Wednesday, October 5, 2011

Matius 20:1-16

Bayangkan bahwa kita meninggal dunia dan kita masuk surga – disitu kita sedang mengurus taman bunga di depan rumah kita di Jalan Raya Hidup Kekal dan tiba-tiba kita melihat di seberang jalan Pak Batibot, yang terkenal tak pernah ke gereja, punya beberapa isteri muda dan wanita simpanan, tukang korupsi dan kolusi dan tak pernah membayar pajak sampai dia mengalami serangan jantung untuk kedua kalinya dan dia bertobat dan kembali ke jalan yang benar namun hanya untuk sekitar setahun saja, dia meninggal setelah serangan jantung yang ketiga kalinya. Kemudian kita berpikir di dalam hati kita, “Astaga,” (kan di surga ngga boleh bicara tidak sopan) “bagaimana mungkin dia itu bisa dapat rumah disini persis di jalan yang sama dengan saya? Aku kan ke gereja tiap minggu bahkan pada hari biasa juga. Aku selalu taat kepada Sepuluh Perintah Allah yang aku hafal sejak Komuni Pertamaku. Aku tak pernah menipu isteri dan keluargaku seumur hidupku. Bagaimana mungkin dia ada disini bersama dengan aku? Apakah yang aku dapat dengan menjadi patuh dan setia terus?” Jawaban pada pertanyaan ini tercantum secara cerdik di dalam perumpamaan Yesus tadi. Yang kita dapat ialah sukacita dan kebanggaan bahwa KITA DAPAT PERGI DAN BEKERJA DI KEBUN ANGGUR PAGI-PAGI! Inilah anugerah yang mengagumkan – Bonus besar! Karena bisa datang ke Kebun Anggur pagi-pagi, maka kita dapat menikmati relasi dekat dengan Tuhan SEKARANG INI JUGA sebelum kita meninggal. Kita sudah dapat Surga di bumi!

Tapi apakah kita sungguh-sungguh melihat Hidup Kristiani dan Kekatolikan kita, seperti pergi ke gereja tiap minggu, menerima sakramen-sakramen, terlibat dalam pelayanan dan berbagai kegiatan di dalam gereja dan mentaati Perintah Allah itu sudah sebagai Hadiah sendiri – ataukah kita melihat Hidup kita itu, seperti para pekerja di kebun anggur yang datang pagi-pagi, sebagai pekerjaan berat sepanjang hari yang harus dibalas secara adil dengan upah yang sepadan? Jika kita menjadikan Hidup Kristiani dan Kekatolikan kita semata-mata kegiatan-kegiatan dan pekerjaan-pekerjaan yang harus diupah nanti, kita akan selalu tak bahagia, merasa dibebani dan selalu penuh rasa iri-hati seperti para pekerja yang datang ke kebun anggur duluan dan mengeluh tentang mereka yang datang belakangan.

Bekerja di Kebun Anggur itu adalah sekaligus Hadiah sendiri sebab jika kita ada di dalam Kebun, itu berarti Tuhan beserta kita. Sakramen-sakramen, pelayanan, Hidup Kristiani itu memang menuntut pengorbanan – tetapi seperti setiap pekerjaan yang luhur dan bermakna – ia juga mendatangkan kebahagiaan. Sesungguhnya itu menjadikan bumi ini seperti surga.

Tuesday, October 4, 2011

KEYAKINAN TUHAN

Pada saat Perang Korea, ada seorang Kristen dari Korea Selatan yang ditangkap orang-orang Komunis dan dihukum mati dengan regu penembak. Tetapi komandan pasukan Komunis itu yang masih muda mendengar bahwa tentara itu adalah pimpinan sebuah panti asuhan yang memperhatikan anak-anak kecil, maka dia memerintahkan agar bukan tentara itu yang dibunuh, melainkan anaknya! Kemudian anak tentara Kristen itu yang baru berumur sembilan belas tahun dibawa kepadanya dan dibunuh di depan matanya sendiri! Setelah beberapa tahun, komandan Komunis itu ditangkap oleh pasukan keamanan PBB, dibawa ke pengadilan dan dihukum-mati. Namun tentara Kristen itu memohon demi orang Komunis itu agar jangan dibunuh. Dia mengatakan bahwa Komunis itu masih muda pada saat kejadian itu dan dia tidak tahu sebenarnya apa yang dia lakukan. ”Serahkanlah dia kepada saya dan saya akan melatih dia,” katanya kepada mereka. Perminataannya itu dikabulkan dan ayah ini menerima pembunuh anaknya sendiri dan menaruh perhatian kepadanya. Oleh karena pengampunan dan kasih yang dia telah terima dan alami, anak muda yang dulunya seorang Komunis itu, bertobat dan dibaptis, dan akhirnya menjadi seorang Pendeta di gerejanya, melayani Tuhan dan sesama! Itulah kekuasaan cinta kasih yang mau memaafkan dan melupakan serta rela memberi kesempatan baru!

