kita sesat. Ujung-ujungnya... DOSA. Oleh karena itu, kepada orang-orang itu yang pergi ke padang gurun, kata pertama yang diucapkan Yohanes Pembaptis adalah, Bertobatlah! Kata itu berarti, “Rombaklah mentalitasmu; pakailah pola pikiran yang baru.”
Tidaklah mudah merubah pola pikiran. Itu berarti siap merubah pola hidup! Kita mulai dengan pertama-tama berani pergi ke padang gurun. Carilah waktu pada Masa Adven ini untuk hening sejenak di tengah-tengah keramaian dan keberisikan. Itu dapat membuat kita sadar akan kedosaan kita – dan bagaimana dosa itu telah memisahkan kita dari Tuhan. Keheningan. Kedosaan. Pertobatan. Kedatangan Tuhan dalam hati kita. Itu baru Adven! (Romo Noel SDB )
Monday, December 6, 2010
Monday, November 29, 2010
Sunday, November 28, 2010
KEHENINGAN YANG MEMBANGUNKAN
MINGGU ADVEN I TH. A Yesaya 2:1-5 Roma 13:11-14a Matius 24:37-44
Saya pernah dengar sebuah kesaksian dari seorang pemudi, Crystalina, yang mengalami pertobatan sejati dengan meninggalkan hidup yang lama dan kembali kepada Kristus. Di saat remaja, hobi dan kesukaannya adalah berpesta. Nah pesta disini yang bermaksud music, food and fun. No problemo. Masalahnya adalah kadang-kadang yang namanya pesta itu bisa kehilangan kendali. Ada saat-saat Crystalina pulang dari pesta merasa sedih, hampa, dimanfaatkan – bahkan kotor! Pada suatu saat, setelah salah satu pesta, dia tidak langsung pulang. Entah bagaimana, dia tiba-tiba ingin mampir ke gereja, dan dalam kesunyian dan keheningan itulah, Tuhan berbicara kepadanya. Dia mengambil keputusan untuk merubah gaya hidupnya.
Kemudian dia melakukan sesuatu yang agak aneh. Dia menulis surat kepada calon suaminya. Sesuatu yang aneh memang karena pada saat itu, dia belum berpacaran secara serius, apalagi bertunangan! Walaupun Crystalina belum mengetahui siapakah yang akan menjadi suaminya nanti, dia yakin bahwa – setelah Tuhan – pria itu akan menjadi orang yang paling penting dalam hidupnya! Kemudian ia mulai berdoa untuk dia, terutama di dalam Misa. Ia mulai mengikuti Misa harian dan bahkan ia dapat mengikuti sekitar seribu kali Misa dengan intensi mendoakan calon suaminya! Waktu ia berumur 24tahun, ia berkenalan dengan seorang pemuda, Jason Evert. Mereka jatuh cinta dan pada saat tunangan mereka, Crystalina menceritakan pada Jason soal seribu Misa itu. Pada saat itu Jason dapat mengerti dari manakah rahmat yang telah memeliharanya sehingga dia sanggup menghadapi tiap godaan selama itu. Jason dan Crystalina akhirnya menikah dan mempunyai beberapa anak. Mereka menjadi full-time dalam pelayanan, khususnya dengan memberi ceramah dan kesaksian kepada anak-anak muda tentang kesucian dan kemurnian.
Crystalina berjumpa dengan Yesus di saat hening. Yesus berbicara kepadanya dalam kesunyian di gereja itu. Pada Masa Adven ini sangat pentinglah kita menemukan waktu untuk hening. Kita tahu bagaimana masa persiapan ini cenderung menjadi saat-saat yang paling sibuk! Begitu banyak gangguan dan godaan dari iklan-iklan yang mengajak kita untuk beli ini-itu. Dunia ini sudah begitu berisik sehingga kita tidak bisa dengar Tuhan! Satu trick yang saya belajar sebagai seorang guru untuk menarik perhatian murid-murid yang sedang asyik berisik dan ngobrol adalah diam sejenak. Anak-anak tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan mereka kembali tenang. Keheningan itu telah “membangunkan” mereka! Sesuatu yang sama seperti itu harus terjadi kepada kita pada Masa Adven ini.