Anak-Ku akan mereka segani (Mat 21:37). Bukan suatu kebetulan bahwa kata-kata yang memerdekakan itu sungguh untuk kita. Tuhan mengatakan hal yang sama juga tentang kita: Anak-Ku akan mereka segani. Itu berarti bahwa apapun ketidaksetiaan kita di masa lalu, dosa-dosa kita, penolakan kita yang berkali-kali terhadap suara ”para nabi,” entah melalui hati nurani atau peristiwa-peristiwa di dalam hidup kita – Tuhan tak pernah hilang harapan untuk kita! Anak-Ku akan mereka segani. Masa lalu kita yang sudah lewat itu sungguh menjadi ”masa lalu” dan hanya itu saja! Di bawah tatapan Allah Bapa yang Mahapengasih, kita mengalami suatu ”kemerdekaan” yang luar biasa... kita bisa bangkit dan mulai lagi. Apabila Tuhan campur tangan, tak ada apapun yang dapat dianggap mustahil, tak dapat diperbaiki atau tak dapat ditebus! Meskipun seandainya suatu saat kita merasa begitu hilang harapan untuk keselamatan, Tuhan tetap mempunyai keyakinan dan optimisme yang berdasarkan cinta abadi: Anak-Ku akan mereka segani.

Tuhan pernah kecewa dua ribu tahun yang lalu karena ditolak dan bahkan dibunuh! Kini Dia menaruh harapan-Nya kepada kita sebagai Umat Pilihan-Nya dan Israel Baru: Anak-Ku akan mereka segani. Jangan sampai Dia kecewa lagi....

Monday, September 12, 2011

SEJARAH PAROKI SANTO MIKAEL SURABAYA

Pada mulanya Gereja Santo Mikael hanya sebagai salah satu stasi dari Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen. Namun karena wilayahnya cukup luas dan jumlah umat pada masa itu sudah cukup banyak, maka pada tahun 1947 (dimasa penjajahan Belanda) telah diputuskan untuk mendirikan gereja baru di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak dan memilih Santo Mikael untuk menjadi Pelindungnya. Demikianlah gereja baru ini diberi nama Gereja Santo Mikael, Tanjung Perak, Surabaya.

Romo pertama yang bertugas di Stasi Santo Mikael adalah Romo J. Holtus, CM, dengan jumlah umat sekitar 50 orang, yang sebagian besar terdiri dari orang-orang Belanda. Untuk merayakan Ekaristi Suci pada hari Minggu dan hari-hari besar Gereja, umat sementara menggunakan asrama tentara yang terletak di sudut Jalan Jakarta dan Jalan Kebalen Timur, mengingat waktu itu Stasi belum mempunyai gedung gereja.

Pada tahun 1952, Romo J. Holtus, CM diganti oleh Romo H. Kock, CM dan tempat ibadah dipindahkan ke tempat baru, yaitu sebuah gedung semi-permanen bekas gudang mesiu tentara Jepang, berukuran 30m x 8m, yang terletak di Colombo Straad atau sekarang dikenal Jalan Tanjung Sadari 47. Bangunan tersebut mampu menampung sekitar 200 orang. Dalam waktu singkat perkembangan jumlah umat cukup pesat, terutama orang-orang yang datang dari pedalaman atau luar pulau Jawa. Walaupun berkurangnya orang-orang Belanda yang sudah kembali ke negerinya cukup signifikan, bangunan sementara itu sudah tidak dapat lagi menampung jumlah umat yang beribadat.

Belum sempat memikirkan untuk membangun gedung gereja baru, pada tanggal 19 Desember 1959, seminggu sebelum Perayaan Natal, tepat pada pkl. 18.30, angin taufan yang sangat kencang sekonyong-konyong datang merobohkan dan menghancurkan seluruh gedung ibadah. Bersyukur bencana tersebut tidak menelan korban jiwa, hanya sebatas luka-luka ringan yang dialami oleh beberapa anggota koor yang saat itu sedang berlatih menyiapkan lagu-lagu untuk Perayaan Natal.

Dalam peristiwa roboh dan hancurnya bangunan tersebut, ada sebuah patung Bunda Maria tetap tegak berdiri dalam keadaan utuh di tengah reruntuhan. Sebelumnya, hosti kudus yang berada di dalam tabernakel sempat diselamatkan oleh Romo H. Kock, CM ke gereja Kelahiran Santa Perawan Maria di Kepanjen. Patung Bunda Maria tersebut saat ini diberi tempat terhormat di Pastoran Paroki Santo Mikael.

Adanya peristiwa tersebut diatas mendorong umat agar segera merencanakan dan berupaya untuk membangun gedung gereja baru. Berkat partisipasi aktif dan kerja keras dari seluruh lapisan umat, dalam waktu relatif singkat, selama kurang-lebih satu tahun, tepatnya pada tahun 1960, gereja baru sudah berdiri diatas areal tanah seluas 100m x 100m, terletak di sebelah Barat gedung ibadah yang lama, yang saat ini dikenal dengan nama Jalan Tanjung Sadari 49. Dengan berdirinya gedung gereja yang baru, maka pada tanggal 1 Januari 1961, Stasi Santo Mikael ditingkatkan statusnya menjadi Paroki Santo Mikael, Tanjung Perak, dengan Romo H. Kock, CM sebagai Romo Paroki.

Karena usia Romo H. Kock, CM yang semakin tua dan kesehatannya yang sudah menurun, maka awal tahun 1966 beliau kembali ke negeri Belanda dan untuk sementara diganti oleh Romo A.V. Rijnsoever, CM yang bertugas di Paroki Santo Mikael sekitar setengah tahun. Pertengahan tahun 1966, Romo J. Holtus, CM kembali ke Paroki Santo Mikael. Beliau adalah Romo yang sampai saat ini tercatat paling lama bertugas di Paroki Santo Mikael, empatbelas tahun! Beliau baru diganti pada tahun 1980 oleh Romo L.V. Cahyo Kusuma, CM. Tahun 1985 Romo Cahyo Kusuma, CM diganti oleh Romo Philipo Catini, CM. Tahun 1990 Romo Philipo Catini, CM dipindahkan ke Ngawi.

Sejak ditinggalkan Romo Philipo Catini, CM, Paroki Santo Mikael sempat mengalami kekosongan Pastor, yaitu mulai bulan Januari 1991 s/d April 1991. Untuk mengisi kekosongan Pastor tersebut, telah ditugaskan Romo Haryo Subiyanto, CM sebagai Romo pengganti sementara di Paroki Santo Mikael. Mulai bulan Mei 1995, Romo B. Martokusuma, CM ditempatkan sebagai Romo Paroki Santo Mikael. Menjelang akhir tahun 1998, Romo B. Martokusuma, CM digantikan oleh Romo Stanislaus O. Beda, CM sampai dengan tahun 2001.

Pada waktu Romo Stanislaus itu, terjadi pembangunan pastoran baru dan renovasi SD dan SMP Katolik Santo Mikael. Selanjutnya Romo Stanislaus digantikan oleh Romo B. Bani Suatmadji, CM sampai akhir September 2008. Pada waktu Romo Bani, telah dilakukan renovasi total terhadap bangunan gereja yang sudah berdiri sejak tahun 1960 dan juga balai pertemuan atau joglo serta gua Maria. Romo Bani adalah Romo CM yang terakhir di Paroki ini sebelum digantikan oleh Romo Diosis Placidus Kusnugroho, yang menjabat sebagai Romo Paroki sampai tahun 2010. Pada tanggal 18 April 2010, Paroki Santo Mikael secara resmi mulai dikelola oleh Serikat Salesian Don Bosco dengan Romo Noel Villafuerte SDB, seorang imam misionaris dari Philippina, sebagai Romo Paroki sampai pada saat ini.