Kita butuh keheningan untuk bangun, dan berhenti berjalan dalam tidur. Kita butuh keheningan, terutama kesunyian di hadapan Sakramen Mahakudus; disitulah kita dapat berjumpa dengan Tuhan, bukan dalam pesta pora dan kemabukan... percabulan dan hawa nafsu... atau perselisihan dan iri hati.
(Romo Noel SDB)
Saya pernah dengar sebuah kesaksian dari seorang pemudi, Crystalina, yang mengalami pertobatan sejati dengan meninggalkan hidup yang lama dan kembali kepada Kristus. Di saat remaja, hobi dan kesukaannya adalah berpesta. Nah pesta disini yang bermaksud music, food and fun. No problemo. Masalahnya adalah kadang-kadang yang namanya pesta itu bisa kehilangan kendali. Ada saat-saat Crystalina pulang dari pesta merasa sedih, hampa, dimanfaatkan – bahkan kotor! Pada suatu saat, setelah salah satu pesta, dia tidak langsung pulang. Entah bagaimana, dia tiba-tiba ingin mampir ke gereja, dan dalam kesunyian dan keheningan itulah, Tuhan berbicara kepadanya. Dia mengambil keputusan untuk merubah gaya hidupnya.
Kemudian dia melakukan sesuatu yang agak aneh. Dia menulis surat kepada calon suaminya. Sesuatu yang aneh memang karena pada saat itu, dia belum berpacaran secara serius, apalagi bertunangan! Walaupun Crystalina belum mengetahui siapakah yang akan menjadi suaminya nanti, dia yakin bahwa – setelah Tuhan – pria itu akan menjadi orang yang paling penting dalam hidupnya! Kemudian ia mulai berdoa untuk dia, terutama di dalam Misa. Ia mulai mengikuti Misa harian dan bahkan ia dapat mengikuti sekitar seribu kali Misa dengan intensi mendoakan calon suaminya! Waktu ia berumur 24tahun, ia berkenalan dengan seorang pemuda, Jason Evert. Mereka jatuh cinta dan pada saat tunangan mereka, Crystalina menceritakan pada Jason soal seribu Misa itu. Pada saat itu Jason dapat mengerti dari manakah rahmat yang telah memeliharanya sehingga dia sanggup menghadapi tiap godaan selama itu. Jason dan Crystalina akhirnya menikah dan mempunyai beberapa anak. Mereka menjadi full-time dalam pelayanan, khususnya dengan memberi ceramah dan kesaksian kepada anak-anak muda tentang kesucian dan kemurnian.
Crystalina berjumpa dengan Yesus di saat hening. Yesus berbicara kepadanya dalam kesunyian di gereja itu. Pada Masa Adven ini sangat pentinglah kita menemukan waktu untuk hening. Kita tahu bagaimana masa persiapan ini cenderung menjadi saat-saat yang paling sibuk! Begitu banyak gangguan dan godaan dari iklan-iklan yang mengajak kita untuk beli ini-itu. Dunia ini sudah begitu berisik sehingga kita tidak bisa dengar Tuhan! Satu trick yang saya belajar sebagai seorang guru untuk menarik perhatian murid-murid yang sedang asyik berisik dan ngobrol adalah diam sejenak. Anak-anak tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan mereka kembali tenang. Keheningan itu telah “membangunkan” mereka! Sesuatu yang sama seperti itu harus terjadi kepada kita pada Masa Adven ini.
Kita butuh keheningan untuk bangun, dan berhenti berjalan dalam tidur. Kita butuh keheningan, terutama kesunyian di hadapan Sakramen Mahakudus; disitulah kita dapat berjumpa dengan Tuhan, bukan dalam pesta pora dan kemabukan... percabulan dan hawa nafsu... atau perselisihan dan iri hati.