Sunday, September 4, 2011

EMANGNYA GUE PIKIRIN

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati seorang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Siapa tahu ada makanan? Tapi dia begitu terkejut, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Si tikus itu lari kembali ke rumah pertanian sambil menjerit memberi peringatan: "Awas, teman-teman... ada perangkap tikus di dalam rumah!”

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Wah... sori ya, Mas Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku sih ngga ada masalahnya! Jadi jangan buat aku pusing." Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap tikus di dalam rumah!” "Aduh, aku sungguh menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "tapi tak ada sesuatu pun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doaku, oke!" Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. "Oh... ada perangkap tikus... jadi aku dalam bahaya besar ya?!" kata lembu itu sambil ketawa. Jadi si tikus itu pergi merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.

Malam itu juga terdengarlah suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang telah menangkap mangsanya! Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu ternyata adalah seekor ular beracun. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Suaminya bergegas membawanya ke rumah sakit. Kemudian dia kembali ke rumah dengan demam. Dan karena memang biasanya minum sup ayam segar itu baik untuk orang yang sakit demam panas, maka petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari sang ayam untuk dipotong! Namun penyakit isterinya berkelanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dan dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itu pun menyembelih kambingnya untuk memberi makan kepada para tamu itu. Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Akhirnya ia meninggal, jadi makin banyak lagi orang-orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat memberi makan para pelayat itu! Ternyata jika masing-masing hanya memikirkan diri sendiri, sebuah perangkap tikus dapat menyebabkan seluruh rumah pertanian ikut menanggung risikonya.

Kita ini adalah bangsa yg tidak mau repot, seperti dikatakan mantan Presiden kita Almarhum Gus Dur “Abdul Rahman Wahid,” segitu aja kok repot, kayak anak TK aja, emangnya gue pikirin. Mentalitas Bukan Urusanku adalah mentalitas manusia moderen yang makin canggih tapi individualistis, Live and let live. Kita pikir bahwa “hidup baik dan suci” itu berarti “menghindari perbuatan jahat.” Benar juga, tapi bukan hanya itu saja. Sebab kita bisa berdosa bukan hanya dengan perbuatan melainkan juga dengan kelalaian. Ingat Doa Tobat kita di awal Misa, “Saya mengaku... bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan KELALAIAN....” Kita berdosa apabila kita melalaikan suatu perbuatan baik yang sebenarnya kita bisa dan sempat! Misalnya kamu menyaksikan teman-kerja kamu sedang melakukan kecurangan dan kamu diam saja... kamu ikut berdosa. Kamu melihat teman-kelas kamu sedang nyontek, dan kamu tidak berbuat apa-apa... kamu ikut berdosa. Yang jelas, menyelamatkan sesama kita itu adalah tanggung-jawab kita... kita harus repot... kita harus pikirin-nya... itu urusan kita!

Makanya Yesus punya ajaran khusus tentang cara menegor seorang yang berbuat kesalahan. Itulah yang kita baru dengar di dalam Injil (Mat 18:15-29) dan didukung pesan dari Bacaan Pertama melalui pengalaman Nabi Yehezkiel (Yeh 33:7-9). Kita mempunyai tanggung-jawab terhadap sesama kita. Itu termasuk disiplin (discipline) kita sebagai pengikut (disciple) Kristus yang sejati. Tidaklah mudah menjadi pengikut Kristus. Berhadapan dengan kesalahan dan kejahatan, kita diharapkan untuk berani dan siap dianggap “beda” dan “ngga kompak” dengan yang lain! Jika kita dengan sengaja melalaikan kesempatan untuk menyelamatkan sesama yang dalam bahaya, berarti kita diam saja. Jangan sampai orang jahat jadi makin banyak gara-gara orang baik diam saja!

Saturday, August 27, 2011

MAKNA SALIB

Dari dulu saya penasaran pada saat Musa dan Elia tampak dengan Yesus di gunung Tabor, mereka itu membicarakan apa. Yang jelas mereka pasti tidak omongin cuaca! Juga mereka tidak mengatakan, “Tenang aja, semuanya akan baik-baik saja.” Sebenarnya Injil Lukas memberi petunjuk bahwa mereka berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem (Luk 9:31), yakni penderitaan dan sengsara-Nya. Dia akan ditinggalkan oleh teman-teman-Nya, Dia akan dihina, Dia akan difitnah, Dia akan disiksa dan Dia akan dibunuh secara brutal dan memalukan! Tetapi Musa dan Elia tidak mengatakan, “Jangan pergi ke Yerusalem.” Tidak, mereka mendorong-Nya supaya memeluk salib.