(Romo Noel SDB)
Tuesday, November 23, 2010
Read the Pope's Condom Comments
Bishop Urges Faithful to Go to the Source, Not to Trust the Media
The bishop of Fargo is encouraging the faithful to not trust the media to interpret the words of Benedict XVI for them, and to read for themselves what the Pope has to say about condoms.
Bishop Samuel Aquila made these statements today in response to the flurry of reports over the weekend that suggested the Holy Father approved the use of condoms in some cases.
L'Osservatore Romano, the Vatican's semi-official newspaper, spurred the media activity Saturday when it published several excerpts from the book-interview with Benedict XVI titled "Light of the World," which is scheduled to be released Tuesday by Ignatius Press.
At the end of the tenth chapter of the book, the writer, German journalist Peter Seewald, asked the Pontiff two questions on the fight against AIDS and the use of condoms. Seewald referenced the Holy Father's comments on this topic while aboard the papal plane on the way to Cameroon and Angola in March, 2009.
To the charge that it's "madness to forbid a high-risk population to use condoms," Benedict XVI replied: "There may be a basis in the case of some individuals, as perhaps when a male prostitute uses a condom, where this can be a first step in the direction of a moralization, a first assumption of responsibility, on the way toward recovering an awareness that not everything is allowed and that one cannot do whatever one wants. But it is not really the way to deal with the evil of HIV infection. That can really lie only in a humanization of sexuality."
Seewald then asked the Pontiff, "Are you saying, then, that the Catholic Church is actually not opposed in principle to the use of condoms?"
The Holy Father replied, "She of course does not regard it as a real or moral solution, but, in this or that case, there can be nonetheless, in the intention of reducing the risk of infection, a first step in a movement toward a different way, a more human way, of living sexuality."
Bishop Aquila noted that the Church "has always celebrated the truth and beauty of human sexuality," and that an "unchanging part of that celebration throughout history is the Church's teaching that sexual expression must be open to life [... and] that sexual union within a marriage is between one man and one woman."
"Despite recent news articles which falsely construe the words of Benedict XVI to suggest otherwise," he added, "that teaching has not changed in any way."
No shift
"At issue here are the words of Pope Benedict XVI regarding condom use," the bishop continued. "The news stories and some of the comments solicited from the public would interpret his words as proclaiming a shift in the Catholic Church's teaching on condom use, and contraception in general. [...]
"This conclusion is incorrect as can be easily seen by examining the actual text from the book. The Holy Father is not condoning the use of condoms, but making an observation regarding the awakening of a sense of responsibility in the people who are caught up in the habitual sin of prostitution.
"He does not offer a new moral evaluation of the use of condoms, neither in principle nor practically in this circumstance, but is merely describing a psychological development as one, even in the grip of sin, can begin to acknowledge the safety and human dignity of another."
Bishop Aquila then urged the faithful and "all people of good will to
read the entire book."
"Do not depend on the media for your understanding of what Benedict XVI states," he said, "rather go to the source in order to find truth and not someone's misunderstanding and false interpretation of what was actually stated."
FARGO, North Dakota, NOV. 22, 2010 (Zenit.org)
The bishop of Fargo is encouraging the faithful to not trust the media to interpret the words of Benedict XVI for them, and to read for themselves what the Pope has to say about condoms.
Bishop Samuel Aquila made these statements today in response to the flurry of reports over the weekend that suggested the Holy Father approved the use of condoms in some cases.
L'Osservatore Romano, the Vatican's semi-official newspaper, spurred the media activity Saturday when it published several excerpts from the book-interview with Benedict XVI titled "Light of the World," which is scheduled to be released Tuesday by Ignatius Press.
At the end of the tenth chapter of the book, the writer, German journalist Peter Seewald, asked the Pontiff two questions on the fight against AIDS and the use of condoms. Seewald referenced the Holy Father's comments on this topic while aboard the papal plane on the way to Cameroon and Angola in March, 2009.
To the charge that it's "madness to forbid a high-risk population to use condoms," Benedict XVI replied: "There may be a basis in the case of some individuals, as perhaps when a male prostitute uses a condom, where this can be a first step in the direction of a moralization, a first assumption of responsibility, on the way toward recovering an awareness that not everything is allowed and that one cannot do whatever one wants. But it is not really the way to deal with the evil of HIV infection. That can really lie only in a humanization of sexuality."
Seewald then asked the Pontiff, "Are you saying, then, that the Catholic Church is actually not opposed in principle to the use of condoms?"
The Holy Father replied, "She of course does not regard it as a real or moral solution, but, in this or that case, there can be nonetheless, in the intention of reducing the risk of infection, a first step in a movement toward a different way, a more human way, of living sexuality."
Bishop Aquila noted that the Church "has always celebrated the truth and beauty of human sexuality," and that an "unchanging part of that celebration throughout history is the Church's teaching that sexual expression must be open to life [... and] that sexual union within a marriage is between one man and one woman."
"Despite recent news articles which falsely construe the words of Benedict XVI to suggest otherwise," he added, "that teaching has not changed in any way."
No shift
"At issue here are the words of Pope Benedict XVI regarding condom use," the bishop continued. "The news stories and some of the comments solicited from the public would interpret his words as proclaiming a shift in the Catholic Church's teaching on condom use, and contraception in general. [...]
"This conclusion is incorrect as can be easily seen by examining the actual text from the book. The Holy Father is not condoning the use of condoms, but making an observation regarding the awakening of a sense of responsibility in the people who are caught up in the habitual sin of prostitution.
"He does not offer a new moral evaluation of the use of condoms, neither in principle nor practically in this circumstance, but is merely describing a psychological development as one, even in the grip of sin, can begin to acknowledge the safety and human dignity of another."
Bishop Aquila then urged the faithful and "all people of good will to
read the entire book."
"Do not depend on the media for your understanding of what Benedict XVI states," he said, "rather go to the source in order to find truth and not someone's misunderstanding and false interpretation of what was actually stated."
FARGO, North Dakota, NOV. 22, 2010 (Zenit.org)
Saturday, November 6, 2010
Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub
MINGGU BIASA KE-XXXII TH.C 2Mak 7:1-2, 9-14 2Tes 2:16-3:5 Lukas 20:27-38
Sekali lagi Yesus dihadapkan pada suatu masalah yang sepertinya tak ada solusi. Suatu kelompok Yahudi yang radikal, yakni orang-orang Saduki, datang kepada Yesus, sebenarnya bukan untuk membicarakan soal pernikahan, tetapi untuk mengemukakan keyakinan mereka yang bertantangan dengan ajaran Yesus mengenai kebangkitan dan hidup yang kekal. Mereka mengutip Nabi Musa untuk memperkuat posisi mereka melawan Yesus. Tapi Yesus menanggapi mereka dengan mengingatkan bahwa dalam perjumpaan itu dengan semak duri, Musa telah menyebut “Ya Allah,” yakni Allah dari tiga orang yang merupakan fondasi dari sejarah Israel, Abraham, Ishak dan Yakub. Allah itu bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup (Luk 20:38). Kita bisa menaruh kepercayaan penuh kepada Allah sebab Dia bukan hanya Allah yang hidup tetapi juga Allah yang peduli dan bertindak.
Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Sesungguhnya kata-kata itu memberi suatu wawasan yang begitu indah dan berdaya mengenai Allah. Dia bukanlah abstrak atau mujarad, seperti awan-gemawan mengambang di langit! Bukan, Allah peduli pada kita manusia dan sungguh terlibat dalam sejarah kita. Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Itulah dasar utama dari harapan kita akan suatu Hidup di masa depan.