Sebaliknya, Petrus sungguh gagal untuk mengerti, sehingga ia menjadi batu sandungan bagi Yesus Sendiri, Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau (Mat 16:22)! Petrus meminta Yesus supaya meninggalkan jalan yang susah dan sempit dan mengambil jalan yang mudah dan lurus. Oleh karena itu, walaupun Yesus menyebutnya “Batu karang” hanya beberapa saat sebelumnya, sekarang Yesus menatap Petrus dan mengatakan kepadanya, Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia (Mat 16:23).

Beata Mother Theresa pernah mengatakan, “Begitu banyak sengsara dan penderitaan di dunia yang terbuang-buang dan disia-siakan karena manusia tidak tahu menyatukannya dengan Salib Kristus!” Dari semua Agama di dunia, hanya kitalah yang menghormati dan menyembah Seorang yang ada di Salib karena kita percaya bahwa penderitaan-Nya itu memberi arti kepada tiap beban derita kita dan wafat-Nya adalah sumber Keselamatan bagi kita semua. Keyakinan seperti itu tak mungkin dapat dipahami, apalagi diterima oleh dunia; tapi bagi seorang pengikut Kristus yang sejati, tak ada yang lebih nyata daripada prinsip-prinsip ini: “Tak ada Kematian, tak ada Kebangkitan”; “Tak ada Penderitaan, tak ada Kemuliaan”; “Tak ada Salib, tak ada Mahkota.”

Duapuluh-dua tahun yang lalu, saya dan teman-teman menerima Salib Misionaris dari Pastor Pimpinan kami. Salib biasa yang terbuat dari kayu. Saya masih menyimpannya. Ia selalu menjadi sumber kekuatan bagi saya di saat-saat yang susah.

Salah satu “penitensi favorit” saya bagi orang yang datang untuk sakramen tobat ialah: cari beberapa waktu untuk memandang salib. Apabila kamu mempunyai Salib di dalam kamar kamu, peganglah dan renungkanlah Siapa yang ada di Salib itu dan mengapa Dia ada disitu. Dan bisa juga, setelah itu peluklah Salib itu dekat-dekat di hatimu.

Dalam Salib Yesus ada penyembuhan dan kekuatan. Ada kekuasaan yang luar biasa dalam memeluk Salib. Kalau saja pasangan-pasangan suami-istri yang bermasalah mau berlutut di depan Salib, maka pertengkaran dan kesalah-pahaman tak akan sering terjadi. Kalau saja keluarga-keluarga bisa meluangkan waktu untuk berdoa bersama di depan Salib, maka setiap masalah perkawinan dan problema keluarga selalu ada jalan keluar.

Monday, August 22, 2011

IMAMAT ADALAH MISTERI

“Cinta bagai teka-teki,
Muncul dalam banyak sandi,
Cobalah artikan dengan sepenuh hati.
Bisa saja sampai mati
Kita masih terus mencari,
Menemukan arti
Cinta adalah Misteri.”


Refren dari lagu Project Pop itu merupakan salah satu sumber renungan pribadi saya saat memantau dari jauh Tahbisan Imamat rekan kami, Frater Diakon Hendrikus, di Jakarta pada hari ini 22 Agustus, Pesta Santa Perawan Maria, Ratu Semesta Alam. Cinta adalah Misteri... sama seperti Imamat... Imamat adalah Misteri.... Sebab Imamat itu berdasarkan Cinta... Cinta Tuhan kepada seorang yang Dia pilih dan urapi sebagai Imam-Nya dan Cinta orang itu yang menanggapi panggilan Tuhan dengan menyerahkan diri seutuhnya!

Peristiwa yang sangat istimewa itu mengingatkan saya akan pengalaman pribadi pada saat ditahbiskan duapuluh-dua tahun yang lalu. Jika ditanya “bagaimana rasanya” sudah menjadi imam, saya suka menjawab, “Senang sekali, seperti orang yang begitu beruntung karena mendapatkan hadiah utama di lotere!” Padahal sama sekali tak ada bandingannya antara menang lotere dan menerima Sakramen Imamat. Menang lotere itu selalu ada unsur hoki atau keberuntungan alias tak sengaja; sedangkan untuk seorang menjadi imam itu adalah seratus persen pekerjaan Tuhan dan pasti disengaja! Dengan alasan yang hanya Dia yang tahu dan dengan cara yang hanya Dia yang dapat menyusun, Tuhan memilih dan memanggil seorang dari antara umat-Nya. Orang yang terpilih itu hanya dapat bersyukur, bekerjasama dan berusaha untuk setia kepada Yang Memanggil. Dia adalah imam bukan karena dia ”beruntung,” melainkan karena dia ”terberkati.”