Seharusnya kenyataan ini dapat meneguhkan kepercayaan dan keyakinan kita di dalam segala kegagalan dan keputus-asaan yang sering kita alami. Waktu Columbus menyeberangi Samudera Atlantik, awak kapalnya sudah mau menyerah dan siap untuk balik! Pagi-pagi, mereka mendengar suatu seruan yang merubah segalanya, “Tanah! Tanah!” Apabila kita mau menyerah saja karena merasa gagal dan tidak sanggup lagi, kita perlu berseru pada satu sama lain dan pada hati kita, “Surga! Surga!” Tidak lama lagi. Maka setiap pencobaan atau pengorbanan pun menjadi sesuatu yang kecil!
Ada orang yang menganggap sikap ini seperti sifat mengalah, yaitu daripada berusaha untuk memperbaiki situasi di dunia ini, orang menghabiskan waktu dan menghibur diri dengan memikirkan tentang surga! Tapi kalau kita melihat sejarah, sebenarnya mereka yang memikirkan hidup surgawi itu biasanya juga adalah mereka yang melakukan banyak kebaikan terhadap sesama manusia di dunia ini. Sebut saja Fransiskus dari Asisi, Vinsensius A Paolo, Don Bosco, Mother Theresa, Sri Paus Yohanes Paulus II dan masih banyak lagi. Dimana-mana, rumah sakit, sekolah dan lembaga-lembaga yang paling menolong begitu banyak orang itu adalah mereka yang didirikan oleh orang-orang yang hidup sehari-hari berpengharapan pada hidup yang kekal.
Kita bisa percaya kepada Allah sebab Dia adalah Allah yang hidup, yang bertindak dan peduli dengan setiap kita. Dialah Allah Abraham, Ishak dan Yakub... dan kita.
(Romo Noel SDB)
Sekali lagi Yesus dihadapkan pada suatu masalah yang sepertinya tak ada solusi. Suatu kelompok Yahudi yang radikal, yakni orang-orang Saduki, datang kepada Yesus, sebenarnya bukan untuk membicarakan soal pernikahan, tetapi untuk mengemukakan keyakinan mereka yang bertantangan dengan ajaran Yesus mengenai kebangkitan dan hidup yang kekal. Mereka mengutip Nabi Musa untuk memperkuat posisi mereka melawan Yesus. Tapi Yesus menanggapi mereka dengan mengingatkan bahwa dalam perjumpaan itu dengan semak duri, Musa telah menyebut “Ya Allah,” yakni Allah dari tiga orang yang merupakan fondasi dari sejarah Israel, Abraham, Ishak dan Yakub. Allah itu bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup (Luk 20:38). Kita bisa menaruh kepercayaan penuh kepada Allah sebab Dia bukan hanya Allah yang hidup tetapi juga Allah yang peduli dan bertindak.
Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Sesungguhnya kata-kata itu memberi suatu wawasan yang begitu indah dan berdaya mengenai Allah. Dia bukanlah abstrak atau mujarad, seperti awan-gemawan mengambang di langit! Bukan, Allah peduli pada kita manusia dan sungguh terlibat dalam sejarah kita. Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Itulah dasar utama dari harapan kita akan suatu Hidup di masa depan.
Seharusnya kenyataan ini dapat meneguhkan kepercayaan dan keyakinan kita di dalam segala kegagalan dan keputus-asaan yang sering kita alami. Waktu Columbus menyeberangi Samudera Atlantik, awak kapalnya sudah mau menyerah dan siap untuk balik! Pagi-pagi, mereka mendengar suatu seruan yang merubah segalanya, “Tanah! Tanah!” Apabila kita mau menyerah saja karena merasa gagal dan tidak sanggup lagi, kita perlu berseru pada satu sama lain dan pada hati kita, “Surga! Surga!” Tidak lama lagi. Maka setiap pencobaan atau pengorbanan pun menjadi sesuatu yang kecil!
Ada orang yang menganggap sikap ini seperti sifat mengalah, yaitu daripada berusaha untuk memperbaiki situasi di dunia ini, orang menghabiskan waktu dan menghibur diri dengan memikirkan tentang surga! Tapi kalau kita melihat sejarah, sebenarnya mereka yang memikirkan hidup surgawi itu biasanya juga adalah mereka yang melakukan banyak kebaikan terhadap sesama manusia di dunia ini. Sebut saja Fransiskus dari Asisi, Vinsensius A Paolo, Don Bosco, Mother Theresa, Sri Paus Yohanes Paulus II dan masih banyak lagi. Dimana-mana, rumah sakit, sekolah dan lembaga-lembaga yang paling menolong begitu banyak orang itu adalah mereka yang didirikan oleh orang-orang yang hidup sehari-hari berpengharapan pada hidup yang kekal.
Kita bisa percaya kepada Allah sebab Dia adalah Allah yang hidup, yang bertindak dan peduli dengan setiap kita. Dialah Allah Abraham, Ishak dan Yakub... dan kita.
(Romo Noel SDB)
Sunday, October 10, 2010
TERIMA KASIH
MINGGU BIASA KE-XXVIII TH.C 2 Kings 5:14-17 2 Timothy 2:8-13 Luke 17:11-19
Ada seorang yang datang ke restoran. Waktu dia sudah duduk, seorang mendekatinya dan mohon izin kalau dia bisa duduk di meja yang sama, karena tempat lumayan penuh. Sebelum orang yang tadi itu menyantap makanannya, dia bertanda-salib dan berdoa seperti yang sudah menjadi kebiasaannya. Setelah itu orang yang baru datang tadi bertanya, “Kamu sakit kepala?” “Oh tidak,” sahutnya. Orang itu bertanya lagi, “Ada masalah dengan makanan?” Dia menjawab, “Tidak, saya hanya mau bersyukur kepada Tuhan sebelum makan.” “Oh gitu,” jawab orang itu, “kalau saya sih ngga merasa harus begitu. Saya yang setengah mati bekerja keras untuk mendapatkan harta saya, dan saya tidak merasa harus berterima kasih kepada siapapun kalau saya mau makan! Ya saya langsung makan aja!” Dia pun kaget mendapat jawaban, “Oh kamu seperti anjing piaraan saya. Sikapnya persis sama seperti itu!”
Sepertinya banyak orang sikapnya persis seperti seekor anjing. Orang-orang seperti itu menganggap segala hasil yang mereka dapatkan dari kerja kerasnya itu adalah hak mereka, maka mereka merasa tidak harus berterima kasih kepada siapapun, termasuk Tuhan! Mereka lupa bahwa segala yang baik yang datang kepada kita itu semuanya adalah berkat kebaikan Tuhan! Pikirkanlah saja. Apakah yang telah seorang lakukan agar layak dilahirkan hidup, sementara ada yang dilahirkan mati atau digugurkan? Apakah yang telah kita lakukan untuk mendapatkan orang tua yang baik sedangkan ada yang tidak pernah mengenal orang tuanya? Apakah yang telah kita lakukan sehingga kita dilahirkan normal, sementara kita tahu ada yang dilahirkan cacat, tanpa tangan, tanpa kaki, buta, bisu dan sebagainya? Mungkinkah kita bisa membeli bakat dan talenta, kecerdasan dan kepintaran yang telah kita terima dari Tuhan? Betapa sering kita mengabaikan kebaikan Tuhan! Kita telah menjadi begitu biasa sering menerima berkat Tuhan sehingga kita lupa bersyukur dan berterima kasih!
Di dalam Injil, Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta. Hanya satu yang kembali untuk berterima kasih. Yang sembilan lain pada kemana? Saya mau berkhayal mereka itu omong apa sambil berjalan:
“Sebaiknya kita tunggu dulu dan pastikan penyembuhan ini beneran atau hanya sementara.”
“Masih banyak kesempatan nanti koq untuk ketemu Yesus lagi.”
“Tahu ngga, jangan-jangan itu sebenarnya bukan penyakit kusta loh.”