Imamat adalah misteri... sama seperti Cinta... dan seperti halnya dengan setiap misteri, ia bukan untuk dimengerti melainkan untuk dihayati! Orang yang terpanggil itu hanya dapat berdoa di dalam hatinya: ”Aku ini adalah imam-Mu untuk selamanya. Tangan-Mu, ya Allah-ku, akan selalu menaungiku dan tak akan pernah meninggalkanku. Apapun yang terjadi dalam hidupku mulai saat ini, jadilah ungkapan jawabanku kepada panggilan-Mu!”

Monday, August 15, 2011

Merdeka!

Pada dasarnya ada dua macam KEMERDEKAAN: KEMERDEKAAN DARI dan KEMERDEKAAN UNTUK. Indonesia merayakan KEMERDEKAAN yang mana? Kemerdekaan dari penjajahan Belanda? Pantaslah! Kemerdekaan untuk Hidup yang lebih adil, sejahtera dan aman sentosa! Sungguhkah? Setiap Perayaan HUT Kemerdekaan adalah untuk memperingati dan sekaligus menimba inspirasi dari peringatan itu. Kita mengingat serta menghormati para pahlawan dan tokoh-tokoh yang membentuk negara ini dan mereka menjadi inspirasi bagi kita supaya melanjutkan perjuangan mereka.

Ada sebuah kapal laut yang sedang berlayar dan para penumpangnya adalah dari berbagai negara. Tiba-tiba tanpa peringatan datanglah badai dan ombak-ombak besar mulai membanting-banting perahu itu! Kapten yang sudah berpengalaman menyadari bahwa mereka dalam bahaya. Oleh karena itu ia mengumumkan kepada para penumpang bahwa ia membutuhkan beberapa orang berani yang rela keluar dari kapal supaya mengurangi bebannya sebab jika tidak, mereka semua akan mati. Mereka berbisik-bisik sambil saling menunjuk satu sama lain. Kemudian ada seorang Jepang yang maju ke depan sambil berteriak “Saya bersedia!” “Wah, pahlawan,” mereka terkagum-kagum, “ini baru pahlawan hebat!” Sebelum ia melompat dari kapal ia mengangkat tangan sambil berteriak, “Banzai Nipon!” Dan iapun jatuh ke laut. Semua bertepuk-tangan dengan gembira. “Nah siapa lagi yang berani?” tanya dari Kapten. Sekarang seorang Amerika maju ke depan. Lagi mereka terkagum-kagum atas keberanian orang itu. Dia ke pinggir kapal dan sebelum melompat ia berteriak, “This is for you, America!” dan iapun jatuh ke laut. Semua berseru dan bertepuk-tangan lagi. Sebelum si Kapten bisa berbicara lagi, tiba-tiba ada seorang yang maju ke depan, “Saya rela.” “Darimana dia?” para penumpang itu saling bertanya. Indonesia! “Wah, hebat ya orang Indonesia!” Dan seperti halnya yang dilakukan dua orang sebelumnya, orang ini mengangkat kedua tangan sambil berteriak dengan suara nyaring, “Hidup Bangsa Indonesia!” Kemudian dia mendorong orang Cina ke laut!

Selama ada orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri sambil menginjak-injak martabat sesama manusia; selama ada pemimpin-pemimpin yang hanya mencari keuntungan dengan memperalatkan orang lain; selama ada gembala-gembala yang serakah sehingga meninggalkan atau bahkan menyesatkan domba-dombanya… tidak akan pernah ada Kemerdekaan Sejati di tanah ini! Setiap Perayaan HUT Kemerdekaan haruslah membuat kita semakin haus akan Kemerdekaan Sejati… Kemerdekaan dari Kejahatan, Keserakahan dan Kesombongan… dan Kemerdekaan untuk Hidup yang Adil, Sejahtera dan bebas dari Korupsi!