“Saya sih ngga pernah ragukan bahwa suatu saat kita pasti sembuh!”
“Tuh kan apa yang sudah saya katakan, yang penting pikir positif lah, pasti sembuh!”
“Yesus itu sebenarnya tidak berbuat apa-apa yang istimewa kan? Yang lain pasti bisa juga!”
“Nah kita sudah ok nih, apakah kita masih butuh Dia?”
“Kata Yesus kan kita harus pergi ke imam, hayo kita kesitu dulu baru kita kembali kepada-Nya.”
“Wah sudah sembuh nih! Berpesta yuk! Yang penting hepi!”
Ternyata dasar dari sikap tidak tahu berterima kasih itu adalah kesombongan dan egoisme. Saking kita mengandalkan diri sendiri sehingga kita tidak merasa lagi perlu uluran tangan siapapun, baik sesama manusia maupun Tuhan! Dalam pengalaman Yesus, dari sepuluh orang yang memperoleh penyembuhan, hanya satu orang yang kembali berterima kasih. Hanya sepuluh persen! Sesungguhnya di dunia ini ada dua macam orang, yang tahu berterima kasih dan yang tidak tahu. Kamu termasuk yang mana?
(Romo Noel SDB)
Ada seorang yang datang ke restoran. Waktu dia sudah duduk, seorang mendekatinya dan mohon izin kalau dia bisa duduk di meja yang sama, karena tempat lumayan penuh. Sebelum orang yang tadi itu menyantap makanannya, dia bertanda-salib dan berdoa seperti yang sudah menjadi kebiasaannya. Setelah itu orang yang baru datang tadi bertanya, “Kamu sakit kepala?” “Oh tidak,” sahutnya. Orang itu bertanya lagi, “Ada masalah dengan makanan?” Dia menjawab, “Tidak, saya hanya mau bersyukur kepada Tuhan sebelum makan.” “Oh gitu,” jawab orang itu, “kalau saya sih ngga merasa harus begitu. Saya yang setengah mati bekerja keras untuk mendapatkan harta saya, dan saya tidak merasa harus berterima kasih kepada siapapun kalau saya mau makan! Ya saya langsung makan aja!” Dia pun kaget mendapat jawaban, “Oh kamu seperti anjing piaraan saya. Sikapnya persis sama seperti itu!”
Sepertinya banyak orang sikapnya persis seperti seekor anjing. Orang-orang seperti itu menganggap segala hasil yang mereka dapatkan dari kerja kerasnya itu adalah hak mereka, maka mereka merasa tidak harus berterima kasih kepada siapapun, termasuk Tuhan! Mereka lupa bahwa segala yang baik yang datang kepada kita itu semuanya adalah berkat kebaikan Tuhan! Pikirkanlah saja. Apakah yang telah seorang lakukan agar layak dilahirkan hidup, sementara ada yang dilahirkan mati atau digugurkan? Apakah yang telah kita lakukan untuk mendapatkan orang tua yang baik sedangkan ada yang tidak pernah mengenal orang tuanya? Apakah yang telah kita lakukan sehingga kita dilahirkan normal, sementara kita tahu ada yang dilahirkan cacat, tanpa tangan, tanpa kaki, buta, bisu dan sebagainya? Mungkinkah kita bisa membeli bakat dan talenta, kecerdasan dan kepintaran yang telah kita terima dari Tuhan? Betapa sering kita mengabaikan kebaikan Tuhan! Kita telah menjadi begitu biasa sering menerima berkat Tuhan sehingga kita lupa bersyukur dan berterima kasih!
Di dalam Injil, Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta. Hanya satu yang kembali untuk berterima kasih. Yang sembilan lain pada kemana? Saya mau berkhayal mereka itu omong apa sambil berjalan:
“Sebaiknya kita tunggu dulu dan pastikan penyembuhan ini beneran atau hanya sementara.”
“Masih banyak kesempatan nanti koq untuk ketemu Yesus lagi.”
“Tahu ngga, jangan-jangan itu sebenarnya bukan penyakit kusta loh.”
“Saya sih ngga pernah ragukan bahwa suatu saat kita pasti sembuh!”
“Tuh kan apa yang sudah saya katakan, yang penting pikir positif lah, pasti sembuh!”
“Yesus itu sebenarnya tidak berbuat apa-apa yang istimewa kan? Yang lain pasti bisa juga!”
“Nah kita sudah ok nih, apakah kita masih butuh Dia?”
“Kata Yesus kan kita harus pergi ke imam, hayo kita kesitu dulu baru kita kembali kepada-Nya.”
“Wah sudah sembuh nih! Berpesta yuk! Yang penting hepi!”
Ternyata dasar dari sikap tidak tahu berterima kasih itu adalah kesombongan dan egoisme. Saking kita mengandalkan diri sendiri sehingga kita tidak merasa lagi perlu uluran tangan siapapun, baik sesama manusia maupun Tuhan! Dalam pengalaman Yesus, dari sepuluh orang yang memperoleh penyembuhan, hanya satu orang yang kembali berterima kasih. Hanya sepuluh persen! Sesungguhnya di dunia ini ada dua macam orang, yang tahu berterima kasih dan yang tidak tahu. Kamu termasuk yang mana?
(Romo Noel SDB)
Monday, October 4, 2010
austraLasia #2725
25 years in Indonesia, celebrated with Mass, Music and an Autobiography
JAKARTA: 4 October 2010 -- ITM Indonesia closed its 25th year celebrations with a three-fold event. A solemn Mass to thank God for 25 fruitful years, a book to record a majority of those years and a musical drama to sing of the possibilities to come.
Although the visit of the Rector Major to Jakarta was the main event to mark the 25 years of the Salesians in Indonesia, There were other events awaiting.
October 1: a musical drama was presented by the youth of the St John Bosco parish in Jakarta, accompanied by the Parish Youth Orchestra. The 50 boys and girls sang and danced short anecdotes in the lives of Don Bosco, Dominic Savio and Michael Magone. It was presented in the Indonesian Language with the title: "Untuk Mu Segalanya" (Everything For You).
October 2: Saturday was the peak of the festivities with a solemn Mass celebrated by Fr Jose Carbonell, SDB and homily preached by the Superior of the Vice Province, Fr Joao Aparicio Guterres, SDB. All the five communities (Sunter, Tigaraksa, Sumba, Surabaya and Blitar) were represented and they participated in the launching of the autobiography of Fr Carbonell, depicting the 25 years of Salesian pioneering work in Indonesia. This book in the Indonesian language, was compiled by Mr. Laurence Suryanata, a Salesian Cooperator.
JAKARTA: 4 October 2010 -- ITM Indonesia closed its 25th year celebrations with a three-fold event. A solemn Mass to thank God for 25 fruitful years, a book to record a majority of those years and a musical drama to sing of the possibilities to come.
Although the visit of the Rector Major to Jakarta was the main event to mark the 25 years of the Salesians in Indonesia, There were other events awaiting.
October 1: a musical drama was presented by the youth of the St John Bosco parish in Jakarta, accompanied by the Parish Youth Orchestra. The 50 boys and girls sang and danced short anecdotes in the lives of Don Bosco, Dominic Savio and Michael Magone. It was presented in the Indonesian Language with the title: "Untuk Mu Segalanya" (Everything For You).
October 2: Saturday was the peak of the festivities with a solemn Mass celebrated by Fr Jose Carbonell, SDB and homily preached by the Superior of the Vice Province, Fr Joao Aparicio Guterres, SDB. All the five communities (Sunter, Tigaraksa, Sumba, Surabaya and Blitar) were represented and they participated in the launching of the autobiography of Fr Carbonell, depicting the 25 years of Salesian pioneering work in Indonesia. This book in the Indonesian language, was compiled by Mr. Laurence Suryanata, a Salesian Cooperator.
Subscribe to:
Posts (Atom)